Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
175.Pengantin baru



"Yang ada apa??" Anton bertanya sesaat setelah keluarga Adnan pulang


Bukanya menjawab Hilya justru menyandarkan kepalanya di bahu sang suami


Anton terseyum lembut, tanganya segera membelai pipi mulus sang istri


" Yang!!"


" Tidak mas' aku hanya lelah!!" Hilya memejamkan matanya, tidak mungkin Hilya jujur akan wasiat kakek Adnan yang ingin melihatnya bersatu kembali dengan sang mantan, cukup sekali kakek Adnan merecoki rumah tangganya terdahulu, jangan sampai Hilya harus kembali merasakan sakit yang kedua kalinya karena permintaan kakek Adnan


" Kepikiran tentang permintaan kakek Adnan sebelum meninggal hmm??"


Hilya terkejut, refleks matanya langsung terbuka lebar, dari mana suaminya tau akan hal itu


" Jangan terlalu difikirkan!! saat Tante berbicara tadi aku tak sengaja mendengar nya!!"


" Mas!! maafkan aku!!" Hilya menatap bersalah Suaminya


" Tidak ada yang perlu di maafkan Yang!! menurut ku itu wajar kakek menginginkan kalian bersama kembali, karena pasti hatinya begitu merasa bersalah karena secara tidak langsung, beliaulah penyebab perpisahan kalian dulu, dengan melihat kalian kembali bersama maka rasa bersalah itu akan sedikit berkurang, terkadang pemikiran orang tua sesingkat dan sesimpel itu!! tanpa tau hati orang bisa berubah kapan saja, aku begitu mencintaimu Yang!! dan akupun percaya kamu begitu mencintaiku, dengan cara ingin memendam sendiri kegundahan hati mu membuktikan bahwa dirimu begitu menjaga perasaan ku Yang!! padahal apapun itu cobalah berbagi dengan ku Yang!!, aku tak hanya ingin menjadi belahan jiwamu tetapi juga ingin menjadi belahan hati mu!!" Anton mencium kening istrinya


Hilya menghambur dipelukan suaminya


bagaimana caranya dirinya memenuhi keinginan kakek Adnan, sedang hatinya dipenuhi cinta untuk Suaminya Anton, benar kata orang, hati seseorang siapa yang tau hari ini untuk siapa besok untuk siapa


Dulu Hilya begitu menginginkan hidup bersama dengan Adnan, menjadi makmumnya, memikirkan masa depan yang indah, namun apa boleh buat jika memang jodohnya bersama Adnan hanya sebatas satu tahun saja, meskipun untuk bersatu memerlukan waktu bertahun-tahun lamanya, Manusia hanya bisa berencana tapi Allah lah yang menulis skenario kehidupan makhluk nya


" Aku mencintaimu mas'!!" Hilya tengelam di pelukan Anton


" Aku juga Yang!! aku begitu mencintaimu istri ku Hilya Nafisah!!


Hilya terseyum


" Ehm' ehm'"


"Umi!!" Anton dan Hilya menatap Uminya malu-malu


" Sebenarnya yang pengantin baru putri Umi atau Putra Umi sich?? kok rasanya umi gak bisa ngebedain gitu mana pengantin baru mana pengantin kawakan!!" sindir Umi Anton


Hilya terseyum


" Umi ih, ini namanya serasi Umi, mau baru, mau lama harus tetap mesra!! ya gak Yang??"Anton mencari pembelaan hilya, tapi yang di mintain pembelaan malah lari masuk kamar


" Ya sudah sana istirahat!!


Anton nyengir " Umi juga cepat istirahat, jangan berduaan dengan Abah Mulu, kecuali sudah halal kembali."


Umi Anton melototin anaknya, sedang Anton lari menghindari tatapan uminya sambil tersenyum


_______________________


Di klamar pengantin baru


Dini baru saja membersihkan diri, sedang Zahfran terlihat fokus membaca buku panduan kehidupan rumah tangga setelah menikah sesuai Sunnah


"Nas' Zahfran!!" sapa Dini


Zahfran langsung menoleh ke sumber suara


" Panggilan yang bagus!!" komentarnya


Dini terseyum malu-malu


" Sayangnya kalo disini aku gak di izinin mas Anton panggil kamu sayang!! katanya ikutan Dia!!"


Dini tertawa


" Aa selalu gitu, sensitif sekali soal pangilan untuk kak Hilya!!"


" Aku ingin menjadi seperti A A kamu!!


" Jangan dong!! cukup AA ajah yang nyebelin!! kamu Jangan!!" Dini menimpali


" Cara bersikap nya cintaku, bukan nyebelinya!!"


Muka dini blusing mendengar panggilan cintaku dari Zahfran


" Dini!! aku masih bingung dengan panduan doa sebelum kita berdua berjimak, bisa kamu ajarin aku sebelum kita melakukannya??"


Kini tak hanya wajah Dini yang memerah bahkan kedua telinganya turut memerah karena merasa malu, astagaaa polos atau apa sich Zahfran iniii, sampai bahasanya begitu terang-terangan, tak taukah Zahfran Dini sendiri belum memahami akan hal itu, ini juga pengalaman pertama untuk Dini, menjadi seorang istri saja begitu membuatnya gerogi apalagi membahas masalah berjimak