
Pagi harinya Hilya terbangun di jam 3: 40, saat hendak bangun, Hilya merasa ada sebuah beban yang berada di atas perut nya.
Saat menoleh, pupil mata Hilya terbuka lebar, wajahnya begitu dekat dengan wajah Anton yang begitu rupawan. wajah Anton tepat dihadapan nya, sangat dekat hanya berjarak beberapa inci.
Pria tampan itu tampak begitu lugu saat tertidur damai, wajahnya yang rupawan menghipnotis Hilya, hingga tanpa sadar tanganya bergerak mengelus rahang suaminya.
Hilya tersentak saat merasakan pelukan Anton semakin erat ditubuhnya.
Saat tangan Hilya hendak melepas pelan pelukan Anton, Pria itu justru menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hilya.
Pergerakan Hilya terkunci, dengan dekapan erat suaminya, badan Anton menimpa sebagian tubuh Hilya
Waktu terus berjalan, Hilya tidak mau kesiangan, dia harus bergegas menyiapkan keperluan sang suami sebelum waktu subuh tiba.
Dengan canggung Hilya mengelus pipi Anton, berharap Anton segera bangun, tapi nyatanya pria itu malah semakin erat memeluk tubuhnya.
" Mas' sudah dekat waktu Subuh." tak ada pilihan mau tidak mau Hilya harus membangunkan sang suami, Hilya mengoyakkan pelan lengan Anton yang merengkuh tubuhnya
Ada pergerakan dari Anton, membuat Hilya sedikit lega, tapi kelegaan itu berubah jadi kecewa saat tiba-tiba Anton mengukung tubuh nya kembali di bawah tubuh nya yang polos
" Sekarang jam berapa??" tanya Anton serak.
" Hampir jam 4 mas" ucap Hilya gugup, tak taukah Anton bahwa saat ini tubuh Hilya terasa panas dingin menerima perlakuannya, belum lagi tidak ada sehelai benangpun yang menghalangi tubuh mereka
Mendengar ucapan Anton pupil Hilya serasa melotot maksimal.
Tangan Anton menari menyusuri tubuh mulus istrinya. " entah mengapa aku merasa tidak asing dengan aroma tubuh mu" ucap Anton tiba-tiba, membuat Hilya terkejut.
" Maksudnya aroma tubuh ku pasaran??".
" Tidak!!, hanya saja aku merasa kamu bukan orang lain bagiku!!. rasanya ingin sekali aku mengingat ataupun melihat mu sekejap saja, aku ingin memastikan bahwa firasat ku benar."
" Mas nanti saja bicaranya, itu sangat geli!!" Hilya merasa kegelian saat Anton bicara di telinganya dengan hembusan nafas hangat yang menerpa dan menghembus tak beraturan.
Hilya tidak dapat mencerna dengan jelas ucapan Anton, karena Hilya mulai kwalahan menerima sentuhan-sentuhan yang membuat nafsunya bergelora.
Hilya merasa Anton sangat tau area sensitif dirinya, tangan Anton menjelajah, bibirnya pun tak tinggal diam, hidung mancung itu menempel di leher jenjangnya.
" Mas Antoooon!!" seru Hilya, saat mencapai pelepasannya. Anton terseyum, ada rasa bangga dihatinya bisa membuat pasangannya terpuaskan, apa lagi saat Hilya begitu bersemangat meneriakkan namanya. tidak hanya rasa tapi Anton memang benar-benar bahagia.
Anton mendekatkan bibirnya di bibir istrinya, mencium bibir Hilya seolah menjadi candu untuknya. meski saat ini Anton tidak dalam pengaruh obat, tapi Anton tetap merasakan gelora yang sama seperti semalam.
Tubuh istrinya seperti memiliki Magnit tersendiri yang membuatnya ingin selalu tertarik dan bersatu kembali.
Akhirnya penyatuan mereka berlanjut dipagi hari ini, Anton tak membiarkan istrinya bangun sendiri, pria tampan itu membopong tubuh istrinya untuk dibawa ke kamar mandi.
"Hilya yang mengintruksikan Anton yang melangkah, Hilya merasa pernikahan mereka begitu sempurna meski belum saling mencintai.