
Anton turun mengandeng tangan Hilya membuat Adnan menatap tidak suka.
" Hil ??" Adnan berseru memanggil nama mantan istrinya berharap Anton tersadar dan melepas tautan tangan mereka.
Hilya terseyum. "Sayang aku ambil minuman dulu "bisik Anton , dan diangguki oleh Hilya.
Hilya duduk di hadapan Adnan dan Rena, Hilya mengamati wajah Rena yang begitu muram, batin Hilya dari dulu wanita yang dinikahi mantan suaminya itu gak pernah berwajah ceria.
" Hil, maksud aku kesini ingin memintamu untuk menjadi istri ku lagi, Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan kamu nanti, aku janji."
"Kamu apa -apaan sich mas??"
"Aku sudah membicarakan tentang ini semalam, aku mau saat ini giliran kamu yang ngerti in aku REN!!" ucap Adnan sarat emos.
Anton datang membawa minuman dan duduk disamping istri nya.
Adnan hanya tersenyum sebentar, sebelum kembali fokus menatap wajah Hilya.
"Aku mohon Hil..!! aku tidak bahagia hidup tanpamu!!."
Mendengar ucapan Adnan
Rena murka, dengan perut buncitnya itu Rena menarik tangan Hilya dengan kasar.
Rena mendorong tubuh Hilya "puas kamu.. gara-gara kamu mas Adnan selalu salahkan aku, aku benci kamu, aku benci."
Hilya yang malas menggapai hendak kembali ke kamar nya saja, saat Hilya menaiki tangga, Rena kembali menarik kasar lengan Hilya hingga wanita itu terpelanting, tubuh itu hampir saja menghantam lantai, tapi karena ketangkasan Anton Hilya terjatuh di dekapan suaminya.
Anton berteriak murka.
" Demi Allah istri ku sedang hamil, wanita BEJAT seperti apa kamu... jangan lupa diri, ingat siapa yang masuk kerumah tangga orang lain dan merebut suami orang." tatapan Anton seperti ingin membunuh Rena saat itu juga
Anton menatap nyalang sahabat nya..
" B**awa pergi istri m**u, jika sampai dia berani menyentuh istriku barang sejengkal pun. akan ku buat dia menyesal seumur hidup."
" Dan untuk mu, jangan lagi kau mengharapkan berlian yang kau buang demi memungut besi berkarat ini.
Tangan Adnan mengepal kuat. ditariknya Hilya kesamping tubuhnya dan menghantam Anton dengan kepalan tangan nya.
" Bercanda boleh, tapi jangan kelewatan, bang**t bahkan aku menghadiri pernikahan mu dengan istrimu, kamu pikir aku bodoh??"
Anton mendongak, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Anton terkekeh. "kamu masih ingat kata-kata ku dulu??
Mungkin sebenarnya Hilya adalah jodoh gue
buktinya baru saja Lo menikah dengan nya belum genap 2 hari ,Lo udah ada rencana buat menikah lagi, kalau memang Lo lepasin Hilya, gue dengan senang hati akan menerima dengan bahagia.
Ya Adnan ingat betul perkataan sahabat nya waktu itu. Tapi bagaimana bisa sedangkan Adnan tau Anton sudah menikahi wanita lain.
apa Hilya istri ke dua??. bukankah Hilya juga sudah menikah dengan pria buta? dan satu yang menohok hati Adnan adalah Anton menyebut Hilya sedang hamil. Ada apa ini?? apa mereka bersekongkol agar dia mundur mendekati Hilya??.
Hilya mendekati suaminya yang menyeka darah dari sudut bibirnya.
" Mas__" Hilya memeluk erat suaminya. shock, Hilya begitu kaget dengan apa yang dilakukan Rena padanya, entah karena faktor kehamilanya atau karena dia lagi kurang sehat yang membuatnya nyaman dalam pelukan Anton dan sedikit Baperan.
Hilya terisak, hampir saja dia celaka, bukan cuma dia tapi juga janinya seandainya tadi dia benar-benar jatuh, Hilya tak tau apa yang bisa terjadi dengan mereka.
" Sayang tenanglah!!" ucap Anton lembut sambil mencium puncak kepala istri nya yang tertutup hijab.
Hancur hati Adnan melihat pemandangan menyayat hati.
Keduanya orang Sholeh Sholehah, tidak mungkin tanpa adanya ikatan pernikahan mereka berbuat seperti saat ini, apa kini dirinya telah benar-benar kalah??.
Anton menatap tajam Rena, Rena jelas tak berani berucap sepatah kata pun, mendengar dan melihat kemurkaan pria tampan dihadapannya membuatnya menciut.
Anton ganti menatap sahabatnya.
" Bawa pulang istrimu Nan!! istriku sedang hamil muda butuh istirahat, aku bisa saja laporkan masalah ini kekantor polisi agar istri tak punya adapmu ini mendekam di penjara," ucap Anton menatap tajam kearah Rena yang mulai ketakutan mendengar ancaman Anton.
Air mata Adnan terjatuh, harapannya tinggal mimpi. Menatap Hilya yang begitu erat memeluk tubuh laki-laki lain membuatnya sakit tak berdarah.