
Semua kejadian itu tak lepas dari pandangan Pria tua yang tak lain adalah kakek Adnan.
melihat kehancuran rumah tangga cucunya sendiri membuatnya merasa bersalah, terlebih dirinya lah yang membawa Mala petaka itu untuk keluarga sang cucu.
Andai dulu dia mencoba menerima kehadiran Hilya tanpa syarat, kejadian ini tidaklah mungkin terjadi.
Namun mau bagaimana lagi, semua telah terjadi. bahkan cucu menantu nya yang taklain memang cucunya sendiri pun kini telah mengandung.
Harapannya telah terkabulkan, Namun Pria tua itu sama sekali tak terlihat antusias. wajah keriput itu menampakkan ekspresi wajah yang penuh penyesalan bahkan kesedihan mendalam. kanapa??. apa kakek Adnan menyesal??. menyesal telah membuat pernikahan cucunya hancur??.
.
.
.
Satu Minggu berlalu, Hilya memulai hidup barunya dengan tabah dan ikhlas, sudah dua hari Hilya berada dikampung halaman Dokter Elsa, berkunjung sekalian melakukan liburan tipis-tipis.
kebetulan rumah sakit tempatnya bekerja sedang direnovasi, Hilya mendapatkan tugas kunjungan ke Rumah sakit Desa dimana Dokter Elsa tinggal, dan disinilah Hilya.
"Rumah sakit disini besar ya!! tak jauh berbeda dengan rumah'sakit' tempat kita bertugas, hanya saja disini kekurangan alat dan Dokter spesialis bedah dan THT ."
" Apa jangan-jangan kita akan ditarik tugas ke sini??".
"Sepertinya begitu, tapi semua kembali kekitanya Hil."
"Kalau itu benar, aku mau. disini tempatnya masih asri, dan di sini kan belum ada Dokter spesialis seperti kita, aku rasa aku lebih akan bekerja sepenuh hati disini."
"Ah kamu benar."
Mereka berdua melewati gang sempit.
"Yaaa kok sekarang gak bisa dilewati mobil sich?? ah padahal ini jalan pintas paling dekat."
Hilya menyerengit. "emang mau kemana sich??"
" Di ujung perumahan sini ada sebuah pasar tradisional, disana menjual berbagai macam jajanan pasar yang masih dibuat dengan cara tradisional pula. kau tau?? serabinya itu enak' meski bentuknya tak secantik yang sering kita temui di kota, tapi rasanya jauh lebih baik dari bentuk nya. karena disini masak diatas arang dan di panggang di sebuah wajan yang terbuat dari tanah liat. suamiku paling suka kue disini."
"Memangnya ini jalan satu-satunya??.
" Kenapa tak jalan kaki saja?? katanya dekat."
"Eeh' kamu tidak keberatan??".
" Kenapa harus keberatan. yuk!! aku jadi penasaran dengan rasa serabinya." ucap Hilya sambil tersenyum.
Elsa dan Hilya turun dari mobil, dan mereka melepaskan jas kebesarannya mereka. melewati jalan setapak yang cukup sepi.
" Disini dulu masih bisa dilewati mobil lho..kenapa sekarang jadi jalan sempit begini??terlalu banyak bangunan baru yang memotong badan jalan nih!!". Elsa berjalan sambil mengerutu.
Sampai dijajaran kontrakan, terdengar suara seorang pria sedang memaki-maki seorang wanita.
"Aku bilang pergi!!" tolong katakan dengan Umi aku bisa hidup sendiri!!!"
Hilya dan Elsa saling tatap.
Kenapa sepertinya suara itu terdengar familiar di telinga Hilya.
" Tapi , pak kata Umi saya harus menjaga bapak dan merawat bapak.
"Saya tidak butuh!! tolooong, saya hanya butuh waktu untuk sendiri, saya tidak mau merepotkan orang lain karena kecacatan saya ini. tolong pergi dari sini, katakan pada Umi, jika Umi terus mengirimkan suster kesini , saya akan pergi jauh dari kota ini."
Wanita yang dimaki oleh Pria itu lari berlinang air mata, melewati Hilya dan Elsa begitu saja.
Sedangkan Hilya menatap Pria berkursi roda itu dengan penasaran.
Kaki Hilya dan Elsa melangkah mendekati tubuh pria yang sedang duduk membelakanginya itu.
Mendengar suara langkah kaki mendekat pria itu berteriak kembali.
"Sudah kukatakan jangan kembali kesini, katakan pada Umi aku bisa mengurus diriku sendiri. Pria itu memutar kursi rodanya menghadap Hilya dan Elsa.
DEG.
DEG.
Jantung Hilya seolah berhenti berdetak. Hilya membeku ditempatnya. tapi satu yang membuat Hilya bingung kenapa pria itu tak mengenalinya dan kenapa pria itu menatap dirinya tanpa ekspresi . bola matanya hanya mengarah padanya, namun tak ada binar didalamnya. atau jangan-jangan buta ?