Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
67.Aku sayang kamu



" Apa kamu bisa mengenaliku??"


Anton mengeleng tapi air matanya mengalir.


Anton merengkuh tubuh istrinya kedalam dekapannya, mendekap erat tubuh Hilary alias Hilya seolah tak ingin terpisahkan.


Tubuh gagah itu bergetar, Anton seperti tak percaya dengan garis takdir yang begitu indah untuk nya.


Hilya melerai dekapan Anton, Anton membingkai wajah sang istri dengan kedua telapak tangannya


Tidak ada ucap dari bibir nya, tapi mata itu menggambarkan binar kebahagiaan yang tertutup oleh genangan air mata.


Lagi, bibir Anton terseyum tapi air matanya mengalir, seolah Anton tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang dirasakannya.


Hilya mencium kedua mata Anton bergantian, kecupan yang disebut segitiga cinta yaitu mata kanan dan kiri lanjut kebibir dan berhenti di mata lagi.


Anton membawa istrinya kembali kedalam pelukannya kali ini terdengar suara kekehan dari bibirnya.


" Jika lau ini mimpi aku tak ingin terbangun!!".


" Mas!!" pangil Hilya lirih.


Anton terseyum, kini dia melepaskan dekapannya mengamati wajah cantik wanita yang ternyata adalah istri nya. " aku tidak mau melepaskan mu, meski hanya sekejap".


" CK, " Hilya berdecak seperti yang sering Anton lakukan, mata Hilya melirik kearah Anton yang sedang memandang nya, akhirnya keduanya sama-sama tertawa.


" Maaf" ucap Anton dengan suara lembut.


" Untuk apa??" tanya Hilya dengan senyum defilnya. seolah Hilya betul-betul menjadi dirinya yang dulu.


" Karena aku tidak mampu mengenali mu, sebenarnya aku hanya takut mimpi hanya tinggal mimpi, saat hati ingin mengklaim bahwa kamu adalah istri ku tapi realita tak mengizinkan nya, aku hanya berfikiran yang menurutku benar, bagaimana aku berani menyimpulkan sesuatu yang seolah tak tergapai."


Anton mengelus lembut pipi istri nya.


binar cinta itu begitu nyata di mata Anton, membuat Hilya terpaku. Pernahkah Hilya melihat binar itu di mata Adnan??


" Mas?? emmm___apa kamu tidak marah??"


Anton menyerengit mendengar pertanyaan Hilya.


" Untuk pernikahan kita yang saat itu seolah aku yang memaksakan".


Bibir Anton melengkung, "Jika aku dapat mengingat mu waktu itu, meski dalam keadaan apapun aku akan menerima mu, bahkan saat kau hamil beneran sekalipun." ucap Anton serius.


Hilya terseyum melihat kesungguhan di raut wajah Anton. " Jadi??".


" Jadi??" ucap Anton membeo


" Apa mas Anton menerima pernikahan kita??"


Anton membuka mulutnya lebar, seolah mengundang segerombolan lalat untuk masuk, ah bukan itu maksud nya, tapi Anton hanya terbengong mendengar perkataan tak bermutu istrinya. astagaaaa...tidak taukah Hilary sudah semenjak dulu dia begitu tergila-gila pada nya??


dia gadis yang menjadi incaran Anton saat mereka masih menjalankan masa KOASnya.


Anton menatap istrinya dengan satu alis terangkat. "apa yang telah ku miliki tak kan kubiarkan siapapun memiliki nya."


Hilya mendengus. " mas fikir aku sebuah barang??".


" Terus kalo boleh aku tau, apa kamu mau aku tinggalkan??".


DEG.


Ada yang terluka tapi tak nampak, ada yang terasa tersayat tapi tak terlihat, kenapa pertanyaan Anton memberi perasaan terluka di hatinya??. apakah Hilya takut ditinggal kan seorang Anton??.


Hilya membasahi bibirnya yang terasa kering, begitu sulit rasanya menjawab pertanyaan Anton, " Aku, aku tidak tahu, tapi jika kamu memilih pergi aku bisa apa?? mungkin memang Allah belum menghadirkan pasangan ku yang sesungguhnya, aku aku melepas mu sama seperti aku melepaskan Adnan," ucap Hilya terseyum kecut.


Kini gantian wajah Anton yang mengetat, kalimat yang diucapkan istrinya seperti sayatan luka yang begitu dalam, bukan karena jawaban Hilya yang mengatakan akan melepasnya, tapi ingatan yang tertuju pada sosok sahabat yang tega menyakiti hati Hilary.


Dalam hati Anton bertekad, apapun yang terjadi dia tidak akan pernah melepaskan Hilary, hanya pria bodoh seperti Adnan yang membuang berlian dan memungut sebuah kerikil.


Anton mengengam lembut tangan istrinya,


" Bagaimana aku bisa melepaskan mu?? bahkan kau tau persis perasaan ku untukmu dari dulu, memiliki mu adalah impianku Hil!! aku teramat mencintaimu".


Air mata Hilya menetas, ungkapan cinta Anton begitu berarti di hatinya, Hilya menempelkan keningnya dikening Anton memberi rasa nyaman tersendiri untuk dirinya meski rasa nyaman itu menular untuk sang suami.


" Jangan tinggalkan aku!! aku mulai menyayangi mu, aku sayang kamu, aku nyaman dengan hubungan kita, boleh aku memintamu untuk tetap tinggal??" Hilya melihat jelas wajah suaminya, gelengan kepala Anton memudarkan senyum di bibir Hilya.