
" Kembalilah Hil!! Anton membutuhkan kamu disampingnya"
Fauzan menarik nafasnya dalam, menahanya sesaat dan perlahan menghembuskan nya
" Saat seperti ini Anton butuh di dampingi, fikiranya sedang kalut, antara takut khawatir dan juga Bingung, Anggap saja dia tidak pernah mengatakan apa-apa, sebagai seorang suami dia hanya ingin melindungi mu Hil, saat dirinya merasa tak mampu maka dirinya ingin orang lain yang melakukan nya, salah sih memang, tapi kita tak tau seberapa takut dirinya menghadapi sakitnya bukan!! come on Hilya, kamu Bisa!!" Fauzan mengepalkan tangan nya seperti memberi semangat untuk Hilya
Senyum kecil Hilya tersungging, ini yang dirinya suka dari rekan-rekan nya sesama Dokter saling menjaga dan saling menguatkan
Dulu... baik Fauzan maupun Anton sama-sama memiliki perasaan dengan Hilya, hanya saja setelah pernikahan Hilya bersama Adnan, Fauzan di pindah tugaskan kerumah sakit yang sekarang Anton tempati untuk berobat, bahkan Fauzan menemukan pasangan sesama Dokter di rumah sakit ini, hanya saja sang Istri lebih dulu di panggil sang maha pencipta
" Ok!! makasih Zan!! Aku ke ruang mas Anton dulu!!" Hilya pamit sembari mengambil tasnya di meja Fauzan
" IYa Hil, tetap berfikir positif, kita doakan semoga keadaan Anton terus membaik!!"
" IYa Zan, terimakasih!!
Fauzan menganguk dan memberikan dua jempolnya di dada, sebagai tanda balasan sama-sama untuk Hilya
*************
Hilya terkejut saat hendak masuk keruang Suaminya ada Dini yang menangis terisak-isak
" Din, ada apa??" tanya Hilya khawatir
" kak Hilya hix, hix, hix aku gagal lagiiiiii!!!"
Hilya menatap Zahfran mencari tau ada apa sedang yang di tatap hanya menunjukan benda kecil yang menunjukkan satu garis
" Kamu progam hamil dek??" tanya Hilya melerai pelukanya
Dini yang masih terisak menganguk
" Udah berapa lama??"
"Khem'
Zahfran berdehem membuat Hilya mengalihkan pandangannya ke arah nya
" Sebenarnya Dini suka mengkonsumsi vitamin penyubur kandungan tanpa resep dokter kak, aku udah sering cegah tapi Dini selalu ngeyel dan merajuk jika di tegur!!" akhirnya Zahfran bisa mengungkapkan kekesalannya selama ini
" Bener Din??" tanya Hilya menuntut
" I i iya Kak!!" aku Dini
" Din, Kaka ini yang seorang Dokter, saat dulu progam kehamilan saja Konsul sama temen Kaka, jangan mengonsumsi obat sembarangan kita tidak tau efek samping nya dek!!" tegur Hilya lembut
" Zahfran, apa ada pihak luar yang menuntut kalian agar cepat memiliki anak??" tanya Hilya dirinya seolah mengingat rumah tangganya di masa lalu, ingin memiliki anak karena sebuah tuntutan
" Tidak ada Kak!!" Dini menjawab cepat, mendahului Zahfran
" Lantas kenapa kamu buru-buru melakukan program kehamilan dek', kamu dan Zahfran masih sama-sama muda, pernikahan kalian juga belum genap dua tahun, untuk apa memaksakan kehendak dek, jika sang pemberi Rizki belum memberi kalian kepercayaan??"
" Dan Dini!! kamu seorang istri Dek, kalau ingin bertindak sesuatu harus izin Zahfran!! tidak boleh melakukan hal yang membuat Zahfran merasa tak dianggap, apalagi soal program kehamilan, ini harus benar-benar di bicara kan dari kedua hati kalian,. Din!! cukup Kak Hilya dan mas Adnan dulu yang ingin memiliki keturunan seperti sebuah perlombaan, tapi nyatanya seberapa besar Kaka berusaha nyatanya Allah tak kunjung memberikan hingga kak Hilya dan mas Adnan habis masa jodohnya, sedang kak Hilya dan Aa kamu sama sekali tak melakukan progam tapi karena Allah berkehendak belum genap satu tahun Kaka diberi kesempatan untuk mengandung Khansa"
"Dek' jika kamu melakukan hal-hal tanpa sepengetahuan Zahfran itu sama saja kamu tak mengangap Zahfran sebagai imam, tugas kita perempuan itu melayani dan memberikan yang terbaik untuk Suami dalam kebaikan, jika kamu meminum obat penyubur dan Zahfran melarang tapi kamu tetap melakukannya itu kamu sudah termasuk durhaka pada suami, kamu tau Ridha suami adalah Ridha Allah!! Jangan di ulangi, kalau mau program, besok kesini lagi sama Zahfran nanti Kaka pertemukan pada teman Kaka!!"
Hilya mengelus kepala dini yang tertutup hijab.
" Kak Hilya ingin masuk??" Zahfran bertanya, merasa tidak enak dengan Kaka ipar nya, sedang Hilya yang bersedih harus di tambah urusan Rumah tangga nya
" IYa!! Zahfran Kaka titip Dini, yang tegas , salah bilang salah' biarpun Dini lebih tua dari pada kamu tapi kedewasaan itu tidak di ukur dari usia, besok temui Kaka, Kaka akan jadwalkan pertemuan dengan teman Kaka."
Hilya berkata sembari memandangi kedua adiknya yang seperti merasa bersalah, terlebih Dini, Dini menunduk dalam saat Hilya ingatkan posisi istri itu di bawah suami, karena Ridha suami adalah Ridha Allah
Hilya pamit masuk pada Dini dan Zahfran yang hanya mendapat jawaban sebuah anggukan kepala dari keduanya