
Setelah pintu tertutup Anton mengosok rambutnya kasar, dengan sesekali menghela nafasnya dalam seperti orang sedang frustasi
Hilya yang melihat tingkah Anton merasa tak tega, setelah pintu tertutup Hilya segera mendekati Anton yang sepertinya kehilangan semangat, berbanding terbalik dengan beberapa saat lalu sebelum Dini mengganggu waktu kebersamaan mereka.
Anton meringis didepan istri nya dengan wajah kusut, Hilya terkekeh menangkup kedua pipi suaminya.
" Kita bisa lanjutkan !!" bisik Hilya
" No time!!" jawab Anton kuyu
Hilya semakin terkekeh
" Not now but later!!"
Anton semakin memasang wajah sedihnya.
" Dia sudah mendesak hingga terasa sempit Sayang!!" kekeuh Anton
" Sayang tapi kurang kalo cuma satu ronde!! aku maunya 2,3 atau 4 ronde trus lelah dan berbaring nyaman di atas dada ini." tunjuk Hilya pada dada bidang Anton
Mendengar ucapan istri nya wajah Anton yang layu menjadi bringas kembali
" Sayang tidak Bohong??"
"Tidak!! aku siap mendesah dibawah tubuh ini!! " jawab Hilya dengan mendekap tubuh tegap suaminya.
Ucapan Hilya mampu membangkitkan semangat pada diri suaminya, lihatlah senyum Anton kembali merekah, di ciumnya seluruh wajah istrinya.
" Sayang kita bersiap, setelah ini waktu sayang hanya untuk ku dan putri kita!!" Anton mengecup lembut bibir istrinya dan berlalu menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Anton, senyum tulus terbit di bibir Hilya. " Waktuku memang selalu untuk mu mas" gumam Hilya sambil meraih pakaian yang akan suaminya kenakan.
"Not bad" ucap Anton, Hilya menoleh dan tersenyum, kita kan hanya di dalam rumah jadi gak papa kan mas pake baju yang sederhana begini
" Apapun yang kamu kenakan tidak akan mampu menyurutkan kecantikan mu Yang!! ku rasa cinta ku padamu itu tidak hanya penuh di hati tapi sampai meluber hingga ke jantung, pangkreas, ginjal , usus, empedu dan...... Anton tak melanjutkan ucapannya karena yang di gombalin justru berlalu keluar dari kamar dengan menutup kedua telinganya.
Anton tersenyum lebar menatap punggung istrinya yang hilang di telan pintu
________
Di ruang keluarga Hilya segera menghampiri Abah Anton mencium tangan Abah mertuanya dan turut duduk bersama mereka
" Mana Anton nak?? apa Khansa sudah tidur??" umi Anton bertanya lembut
" Mas Anton masih ganti baju Mi, tadi udah bersiap tidur saat Dini panggil kesini!! Khansa juga sudah bobo nyenyak!!" Hilya terseyum mengingat wajah kusut suaminya , tidak mungkin Hilya berkata Anton mandi untuk menenangkan adik kecilnya gara-gara ada jeda iklan saat mereka sedang ingin menikmati surga dunia.
Tidak lama berselang Anton datang, seperti Dini, Anton pun tetap mencium tangan Abahnya meski tanpa basa-basi tanya kabar
Akhirnya mereka semua berkumpul, Anton menatap wajah Abah nya sekilas, pria paruh baya itu terlihat lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu, ada rasa bahagia mengetahui bahwa Abahnya sudah mampu berjalan selangkah dua langkah setidaknya dirinya mampu membuat sedikit kenyamanan untuk sang Abah
" Mas, Umi, Pak, Kak!!" Zahfran memecahkan keheningan. "kedatangan saya kesini karena di paksa oleh Dini untuk meminta restu kepada Umi dan keluarga secara resmi."
Mata Dini mendelik mendengar ucapan Zahfran, apa-apaan ucapan Zahfran kok malah ngomong dirinya yang maksa di lamar sich?? batin Dini
" Maksudnya??" tanya Umi dengan senyum manis dibibirnya.
" Jadi gini Umi!!, sebelumnya saya minta maaf sudah berani mengganggu waktu Umi dan keluarga, tujuan saya datang kemari ingin meminta Dini secara resmi untuk saya jadikan pendamping hidup saya, sebelumnya saya belum menyiapkan sesuatu apapun, karena pada niat awalnya saya akan melamar Dini bulan depan."
"Tapi Dini mengancam akan memberikan peluang untuk pria lain mendekat kepadanya, maaf Umi saya hanya menuruti permintaan putri Umi untuk segera meresmikan hubungan, jelas saya tidak terima jika ada pria lain yang bisa mendapatkan kesempatan untuk memiliki wanita yang sudah saya klaim milik saya."
Ucap Zahfran dengan raut wajah begitu tenang berbeda dengan Dini yang merasa Zahfran terlalu memojokkan dirinya, astagaaa seperti wanita bi*** saja Dini sampai memaksa seorang Zahfran segera menikahinya tapi kan memang begitu kan sebenarnya??"