
Tidak ada sesuatu yang berlebihan dikediaman mereka, bahkan Hilya tak memakai pembantu untuk mengurus rumah mereka.
Tak terduga, tangan pria tua itu terulur mengelus puncak kepala cucu menantunya yang tertutup hijab.
Hilya terseyum " gimana, apa kakek suka??" tanya Hilya mendongak menatap wajah kakek adnan.
Bagai tersiram hujan diatas gurun, hati Hilya menjadi sejuk, tak diduga pria tua itu tersenyum sembari mengangguk.
Hilya berdiri dan meminta penjaga untuk membungkus sendal yang telah dicobakan untuk kakek Adnan.
Hilya mendorong kursi roda kakek Adnan dibagian baju Koko, mata Hilya menyapu setiap lembaran baju yang tergantung dan terjajar tapi di manekin.
Kali ini tidak bertanya mau atau tidak mau pada kakek, Hilya langsung memilih lembaran baju yang sekiranya cocok untuk kakek Adnan dan Adnan sendiri.
Sedangkan sedari tadi Adnan berdiri dibalik manekin untuk memerhatikan kegiatan Hilya dan sang kakek. Adnan tidak sama sekali antusias untuk berbelanja. matanya awas menatap istri pertamanya dan kakeknya yang duduk di kursi roda. hanya tubuhnya saja yang ia hindarkan demi mengawasi orang kesayangannya.
Adnan terseyum bangga menatap sang istri yang mulai meluluhkan hati kakek nya, namun demikian itu tidak mengubah apapun dalam biduk rumah tangga nya. Adnan telah menikahi sepupunya. tujuan hidupnya sudah terbagi menjadi dua sekarang.
Sedangkan Arkab dan Rena telah membawa belanjaan pilihan mereka. Rena membeli baju dan sendal beberapa pcs, sedang Arkab membawa 2 celana jeans 2 Hem dan 1 alas kaki merk kar**l.
Hilya membawa semua barang yang telah terkumpul untuk di bungkus, mata Hilya mencari sosok Adnan, tidak lama Adnan membawa dua buah hijab berwarna biru laut warna kesukaan Adnan, diberikannya hijab itu untuk Hilya dan Rena.
sadar Hilya sadar, sekarang bukan cuma kamu istri Adnan.
Hilya hanya menampilkan senyumnya semanis mungkin."terimakasih". sesak hati hanya Hilya yang merasakan. Hilya hanya bisa memendam perasaan sesaknya dengan menampakan ekspresi wajah bahagia. mau bagaimana lagi, memang sekarang bukan cuma dia tanggung jawab Adnan.
Selesai berbelanja pakaian Hilya masih membawa keluarganya ketempat pemijatan referensi. Hilya mengantar sang kakek ketempat pemijatan khusus Pria. bahkan Adnan dan Arkab pun ikut masuk kedalam untuk pijat.
Sedangkan Hilya membawa Rena untuk kesalon kecantikan. Hilya memang ingin menghabiskan waktunya seharian untuk keluarga Adnan. karena lusa dia akan kembali bekerja.
Usai sholat dhuhur, mereka makan siang diresto khas Jogja, semua makanan diresto itu makanan khas Jawa tengah, uniknya mereka makan tanpa piring melainkan alas tempat makanya adalah daun pisang.
Sesekali mereka mengobrol ringan, Rena pun sekarang menjadi lebih akrab dengan Hilya. istri muda Adnan itu mulai berani mengajak Hilya ngobrol, menceritakan banyak hal pada Hilya. Hilya pun menanggapi dengan suka cita saja. toh biar bagaimanapun juga Hilya harus berusaha untuk tidak egois.
Setelah makan mereka lanjut mengunjungi tempat wisata. banyak hal yang membuat mereka begitu bahagia hari ini, kebersamaan dan kekeluargaan sangat harmonis dipandang setiap orang yang melihatnya.
Namun sesungguhnya Hilya tidaklah bahagia, semua ia lakukan untuk keluarga Adnan hanya bentuk perdamaian dengan hatinya sendiri.
Meski ia sudah mencoba iklas, namun sejujurnya hatinya tidak rela, terlebih ia mengingat janji yang ia buat untuk papanya, Hilya sedikit khawatir bila masa waktu itu tiba. mau tidak mau Hilya akan memenuhi janji nya.