
Rintik hujan menyambut pagi yang begitu dingin
Seusai sholat subuh, Hilya berkumpul bersama keluarga di ruang tengah tak ada aktivitas memasak sarapan seperti biasa
Hari ini mereka semua hendak mengantar Anton pergi ke bandara, tidak seperti cerita novel bahwa orang kaya memiliki jet pribadi, nyatanya keluarga Hilya masih tergolong kaya yang tak seberlebihan itu
" Bisakah mas tetap disini!!" Hilya meraih jemari Anton
" Yang, aku ing....
" Aku gak mau mas pergi!!" Hilya memotong ucapan Anton
" Tapi Sayang yang ingin mas berobat ke luar negeri!!
" Itu dulu....!!" suara Hilya mulai bergetar
" I T U - D U L U... !!" eja Hilya pada setiap hurufnya
Semua mata mengarah memandang dua insan yang tengah berdebat di tengah keluarga
" YANG, tapi Fauzan telah menyiapkan semua keperluanku!!" bantah Anton
" Aku sudah tau mas, kangker itu sudah menyebar, Fauzan sudah menjelaskan semuanya, apa mas Anton ingin membodohi ku??" Hilya mengatakan dengan tersendal-sendal
Umi Anton dan semua terkejut mendengar ucapan Hilya, begitupun juga Anton
" Ku bilang cukup maaaaas!! CUKUP bertindak semau mu sendiri!! aku ini istrimu.... aku siap menerima kenyataan apapun bahkan kemungkinan terburuk yang akan kamu alami, tapi tolooooong izin kan aku turut andil dalam setiap langkahmu, jika kau ingin pergi bisakah tubuh ku ini menjadi persinggahan terakhir ragamu?? jika memang kita akan dipisahkan kematian bisakah aku menjadi tempat mu berpulang?? ini!!! Hilya memukul dadanya..
" Ini adalah rumah mu____ pulang kesini___ peluk aku....!! karena aku rumah mu_____sandarkan _____ pasrahkan dan aku akan merelakan jika mas telah tak mampu, tapi tolooooooonggg!!!!!!, jadikan aku sandaran terakhir mu_______!!!" kali ini semua orang menangis
Anton pun tak kalah mengenaskan, tangisnya pecah di iringi darah yang mengalir dari hidungnya, lagi-lagi Anton gagal menyembunyikan sesuatu dari Hilya
Zahfran yang melihat darah menetes dari hidung Kaka iparnya sigap mendekatinya, dan benar beberapa detik kemudian tubuh Anton ambruk di rengkuhan Zahfran
Hilya meraung dengan tangis kepedihan, semua orang menangis
Anton dilarikan kerumah sakit dengan di iringi Isak tangis semuanya, bahkan Hilya sempat tak sadarkan diri sejenak, faktor setres dan kurang istirahat
kini, Anton hanya dirawat tanpa jadwal kemo , harapan semua adalah mukjizat Allah
_______
Empat jam Anton tak sadarkan diri, sedang Hilya sudah sadar 2 jam lalu
Hilya tak melepaskan barang sejenak tangan suami nya sesaat setelah sadar, bahkan kini tangan Hilya pun tertancap jarum infus karena Hilya begitu lemas tak bertenaga yang membuatnya tumbang hingga dirinya mau tak mau membiarkan Dokter memasang jarum infus untuk nya
Nyatanya air mata Hilya tak pernah mengering, meski berbulan dirinya selalu menangis
Menatap tubuh pucat suaminya dengan deru nafas samar itu tak mampu membuat pertahanan dirinya kokoh, karena sekali lagi bendungan air mata itu jebol dengan sejuta harapan yang sepertinya kian menipis
" Tidurlah lah Hil, aku akan membangun kan mu nanti jika Anton sadar!!"
Mendengar penuturan Fauzan tak lantas membuat Hilya, bergerak barang sejengkal, bahkan untuk menatap Fauzan pun tidak
" Kenapa Allah mengujiku seperti ini?? mengapa aku selalu kehilangan suamiku di saat aku sangat mencintai nya, dulu mas Adnan, kini ..
Hilya tak mampu meneruskan ucapan nya.. karena lagi-lagi rasa sesak membuatnya terengah dan sulit bicara, laju airmatanya pun kian deras, sedang Fauzan hanya mampu menatap nanar wanita yang di ambang kehancuran itu