
Air mata Anton mengalir semakin deras, ucapan istrinya adalah surprise untuknya. Anton mendekap erat tubuh sang istri.
"Kalau begitu aku rela kau benci seumur hidup ku sayang!!"
Hilya memukul pelan dada suaminya. " kamu bodoh" .
Anton bukanya marah justru tersenyum manis dan mengangguk mendengar makian istri nya.
Hilya meletakkan tangannya di atas dada suaminya.
" Sakitnya hatiku kamu akan meninggalkan kami untuk kedua kalinya. Kenapa kamu ambil keputusan sepihak mas, rumah kita ada cctv kamu bisa melihat kebenaran nya."
Anton tertohok dengan perkataan istri nya, ah bodohnya dirinya yang terbakar api cemburu, yang hampir membakar habis kebahagiaan bahkan hidupnya.
Huek. huek. huek.
Hilya melepaskan dekapannya dari Anton dan segera lari kekamar mandi.
Anton berlari menyusul istri nya.
"Sayang... kamu sakit?? kita kedokter ya...??"
Hilya yang terduduk di samping kloset mengeleng.
Merasa lega, Hilya mengatur nafasnya pelan, sebelum akhirnya terseyum.
Anton yang terlihat begitu khawatir dan cemas, bingung melihat senyuman manis dari istri nya.
" Mas lupa, kita ini Dokter, kita bisa saling mengobati satu diantara kita saat sedang sakit. tentunya atas izin Allah.." ucap Hilya terkekeh kecil.
Anton menepuk pelan keningnya.
"Sini mas!!".
Anton mendekat kearah istri nya dan "PLOK".
Hilya menampol lebih keras jidat suaminya.
" Saya bantuin dikit mas," ucap Hilya terseyum.
Anton tertawa. " Itu bukan sedikit sayang" ucap Anton mencium kening istrinya.
" Mas bantuin kami berdiri saya lelah, saya inggin tidur."
Anton berfikir ada yang salah dengan ucapan istrinya, sudah dua kali rasanya Hilya menyebut kata kami. apa maksudnya??.
"Mas!!"
Anton terseyum, bukan membantu berdiri tapi Anton langsung mengendong tubuh istrinya.
Hilya terseyum. membenamkan kepalanya di dada Anton, mencium wangi tubuh suaminya yang membuatnya rileks dan nyaman.
Anton bahagia sangat bahagia mendengar ungkapan cinta istrinya, hatinya berbunga-bunga. setelah hampir merasa tidak berpijak selama dua hari kini tiba-tiba hidup Anton berasa sangat sempurna.
Hilya mengelus lengan Anton, membuat Anton menatap wajah istrinya. " Mas' ada yang ingin aku sampaikan." Anton mendekatkan wajahnya kini wajah mereka begitu dekat Anton dapat merasakan hembusan nafas istrinya.
Kening istrinya yang terasa panas menyatu dengan keningnya yang begitu dingin, sedingin fikiran nya saat ini, ungkapan cinta istri nya membuat Anton seperti mandi air es di cuaca panas terik.
" Semenjak mas pergi saya begitu tersiksa, badan saya lemes banget, dari pagi sampai sore saya hanya mual dan muntah, saya ingin makan donat dan di suapi oleh mas Anton." ucap Hilya lirih.
"Sayang, kamu sakit sudah dua hari??" tanya Anton terkejut.
" Aku jatuh sakit sesaat setelah mas Anton pergi meninggalkan ku"
" Astagfirullah...ya Allah maaf kan aku begitu bodoh meninggalkan istri ku dalam keadaan sakit!!" ucap Anton mengelus lembut pipi istri nya, begitu tampak gurat penyesalan di wajah Anton.
Hilya menepuk sebelah tempat tidurnya meminta Anton tidur disebelah dirinya. Anton menurut , tangan Anton memeluk istrinya membawa wajah istrinya kedalam ceruk lehernya.
Namun Anton segera duduk, membuka hijab istri nya. " Katanya mau makan donat?? mas pergi dulu cari donat."
Hilya mengeleng. " sudah gak pingin, aku mau dipeluk mas Anton saja."
Anton terseyum, tidak ada kata yang dapat menggambarkan perasaan bahagianya hari ini.
Hilya menarik lembut tangan Anton menciumnya dengan lembut.
" Sayang harus segera sembuh, mas sedih melihat sayang pucat begini, sudah minum obat??".
" Ini gara-gara ulah mas Anton!!".
" IYa Maaf!! Maaf karena kebodohan mas kamu jadi sakit begini!!".
" Bukan karena kebodohan mas!! tapi karena ke tokcerran!!".
"Hhhmmm??"
"I am pregnant" ucap Hilya terseyum.
Pupil mata Anton terbeliak mendengar ucapan istri nya.
"You are serious"
Hilya mengangguk. " Kita akan segera jadi orang tua mas..!!".
Alhamdulillah Anton berseru syukur kepada Allah setetes air matanya kembali mengalir.
Tangan Anton bergetar mengelus perut rata istri nya. pipinya yang basah air mata menempel lembut di atas tanganya yang mengelus lembut perut Hilya.
Mata Anton menatap lekat permukaan perut istri nya, seperti tidak percaya bahwa ada Anton Junior yang sedang tumbuh disana.