
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Hilya segera keluar dari kamar mandi, ia mengabari rekan rekannya bahwa acaranya telah siap.
IYa, Hilya tidak mau sakit sendian, ia mengundang seluruh rekan kerjanya untuk menghadiri pernikahan suaminya, tidak hanya itu bahkan keluarga besarnya pun Hilya beritahu kan.
Awalnya kedua orang tua Hilya begitu marah mengetahui tentang keluarga Adnan yang mempermainkan putri mereka, namun dengan rayuan Hilya orang tuanya sudi menghadiri pernikahan sang menantu namun dengan segala syarat yang diberikan pula pada sang anak.
Hilya tersenyum samar, senyum yang selama ini menghiasi wajahnya tak terlihat semenjak izin suaminya untuk menikah lagi.
Hilya mendengar suara keramaian kendaraan dari arah luar, Hilya yakin semua tamu undangan nya telah datang, Hilya bergegas melangkah keluar menuju lantai dasar.
Sedangkan Adnan begitu shock dengan banyaknya orang yang memasuki kediaman nya itu, tidak hanya itu bahkan wajahnya terlihat pucat pasi saat mengetahui diantara para tamunya terlihat tujuh anggota keluarga yang cukup Adnan segani selama ini siapa lagi kalo bukan kedua orang tua Hilya dan lima sepupunya itu.
Tampilan mereka semua sangat berkelas, tidak sepadan dengan acara sederhana yang disuguhkan ini.
Tidak hanya Adnan, kedua orang tua Adnan pun tak kalah terkejutnya dengan kehadiran kedua besannya itu.
Tampak sang kakek yang meremeh remehkan kehadiran keluarga Hilya justru mempersilahkan mereka untuk menyaksikan acara sakral yang tidak diharapkan banyak orang itu.
"Wah-wah gerak cepat menantu??, padahal niat awal Papa kesini untuk memberi kalian kejutan, eh justru Papa yang terkejut melihat laki-laki yang tak sederajat dengan keluarga kami dulu, yang memohon kepada kami untuk membuat anak kami dipenuhi dengan kebahagiaan sekarang telah duduk di hadapan seorang penghulu." sindir papa Hilya.
Tatapan sinis itu membuat Adnan merinding.
Semua tamu tampak memerhatikan mereka, saat wanita melangkah dengan anggunnya tatapan sinis papa Hilya berubah tatapan meremehkan.
"Wah-wah, ini kek wanita yang kakek pilihkan untuk meramaikan pernikahan cucu kakek dan putri cantik saya??" tanya Papa Hilya dengan menekankan kata putri mereka.
Tamu terus berdatangan, Adnan dapat melihat dari cara mereka berpakaian seperti nya mereka semua adalah rekan kerja istrinya yang bisa disimpulkan semua adalah kalangan dokter dan pembisnis muda.
Adnan memejamkan matanya rapat "apakah saat ini istrinya itu tengah menyadarkan Adnan bahwa lelaki seperti dirinya adalah lelaki yang kurang bersyukur, Hilya seolah ingin memberitahukan perbedaan kasta diantara mereka.
"Sepertinya acaranya harus segera dimulai." ucap penghulu.
Adnan terseyum kikuk.
Sedangkan Mama Hilya menatap sinis wajah besan mereka, mana ada seorang Ibu yang rela anaknya dimadu?? terlebih anaknya bukan wanita sembarangan, gelar punya, harta berlimpah, kasta tinggi, yang tertarik banyak, namun lihatlah pilihan anaknya yang menikahi pria sederhana justru membawanya mengalami nasib buruk.
Bagi seorang Ibu saat anak mereka harus rela membagi suaminya adalah nasib buruk.
"Saya tunggu istri saya sebentar pak!" ucap Adnan pada pak penghulu.
"Saya disini mas!!" ucap Hilya.
Semua mata tertuju pada sosok wanita yang sangat cantik dan mempesona.
Senyum Hilya merekah, bibir pucat nya berubah warna merah terang yang membuat aura kecantikan wanita itu berlipat ganda.
Semua mata yang awalnya tertuju pada seorang Pelakor , kini terpatri pada sosok istri sah yang kecantikannya bergerlip bak sebuah berlian.
Banyak Pria yang menatapnya tanpa berkedip, bahkan sesama rekan Dokter begitu terpana memandang wajah Hilya yang berubah drastis, yang byasanya sederhana dengan kecantikan alaminya kini di dongkrak dengan sapuan riasan yang menawan.
Tidak terkecuali Adnan, pria itu rasanya ingin menyeret Hilya menjauhi semua mata yang menatapnya dengan tatapan lapar, rasa cemburu membuncah dihatinya . keinginan untuk mengurung Hilya dibawah kendalinya begitu besar. Namun ucapan sang penghulu memutus tatapanya pada sang istri.
Adnan hanya mampu mengepalkan tangannya kuat saat para rekan Hilya memberikan Hilya sebuah kelakar kelakar yang membuatnya muak dan ingin menghantam wajah rekan istrinya itu.
"Sabar Hilya, kalau kamu tidak sanggup segera ulurkan tanganmu , hari itu juga akan kubawa kamu ke hadapan penghulu".
"Ahh kurasa suamimu itu sedikit sakit matanya, sudah punya berlian kok masih mencari mas campuran hadeeeeeh."
"Hilya kutunggu jandamu"
Dan masih banyak lagi, dan yang membuat Adnan ingin meledak adalah saat melihat Hilya hanya tersenyum manis menanggapi mereka .
Nafas Adnan memburu, Adnan tidak tahan melihat sang istri menjadi pusat perhatian, hanya dirinya yang boleh memandang puas wajah ayu itu.
Melihat Adnan yang menahan amarah , kedua orang tua Hilya terseyum remeh.