
Tampak paman Anton tergugu di tempatnya, tidak pernah terpikir olehnya, Kaka kandungnya begitu tega dengan keluarganya nya sendiri, malu hatinya mendengar ucapan ponakannya sendiri tentang kelakuan kakak laki-laki nya yang tak lain adalah Abah Anton, tau begitu dulu dia akan dengan senang hati mengayomi Kaka iparnya dan kedua ponakannya itu.
" Ton!!" tampak paman Anton begitu menyesal karena memaksa ponakanya untuk memboyong sodara tirinya yang saat ini sedang kesulitan, nyatanya dulu mereka pernah dibantu oleh keluarga Umi Anton, dan berakhir merebut dan menguasai segala nya. " tolong maafkan Paman, seandainya paman tau kebenaran itu paman tidak akan pernah berani meminta tolong kepada kalian". ucap paman Anton tulus
Anton terseyum mendekati Pamanya dan memeluk erat sosok yang begitu mirip dengan Abah nya, kendati mereka memang saudara kandung, namun kemiripan itu begitu terlihat
" Tidak masalah Paman, maaf aku sama sekali tidak dapat membantu, aku tidak mau membawa siapapun orang asing yang masuk kedalam biduk rumah tangga ku Paman, kalau Abah saja yang begitu agamis masih bisa khilaf apalagi aku Paman, cukup sampai di Abah saja yang melukai hati Umi, jangan sampai keturunannya ikut melukai hati Umi dari putra putrinya lagi."
Paman Anton menepuk lembut pundak keponakan nya. " kamu yang terbaik nak, jaga diri baik-baik, paman memohon maaf atas nama Abah mu nak, jaga diri kalian baik-baik"
Anton melerai pelukanya. " apa keadaan Abah begitu parah Paman??"
Paman Anton me ngengadahkan kepala nya. " saat pintu maaf untuknya sedikit terbuka tolong temui sodara Paman nak, sebelum terlambat." ucap paman Anton ambigu, sedangkan Anton hanya menunduk
" Nan??"
" InsyaAllah, akan aku usaha kan Paman!!"
Akhirnya paman Anton tersenyum dan berpamitan undur diri, menatap sayang pada Anton dan Hilya
________
Sepeninggalan paman Anton, Hilya menatap teduh suaminya.
" Yang!!" Anton menarik lembut jemari istrinya. " kata Paman Abah sedang sakit-sakitan dan istri Abah meninggalkan Abah dengan membawa semua harta Abah"
"Masalah nya adalah Abah di rawat oleh kedua putri tirinya, yang salah satunya sedang mengandung, paman memintaku untuk menolong mereka bertiga karena bibi menolak merawat mereka"
"Sudah tiga hari Paman terus memohon Yang!! hingga akhirnya aku terpaksa membuka luka lama masalah kehidupan kami saat Abah dengan teganya membuang kami bak sampah"
Hilya membawa tubuh suaminya kedalam dekapannya, saat pasangan kita sedang mengeluarkan isi hati yang diperlukan adalah seorang pendengar, jadi sebelum pasangan kita meminta pendapat tetaplah setia menjadi pendengar yang baik
Itulah yang sedang dilakukan Hilya, wanita cantik yang sedang mengandung itu, setia mendengarkan curahan hati suaminya, tidak mengeluarkan sepatah kata pun
" Apa yang harus kulakukan Yang?? terlalu kecewa aku untuk menemui Abah, apalagi kedua sodari tiriku yang aaahhhhhhh....aku tidak bisa Yaaaaaaaaang!!"
" AW!"
" Yang??" Anton melonggarkan dekapan sang istri, terlihat wajahnya berubah khawatir
Hilya membawa telapak tangan Anton keatas perutnya sedetik dua detik tiga detik,
" dDug"
" A- a aapa itu Yang?? dia menendang?? apa anak kita bergerak??" tanya Anton antusias sedikit melupakan hatinya yang sebelumnya melan kolis.
Hilya terseyum soft dan mengangguk, "sepertinya anak kita ingin melihat keadaan his grandfather"
"Yang tapi....…"
" Harusnya kita yang muda harus mengalah mas, kalau tidak ada yang memulai permainan tidak akan pernah game over bukan??"
"Begitu juga hubungan, hubungan tidak akan pernah kembali terjalin saat kedua belah pihak sama-sama tidak mau mendekat, aku dan anak kita mendukung apapun keputusan mas, kami selalu bersamamu hari ini dan sampai nanti." ucap Hilya lembut meski sebelumnya memotong perkataan Anton yang belum selesai.