
Adnan duduk gelisah di pinggir tempat tidur, menunggu sang istri yang masih berada di kamar mandi
Di dalam kamar mandi Hilya pun tak kalah gelisah nya, Hilya bimbang ingin memakai kembali penutup kepalanya atau tidak, bukankah Adnan berhak melihat rambutnya??"
20 menit kemudian Hilya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi
Adnan yang mendengar pintu terbuka, langsung memutar kepalanya
Hilya tersenyum manis, menutupi rasa gugupnya, karena Hilya memutuskan untuk melepas hijab nya di depan Suaminya Adnan
Adnan langsung berdiri melihat Hilya yang keluar dari kamar mandi
" Mas ke dalam dulu dek'!!" pamit Adnan dan segera masuk ke dalam kamar mandi, yang baru saja di tempati Hilya, setelah pintu tertutup Adnan segera bersandar di daun pintu, membawa tangan kanannya di atas dadanya, Adnan gugup luar biasa, menatap senyum Hilya dan lagi saat menyadari Hilya tak memakai hijab di hadapannya
gak kuat ya Allah!! istri ku terlalu cantik dan menarik, akan lebih baik aku tidur di kamar lain saja
Adnan berlalu duduk di closed, Adnan masuk kekamar mandi bukan karena ingin buang hajat, niatnya hanya untuk menghindari pesona Hilya
Beberapa saat Adnan berdiri, tapi saat tanganya ingin menarik handle pintu Adnan tiba-tiba berbalik dan kembali duduk di closed kini kedua jemarinya saling meremas
Hilya yang mendapati Adnan tak kunjung keluar dari kamar mandi mulai khawatir
Kaki jenjangnya melangkah mendekati pintu, tanpa pikir panjang Hilya langsung menarik handle pintu
Mata Hilya bertemu dengan mata Adnan, Hilya bingung melihat Adnan yang hanya duduk diatas closed, sedang Adnan menjadi seperti orang bodoh yang ketahuan bertindak konyol, Adnan hanya mampu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Mas Adnan sedang apa??" tanya Hilya membuka suara
Adnan yang ketahuan bertindak konyol hanya mampu tersenyum
" CK' kayak gak ada tempat nongkrong yang layak saja!!" ucap Hilya mencibir, Hilya ingin menghilangkan kecanggungan
" Mas gugup!!" jujur Adnan
Hilya yang mendengar Adnan berkata gugup akhirnya tersenyum, dirinyapun tadi melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan oleh Adnan, duduk di closed sambil mencari keberanian hanya untuk keluar kamar mandi
" Udah malam, kita sebaiknya segera tidur mas, besok mas Adnan harus bekerja bukan??"
" Apakah mas kurang nyaman dengan keadaan kita??"
" Bukan begitu Hanya....
" Aku ngerti mas' baiklah senyaman nya mas Saja!"
Hilya sedikit kecewa dengan keputusan Adnan, begitu juga Adnan, Adnan pun kecewa saat Hilya tak mencegahnya
" Kalo gitu mas ke- kamar Khansa dulu, kamu tidur yang nyenyak ya'!! Assalamualaikum.."
Hilya tersenyum dan menjawab salam Adnan
Adnan melangkah gontai menuju kamar Khansa, membuka pintu kamar anaknya, menatap sekeliling kamar yang tampak sepi, Adnan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tatapan matanya tertuju pada langit-langit kamar, beberapa saat termenung tiba-tiba Adnan mengumpat kesal
" Bodoh kau Adnan!! kenapa kau bertingkah seperti menjauhi Hilya??, bukankah selama ini tujuan mu adalah kembali dekat dengan Hilya, kenapa saat Hilya sudah memberi jalan kau malah menyia-nyiakan nya... bodoh, bodoh, bodoh!!" rutuk Adnan pada dirinya sendiri
Tak seberapa lama, akhirnya Adnan memutuskan untuk kembali ke kamar sang istri
"buang gengsi Adnan, demi Hilya, demi Hilya, demi hilya" rapal Adnan sambil terus melangkah menuju kamar istrinya
Membuka pintu kamar yang memang tak dikunci oleh si penghuni, Adnan melangkah mendekati tempat tidur dimana sang istri berbaring, saat ingin membuka suara Adnan segera mengurungkan niatnya, saat Adnan menatap mata Hilya yang sudah terpejam, istrinya telah tidur lelap
Senyum Adnan tersungging, Adnan mengamati wajah damai istrinya
Tangan Adnan terulur ingin menyentuh rambut istri nya tapi kemudian Adnan tarik kembali, terulur lagi dan di tariknya kembali, itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya Adnan tak jadi menyentuh Hilya, takut sang istri terganggu
Adnan sedikit membungkuk guna menatap lekat wajah istrinya
" Tidur yang nyenyak sayang... mas mencintaimu!!" ungkap Adnan lirih sebelum pergi kembali ke kamar putrinya
Saat pintu kembali tertutup bersamaan dengan itu Hilya kembali membuka matanya
Tadi sebenarnya Hilya belum tertidur, tapi ketika Hilya mendengar langkah seseorang yang sedang menuju kamarnya Hilya terpaksa berpura-pura tidur