
Masalah kantor nyatanya menyita waktu Hilya dan Adnan.
Bahkan Hilya dan Adnan belum sempat bertemu setelah perpisahan mereka di pagi hari.
Waktu sudah menunjukan pukul 21.00
Hilya baru menapaki kediamannya, raut lelah jelas menghiasi wajah ayu Hilya, tapi seberapa lelahnya Hilya, wanita tangguh itu tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, bahkan setelah selesai shalat, Hilya segera bergegas menunggu kepulangan Suaminya.
Jam terus bergerak ke arah Angka di atasnya akan tetapi belum ada tanda-tanda kedatangan Adnan.
Hilya duduk bersandar di sofa, membawa lengan kanannya ke atas menutup matanya, Hilya mencoba mencari posisi lebih nyaman, hingga akhirnya Hilya terlelap di ruang tamu menunggu kedatangan Adnan
Pukul 1 dini hari Adnan baru saja turun dari mobilnya, penampilan nya sudah tak Serapi tadi pagi
kemeja yang digulung hingga lengan, jas yang sudah menyampir di bahu, dasi yang miring dan longgar, di tambah wajah yang lelah yang begitu kentara.
Adnan baru saja memasuki rumah saat mata ngantuk nya menangkap sosok Hilya yang tertidur menunggu dirinya
Lelah Adnan lenyap melihat pemandangan itu, Adnan seperti mendapat tenaga dadakan, langkahnya bergegas mendekati Hilya, senyum indah terpatri di wajahnya
Apa yang lebih membahagiakan saat Hilya rela tidur tak nyaman demi menunggu dirinya, Adnan merasa di hargai, Adnan merasa di sayangi oleh istrinya
Adnan meletakkan tas dan jas kerjanya, membawa tangan kokohnya di balik tengkuk dan kaki istrinya, sedetik kemudian tubuh Hilya telah berada di gendongan nya, Adnan membawa istrinya menuju kamar
Hilya bukanya terbangun, justru malah mencari posisi nyaman di dekapan Adnan, membuat hati Adnan kian menghangat
Undakan tangga tak membebani Adnan, Adnan merasa istrinya begitu ringan, Adnan membawa tubuh Hilya di tempat tidur, menurunkan istrinya begitu perlahan , bahkan beberapa kali mencium lembut kening istrinya, sebelum dirinya pergi membersihkan diri
Sepeninggalan Adnan, mata Hilya terbuka, senyum indahnya terukir, tangan Hilya terangkat membelai bekas ciuman Suami nya
Sangat romantis
Hilya turun dari tempat tidur, tujuanya yaitu dapur, membuatkan minum Adnan dan juga menyiapkan makanan, Hilya tau pasti suaminya belum sempat makan malam
" Dek' sayang!!" ternyata Adnan menyusul Hilya
Hilya tersenyum sambil membalik telur ceplok di atas teflon
" Istri mas ngapain??" tanya Adnan lembut
Hilya tak menjawab, tetapi dengan sigap mendorong tubuh Adnan kearah meja makan
" Duduk mas!!" titahnya
" Tap......
ucapan Adnan tak selesai saat Hilya menatapnya dengan satu alis terangkat, Adnan mengalah dan duduk diam dan tenang
10 menit kemudian
Hilya membawa nasi goreng yang diatasnya ada acar dan juga telur ceplok, tak lupa teh Yasmine yang diberi madu
" Dimakan mas, setelahnya mas istirahat, besok tidak perlu datang ke kantor, tadi aku sudah miting tentang perpindahan kantor sementara yang akan kita mulai lusa!!"
Adnan tersenyum
" Adek tidak makan??" tanya Adnan
" CK' itu untuk dua porsi aku jadikan satu mas!!"
senyum Adnan kian lebar
" Jadi kita makan satu piring berdua lagi nih??, kenapa gak bilang kalau adek mau disuapi mas??"
" Mas!!" tegur Hilya, tapi tak dipungkiri ucapan Adnan membuat pipi Hilya merona
Adnan tertawa
Adnan menatap serius istrinya, yang membuat Hilya membeku, tapi tak lama karena Hilya menemukan sesuatu yang menarik perhatian nya
" Mas semalaman benar tak tidur?? ya Allah mata mas sampai berkantung!!" Hilya membelai lembut kantung mata Adnan, wajah Hilya tampak begitu perduli yang lagi-lagi membuat Adnan kian bahagia.