Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
59.Waktu



Hilya sedang membersihkan diri ke kamar, Om dan tantenya sudah berpamitan pulang, karena malam sudah semakin larut, sedang Anton masih mengobrol bersama Arkab.


Arkab memberikan segelas air putih dingin pada Anton, Anton yang kebetulan haus langsung meminumnya habis.


"Pak saya permisi pulang dulu, saya rasa bapak sudah waktunya istirahat," ucap Arkab pada Anton yang nyatanya dulu mereka saling kenal.


Anton mengizinkan Arkab pulang dan mengucap terima kasih, sedangkan setelah keluar dari rumah yang ditempatinya Anton dan Hilya Arkab menghubungi seseorang. " saya sudah mencampurkan minuman pak Anton dengan obat yang anda perintahkan pada saya".


Beberapa saat pangilan itu berakhir.


 


**Di kamar**


 


Usai membersihkan diri, Hilya hendak mencari keberadaan suaminya, tapi angin dari arah luar begitu kencang hingga jendela rumah terbanting begitu saja menimbulkan suara yang mengagetkan.


Angin berhembus begitu kuat korden jendela ter ombang ambing beberapa kali terlihat kilatan cahaya, seperti nya akan hujan deras


Setelah menutup semua jendela, Hilya melanjutkan langkahnya mencari keberadaan Anton, saat Hilya masuk keruang tamu Hilya dapat melihat Anton yang sedang duduk di sofa dengan mata terpejam.


" Mas Anton lelah?? kita pindah kekamar yaa.." ucap Hilya lembut


" Kamu panggil aku mas??".


" Ada yang salah?? sekarang mas Anton suami dan saya istri ,emm... apa ada recommend pangilan lain??".


" Ahhh tidak!! apa yang membuatmu nyaman saja." ucap Anton dengan membuka kelopak matanya.


" Sepertinya akan turun hujan. angin nya terdengar begitu kencang ."


" IYa, kita kekamar yuk mas' sini biar ku bantu."


Anton sama sekali tidak menolak, membiarkan istrinya menuntunnya kekamar tidur.


" Kita tidur bersama??".


" IYa, apa mas keberatan??"


" Tidak!! aku justru mengira kamu yang keberatan.


" Saya tidak keberatan mas, lagian kita suami istri, sudah selayaknya kita tidur ditempat yang sama."


Hilya membantu Anton masuk kekamar mandi, ini adalah rumah pribadi Hilya, jadi Anton masih belum paham keadaan rumah, itu sebabnya Anton belum mengetahui letak kamar mandi.


" Biar ku hitung berapa langkah jarak dari tempat tidur" ucap Anton saat Hilya menuntun nya.


" Sepertinya kamar ini begitu luas, untuk sampai ke kamar mandi saja butuh 37langkah."


" Hmm.." Anton segera masuk ke dalam kamar mandi, sedang Hilya mencari baju nyaman buat tidur suaminya.


Waktu menunjukan pukul 22:00 Hilya merasa terlalu lama Anton di dalam kamar mandi, Hilya mulai sedikit khawatir.


"Mas. mas Anton!! apa mas baik-baik saja??".


Tidak ada jawaban dari dalam.


Mas. maaass!!" Hilya mulai tidak tenang , di putarnya kenop pintu kamar mandi, dengan cepat kakinya melangkah kedalam kamar mandi.


Mata Hilya membola saat melihat Anton mengguyur tubuhnya dengan masih memakai pakaian lengkap.


" Mas Anton!!".


" JANGAN mendekat, ku mohon keluarlah!!".


" Mas, udara begitu dingin, dan ini sudah cukup malam. tidak baik mas Anton masih bermain air.


" Aku tidak sedang bermain, tolong biarkan aku disini."


Hilya tak mendengar perkataan Anton, Hilya segera mengambil handuk dan jubah mandi.


Tangan Hilya terulur mematikan shower dan dengan cepat menarik Anton duduk di closed.


Anton tersentak mendapatkan perlakuan istrinya


" Apa yang kamu lakukan!! aku bukan anak kecil yang harus kau urus." sentak Anton dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


Namun Hilya tak memperdulikan nya, tangan Hilya mulai bergerak mengeringkan rambut suaminya.


Dan tanpa menunggu lama Hilya segera ingin membuka pakaian Anton, tapi ucapan Anton membuat Hilya terkejut.


" JANGAN kau sentuh tubuhku dengan kulit mu.


aa aku dalam pengaruh obat, aku tak mempu mengendalikan tubuh ku." ucap Anton dengan tubuh bergetar.


Hilya terpaku menatap wajah tampan suaminya. bagaimana bisa Anton dalam pengaruh obat sedangkan semua yang hadir adalah orang orang yang cukup mereka kenal semuanya.


Hingga Hilya pada akhirnya terseyum. pasti ini ulah Papanya. yang meminta Arkab untuk membuat Anton lepas kendali, papa Hilya benar-benar ingin segera Hilya hamil agar Papa Hilya akan mudah membalas perbuatan Adnan pada Hilya.


Hilya menatap lagi wajah suaminya, Anton tidak seharusnya menanggung semua sendiri, karena biar bagaimanapun ini perbuatan orang yang begitu menyayangi nya.


Lagian Hilya merasa hubungan mereka sudah halal apapun yang terjadi diantara mereka tidak lagi menimbulkan dosa.


Hujan turun begitu derasnya, Hilya tak menghiraukan suaminya yang meminta nya terus pergi , Hilya tetap melepas kemeja yang dikenakan suaminya.


" Lepas celana mas sendiri, saya tunggu di luar jangan terus disini tempatnya lembab dan dingin. "setelah mengucapkan itu Hilya keluar meninggalkan Anton, yang saat ini sedang mencerna ucapan sang istri.