
Hilya menghela nafas panjang.
tanganya meraih baju yang tengah Adnan setrika.
"Makanlah mas, ajak kakek dan istri mu untuk sarapan, sebentar kita akan pergi ke mall." titah Hilya saat meraih setrika dari sang suami.
Adnan tak enak menolak perintah istrinya, Adnan tau Hilya sedang merasa jengkel, melihat susunan bajunya yang tak seperti saat Hilya dirumah.
Biasanya, baju Adnan tersusun rapi, Hilya memang tipe istri idaman, pandai memasak pandai mengurus suami pandai mengatur waktu, lantas apa kurangnya Hilya??.
Seandainya pertanyaan itu ditujukan untuk para wanita, maka jawabannya adalah : Hilya kurang mendapatkan cinta dari suaminya. itu sebabnya Adnan tega menikah lagi.
Hilya terseyum lembut memberi semangat pada Adnan. Adnan mencium kening istrinya dan berlalu kemeja makan.
Hilya menyelesaikan setrikaan nya, dan segera membersihkan diri. Hilya mengira semua sudah mulai sarapan, namun dugaan Hilya salah.
Hilya yang menuju meja makan terdiam. melihat ketiga orang yang berada dimeja makan hanya diam menatap menu masakan nya.
Apakah ada yang salah?? batin Hilya. Hilya berdehem mengalihkan perhatian semua orang.
Senyum manis tersungging di bibirnya.
"Lhoh, kenapa tidak mulai sarapan?? apa kakek tidak menyukai menu masakan saya??" tanya Hilya sopan kepada kakek Adnan.
Hilya melirik ke arah istri muda suaminya, lagi-lagi hilya mendapati mata Rena sembab.
Hilya melirik sang suami, Adnan malah tersenyum manis padanya. dasar laki-laki. batin Hilya.
" Kok tumben bikin pisang ijo??" tanya Adnan memecah kesunyian.
"Eeh , iya gak tau kenapa dari kemarin kepingin makan ini mas," sahut Hilya terseyum.
Kakek adnan berdehem. "kenapa nasinya dua macam." tanya kakek Adnan datar.
"Eh maaf kek, ini saya masakan khusus buat kakek, ini beras merah dan beras biasa yang saya mix dengan biji-bijian, bagus buat kesehatan kakek. tapi kalo kakek gak mau juga tidak papa." tambah Hilya cepat takut sang kakek tersinggung.
"Jadi?? kakek mau yang mana??".
Kakek Adnan menyerengit.
" Eh, anu kek saya mau menyajikan buat kakek, makanya saya bertanya!!" ucap Hilya saat menatap keheranan diwajah kakek adnan.
Hilya segara mengambilkan nasi untuk sang kakek, sembari bertanya menu apa yang disuka sang kakek, kakek Adnan memilih 3 menu yang dimasak oleh cucu menantunya itu.
Hilya melirik Rena, Hilya terkejut saat melihat sang madu justru asik makan tak menghiraukan suaminya. Hilya mengalihkan pandangannya pada Adnan.
Pria itu justru asik memainkan ponselnya.
"Mas jangan main ponsel kalau sedang makan." tegur Hilya.
Hilya segera mengambilkan nasi untuk sang suami, Hilya sudah hafal kesukaan suaminya, meski tak bertanya Hilya bisa langsung menyiapkan untuk Adnan.
"Terimakasih." Hilya hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tua tengah memerhatikan gerak gerik mereka.
Mereka makan dengan lahap, bahkan Rena sampai nambah duakali, entah lapar atau memang masakan Hilya cocok dilidahnya hingga istri muda Adnan begitu lahab menyantap sarapan nya.
Ponsel Hilya berbunyi, meraih ponsel Hilya segera berlari kearah pintu. Hilya kembali bersama seorang perawat pria yang tengah mendorong kursi roda.
"Selamat pagi Dokter!!" sapa perawat pria itu.
"Selamat pagi Ar!!, jangan formal begitu. saya tidak sedang bekerja sekarang, panggil Hilya saja."
Perawat yang bernama Arkab itu tersenyum. Hilya memperkenalkan Arkab kepada Adnan, kakek dan Rena.
"Duduk mas kita sarapan bersama," ucap Adnan pada Arkab.
"Ah tidak usah pak terimakasih."
"Jangan sungkan Ar, anggap rumah sendiri, sarapan lah sembari menunggu kami bersiap," ucap Hilya.
"Terimakasih Dokter Hilary."
Hilya memutar bola matanya malas' "CK kamu mengingatkanku dengan nama masalaluku Ar, dan sudah kukatakan aku sedang tidak bekerja, aku adalah temanmu saat ini."
Arkab tersenyum dan berjalan ke meja makan, tidak ingin mengecewakan Hilya, Arkab akhirnya menikmati sarapan dirumah Hilya, awalnya terpaksa. namun setelah merasakan masakan Hilya, Arkab pun kalap, ia seperti Rena yang menambah menu sarapannya.
Tanpa mereka sadari , perilaku mereka semua seolah direkam oleh seseorang.