
" Sayang aku mencintaimu"
" Pergilah mas" ucap Hilya lemah.
" Sayang..maafkan aku.
bukanya kamu menyayangi ku??"
"Pergi" ucap Hilya menangis.
Anton merengkuh tubuh istrinya. saat badan Anton menempel dengan tubuh istrinya rasa panas tubuh Hilya dapat Anton rasakan, istri nya sedang demam.
Hilya meronta didalam dekapan Anton.
" pergi!! pergi!!..ku mohon pergilah..." ucap Hilya emosi.
Anton melepaskan dekapannya.
" Sayang apa tidak ada setitik rasa sayang untuk ku lagi" tanya Anton pedih
Hilya mengeleng.
" Kamu tidak merindukan ku??".
Hilya menggeleng lagi.
Anton berjongkok menekuk lututnya. "Aku minta maaf sayang! maafkan aku! aku tanya sekali lagi.. tidakkah kamu merasakan apa yang aku rasakan??".
"Berpisah dengan mu membuatku gila sayang, aku tidak bisa tidur nyenyak, aku tidak bisa makan dengan lahap, fikiranku tertuju hanya kepada mu sayang! tidak kah kau merasakan sedikit saja rasa itu dihatimu??".
BOHONG jika Hilya tidak merindukan Anton, nyatanya kepergian Anton membuat Hilya merasa kehilangan semangat hidup.
Dua hari ini Hilya begitu merindukan sosok suaminya, semua yang ada pada diri Anton, tawanya, pelukan nya, suaranya semua Hilya rindukan.
Hanya saja Hilya kecewa dengan Anton yang tak mau mendengarkan penjelasan nya tentang kejadian itu. Seharusnya jika memang Anton mencintai diri nya Anton juga harus mengenali bagaimana selama ini Hilya bersikap dengan seorang pria.
Bahkan kepergian Anton lebih menyakitkan dari pada saat dia harus terpaksa meninggalkan Adnan, apa Hilya begitu mencintai Anton?? cinta yang jauh lebih besar dari cintanya pada Adnan mungkin kah??
Dua kata yang Anton rasa begitu menghancurkan dunianya.
Anton terseyum dengan derai air matanya yang mengalir. Isakanya menyayat hati Hilya.
" Kamu tau sayang, saat ini aku lebih memilih buta dari pada melihatmu hidup dengan pria lain.
Maaf jika aku telah melukai perasaan mu, aku terbakar cemburu, aku takut Adnan merebutmu kembali, namun tak pernah ku sangka bahwa akulah yang mengalahkan diriku sendiri."
Anton berdiri dengan mata sembab.
" Sepertinya besok aku akan resign dari rumah sakit, aku tidak mampu melihatmu disekitar ku, aku takut lepas kendali dan memaksamu bersama ku lagi."
Anton berbalik.. matanya mendongak menghalau air matanya agar tak jatuh, tapi sia-sia air mata itu kembali mengalir di sudut air matanya dan jatuh kelantai.
Hilya tak sanggup melihat kehancuran Anton, Hilya merasa kesedihan Anton adalah kesedihan nya juga.
Saat Anton akan melangkah, suara Hilya menghentikannya.
" Mas!!".
Anton tidak menoleh, Anton takut dia hanya berhalusinasi mendengar panggilan istri nya.
Anton melanjutkan langkahnya dengan hati remuk, saat hendak melewati pintu, tiba-tiba Hilya berlari memeluk tubuh nya dari belakang.
" Kamu bohong. Kamu pembohong, Kamu pernah berjanji takkan pernah meninggalkan ku apapun yang terjadi Tooon!! tapi kenapa kamu akan pergi kedua kalinya dari hidupku??" cecar Hilya di punggung suaminya.
" Kenapa kamu bertanya tantang perasaan sayang ku padamu, tidakkah tindakan ku selama ini telah membuktikan betapa aku menyayangimu. Bahkan nama mu begitu memenuhi ruang hatiku, hingga tak ada tempat bagi nama pria manapun yang bisa memasukinya.
tidak kah kamu merasakan betapa hancurnya aku tanpamu Ton. aku. aku .____
Anton segera berbalik, menghujani istrinya dengan kecupan bertubi-tubi. "Pukul aku sayang, tampar aku, tapi jangan kamu membenciku."
Hilya mendongak. "aku memang membencimu, sangat membencimu, kau telah membuatku jatuh cinta pada pria pembohong seperti dirimu."