
Mereka duduk di dalam rumah dengan Umi yang menjadi pusat perhatian
Umi: Namanya Risqi anak dari Buya Hakam dan Umi Zoya, mereka hendak meminang mu malam ini Din, kamu sendiri belum memiliki pasangan bukan nak??"
Dini terseyum. " kalau menurut Umi itu yang terbaik buat Dini, aku ikut apa kata Umi ajah." jawab Dini tanpa beban.
Beda dengan Adnan yang tampak tersenyum pedih disaksikan oleh Hilya dan Anton, Anton melirik sang istri yang hanya mendapat gelengan oleh Hilya, seolah Anton menanyakan perihal Adnan yang belum mengutarakan perasaannya pada Dini.
Anton: Kalau kamu nanti merasa tidak cocok terus terang saja dek!!"
Dini: Iya A..jadi kalian tidak jadi ke Bogor?"
"Tidak". jawab mereka serempak
Umi: Nan!! kamu jemput cucu Umi ajah kalo gitu bawa kesini Umi kangen."
Dini: Iya mas' seenggaknya aku mau habisin waktu buat jagain Embul ajah, biar gak bantuin umi masak hehehehe"
Umi: hustt... gak boleh begitu!!" tegur Umi menatap putrinya. "Namanya gagah kok di pangil Embul" imbuhnya
Dini cengengesan" Abisnya baby Akbar ngemesin banget..!! pipinya kayak bakpao Mi"
Adnan terseyum mendengar Umi dan Dini begitu menyayangi putranya, bahkan sebenarnya putranya juga begitu lengket dengan Dini, andai saja Adnan mempunyai sedikit keberanian untuk mengutarakan perasaannya pada Dini, seenggaknya ditolak ataupun di terima yang penting status nya jelas.
Adnan segera berpamitan pulang untuk menjemput baby Akbar.
Anton menatap nanar punggung sahabatnya itu, saat Adnan berjalan menjauh, ingin rasanya Anton memberitahu perihal perasaan Adnan pada Dini, namun menurut Anton seharusnya Adnan sebagai Gentleman bisa lebih terhormat ketika mengungkapkan perasaan nya sendiri
Tak terasa matahari telah tergantikan oleh sinar rembulan, penantian mereka semua telah usai ketika terlihat rombongan keluarga yang akan meminang Dini
Umi Anton begitu antusias menyambut keluarga calon menantunya
Setelah pembicaraan panjang akhirnya masuklah keacara inti, keluarga dari pihak Risqi menanyakan tentang penerimaan lamaran mereka, hingga pada saat menanti jawaban dari Dini, suasana menjadi hening
Buya: Jadi bagaimana nak Dini?? apa nak dini menerima khitbah kami??"
Dini: Say........
Oek oek hik hik hik .....
ucapan Dini terpotong dengan tangisan dari baby Akbar, bayi kecil yang berada di gendongan Hilya itu seolah tau perasaan Abi nya dan seperti memberi pertanda agar Dini tidak menerima khitbah keluarga Risqi
Terlihat Dini ikut khawatir dengan keadaan baby Akbar, namun seolah tidak diambil pusing oleh keluarga dari Risqi mereka kembali menanyakan jawaban Dini.
Dan betapa sedihnya hati Adnan mendengar jawaban dari Dini, dengan mantap pujaan hatinya menerima lamaran Pria asing tersebut
Ucapan Hamdalah terdengar memenuhi ruangan, pembahasan akhir mereka adalah rencana pernikahan Dini dan Risqi yang akan di laksanakan satu bulan kedepan
Mengetahui bahwa dirinya tidak lagi memiliki peluang Adnan menghampiri Hilya untuk mengambil alih baby Akbar
Adnan: Aku pulang duluan ya Hil!! sepertinya baby Akbar ingin istirahat." Adnan memaksakan senyuman nya, yang menjadikan senyum di bibirnya terlihat aneh, "tolong sampaikan ucapan selamat dan maaf ku karena tidak bisa berpamitan pada Umi dan Dini!!"
Hilya mengelus pundak mantan suaminya, Pria yang pernah bertahta di hatinya, Pria yang dulu begitu Ia kejar cintanya namun kini rasa itu terkubur bersama kenangan lama, nama Adnan tetap bersemayam di hati Hilya, namun tidak lagi bertahta atas nama Cinta, hanya sebuah nama yang Hilya simpan sebagai simbol masalalu.