
Dini sedang bersiap menutup toko bunga milik Umi nya, semenjak penculikan dan kelahiran si kecil Khansa, umi Anton fokus mengurus cucu dan menantu kesayangan nya, sedang Dini mengantikan tugas sang umi mengelola toko bunga
Setelah semua terkunci rapat Dini segera bergegas menuju motor miliknya, namun tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tangan nya dengan lembut.
"Din!! kita perlu bicara"
Zahfran dengan tampilan khas ojek online nya menarik lembut pergelangan tangan Dini.
" Udah free gak narik ??" ucap Dini saat mengetahui bahwa Zahfran lah yang menarik tangan nya.
" IYa ada yang pingin aku omongin sama kamu!!"
" Boleh!!, kita masuk atau...
" Cari cafe saja!!" potong Zahfran cepat
" Baiklah" Dini hentak melangkah, namun lagi-lagi Zahfran menarik pergelangan tangannya.
" Goncangan sama aku gak papa kan?? kamu gak keberatan kan di bonceng ?? "ucap Zahfran dengan menatap wajah Dini.
" Ayo!! sembarang saja!!"
Tampak Zahfran menghela nafasnya lega
Sekitar 15 menit kini Zahfran dan Dini sedang duduk saling berhadapan dengan sebuah minuman di hadapan masing-masing
" Dini aku mau bicara!!" Zahfran memulai obrolan mereka
" Bicara saja!!"
" Jadi gini Din, sebenarnya ada hal yang membuat diri ku ragu untuk melangkah dengan mu. " ucap Zahfran hati-hati
Dini terlihat mengerutkan keningnya
Zahfran berucap dengan pandangan lekat ke arah Dini, sedangkan Dini tak ada niat menyela ucapan Zahfran, memberi waktu bagi Zahfran untuk meluapkan isi hatinya.
"Tapi hari ini aku kembali mendapatkan kepercayaan diri ku, setelah mendengar ucapan Umi yang dengan tangan terbuka untuk membuka peluang untuk ku membersamaimu, aku bahagia Din, perkataan Umi seolah harapan yang selama ini kunanti"
"Tapi sebelum aku melangkah maju aku ingin kau mengetahui keburukan apa yang pernah di alami mas Anton karena ulah ku. itu terjadi Setidaknya beberapa tahun lalu, saat itu aku sedang berada di club', mabuk dan ya begitulah dan pada saat yang sama aku bertemu dengan seorang wanita yang bernama Dania, kami ngobrol, mabuk bersama dan memutuskan untuk menghabiskan malam bersama, tolong di garis bawahi Din!!
Kami sepakat untuk menghabiskan malam bersama, jadi disini ada kesepakatan,, tapi tanpa aku ketahui Ibu melihat kejadian itu dan justru menjebak mas Anton yang seolah meniduri Dania dan pada akhirnya mereka menikah."
Zahfran menghela nafasnya
"Alasan Ibu adalah tidak ingin aku menanggung perbuatan ku pada wanita itu, padahal meski tak ada mas Anton, aku dan Dania juga tidak bakalan saling menuntut, karena sedari awal aku dan dia memang sama-sama menerima, oleh sebab itulah aku tak merasa bersalah, namun aku tak tau bahwa ternyata ada sosok lain yang di jadikan tumbal oleh Ibu."
Ucap Zahfran kali ini dengan binar mata penyesalan menatap lekat netra Dini
Zahfran sedikit terkejut saat melihat Dini yang tak menampilkan emosi ataupun keterkejutan dari wajahnya, Dini tetap dengan pandangan tenang dan nyaman.
" Kamu' tidak marah??"
" Untuk apa??"Aku udah tau Zahfran!!"
" Kamu tau?? dari siapa??"
" Dari mba Zi, pasti kamu juga tau itu dari mba Zi kan??" Dini balik bertanya.
" Ah iyaa!!" jawab Zahfran yang menjadi sedikit kikuk.
" Jadi apa kamu masih mau menerima kalau aku mengajukan diri jadi imam mu?? meski kamu tau kenyataan nya bahwa aku tidak hanya punya penyakit, tapi nyatanya aku juga sudah tak perjaka lagi, bahkan akupun tak bisa menghitung sudah berapa lubang yang aku masuki." lirih Zahfran.
Wajah Dini Merah merona mendengar ucapan Zahfran yang begitu fulgar dan terlalu terang-terangan, jujur ada sebagian hati Dini yang terluka mengetahui calon imamnya pernah menjadi **** kompulsif, tapi bukankah seseorang itu bisa saja berubah, tidak ada salahnya bukan memberi kesempatan kepada Zahfran, memberi kepercayaan untuk berkomitmen bersama nya.