
IYa mas'??" Hilya mengalihkan perhatian nya dari Akbar dan menatap Adnan
" Apa yang pernah kamu dengar tentang diriku dari papa??"
Hilya diam sejenak
" Sebenarnya Papa tidak memberitahuku secara langsung, hanya aku sempat dengar kata Papa kalian sudah lama tak saling kontak, Papa bilang mas akan menikah dan menetap di Swiss!!"
" Papa bilang begitu??"
" Yaa..kurang lebih nya seperti itu mas!!"
" Hil, perusahaan mas yang di Inggris itu usaha yang mas bangun atas bantuan Papa!! dan untuk tak saling menghubungi , hampir tiap hari mas dan Papa berhubungan selalu, bahkan dengan Anton pun mas masih sering komunikasi!!"
Hilya tertegun sejenak, ada yang salah disini, kenapa Adnan menyebut dirinya mas?? bukankah selama ini aku ??, dan apa katanya baik Papa maupun Anton masih rutin berkomunikasi?? lantas siapa yang berbohong disini??
Hilya yang termenung tak menyadari saat baby Akbar tiba-tiba saja meraih tangan nya
" Eh sayang?? udah ngantuk ya??
Hilya melihat baby Akbar yang mulai mengosok hidung dan matanya
Baby Akbar merengek memeluk Hilya, membuat Hilya segera mengendong Baby Akbar yang begitu mengemaskan
" Nda, nda!!" racau Baby Akbar
" Mas seperti nya baby Akbar sudah mulai bicara ya?? udah bisa panggil bunda loo... mas Adnan harus garcep cari Bunda buat baby Akbar.. Yuana seperti nya baik!!" recommen Hilya
" Hil, Yuana dan mas, banyak perbedaan, bahkan dari keluarga Yuana berbeda jauh dengan keluarga mas, saat menikahi Yuana mas harus menerima dengan gaya hidup yang di terapkan keluarga mereka, keluarga Yuana berprinsip sepasang suami istri hanya memiliki satu buah hati, jika aku menikahi Yuana, itu berarti salah satu dari kami harus berkorban"
tapi bukan itu yang membuatku tak bisa menyukai Yuana, selain berbeda keyakinan, Yuana tidak menyukai anak kecil!!" terang Adnan pada Hilya
" Mas' Akbar tidur, biar dia tidur di kamar sama Khansa saja, mas Adnan gak usah pulang ke apartemen, mas bisa tidur di ruang keluarga atau depan tv , ini udah mulai gelap mas!!"
Hilya berlalu tanpa menunggu jawaban dari Adnan
Sedangkan Adnan hanya bisa menatap Hilya yang kian menjauh dengan baby Akbar yang berada dalam gendongan nya
kenapa aku merasa kadang kamu terlalu enggan untuk kembali akrab dengan ku Hil, tapi kadang kala kamu terlihat begitu perduli dengan aku dan Akbar??" Adnan membatin seraya mendesah berat
___________
Hilya yang memasuki kamarnya, segera membaringkan tubuh baby Akbar di sisi putri Khansa
Hilya menatap tempat tidurnya, tempat tidur yang selama ini penuh kehangatan bersama Anton, bulir bening kembali luruh membasahi pipinya
Ini bukan malam pertama Hilya tidur sendiri di kamar ini, tapi ini akan menjadi malam pertama untuk Hilya mengubur sejuta kenangan indah bersama mendiang suaminya
Hilya membuka laci dimana ada dua lembar surat yang dituliskan Anton untuknya, surat yang Anton berikan sehari setelah Adnan turut merawat nya, surat itu berisi tentang permintaan Anton untuk Hilya kembali membuka hatinya untuk Adnan, surat yang Hilya baca tepat saat Anton berpulang dari rumah sakit.
Anton tak mengucapkan kandidat yang ia pilih saat Hilya menanyainya di rumah sakit, tapi dengan tegas Anton menuliskannya di atas kertas nama pria yang menjadi pilihannya sebagai ayah sambung putrinya Khansa
"biarkan aku berdamai dengan hati ku dulu mas!! cinta ini masih utuh untuk mu!!" lirih Hilya dengan menatap cincin pernikahan nya bersama Anton.
Air mata belum mengering, nyatanya ini baru malam pertama Anton meninggalkan Hilya, untuk memikirkan penganti tentu Hilya belum mau melakukan nya
Dengan air mata berderai Hilya merebahkan tubuhnya, menutupi wajahnya dengan bantal agar meredam tangis nya