Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
72.Salah faham



Sampai di garasi mobil, Hilya berdecak melihat ponselnya tidak ada di dalam tas, maupun Dashboard mobil wajah ceria itu berubah murung.


Anton yang ingin bergegas keluar mobil , melihat kegelisahan istri nya.


" Ada apa??"


" Nas ponsel ku ketinggalan, mas masuk gin!! biar aku balik kerumah sakit sebentar."


Anton terseyum segera keluar dari mobil, namun bukanya masuk rumah Anton justru memutari mobil dan membuka pintu tepat istri nya duduk.


" Biar aku ajah yang ambil, kamu masuk istirahat dulu." ucap Anton mengantikan Hilya duduk di kursi kemudi.


" Tapi mas belum....


" Sttttt, aku oke!!"


Ucapan Hilya di potong oleh Anton cepat.


Akhirnya Hilya membiarkan Anton pergi lagi ke rumah sakit sendirian, ada rasa takut di hati Hilya melepas kepergian Anton sendiri, bahkan karena rasa khawatirnya Hilya ikut berdiri di pinggir jalan untuk melihat kepergian Anton hingga mobil itu berbelok dan tak terlihat.


Sedangkan Adnan yang celingukan mencari kemana mobil Hilya masuk , bingung saat ada sebuah mobil berlawanan arah dan itu adalah mobil mantan istrinya.


Saat hendak ikut putar arah , mata Adnan menangkap sosok wanita yang dicari nya yaitu Hilya sedang berdiri di pinggir jalan.


Adnan segera menambah kecepatan mobilnya dan segera menepikannya di dekat wanita yang hendak memasuki rumahnya itu.


" Hilya tunggu!!"


Hilya menoleh, terkejut saat melihat Adnan berdiri di depan rumah nya.


"Ustadz Adnan??"


Adnan terseyum kecut mendengar panggilan mantan istrinya, yang sudah tak lagi memanggilnya dengan sebutan mas'.


Adnan segera mendekati Hilya.


"Ada yang perlu kita bicarakan!!".


Hilya membasahi bibirnya yang kering dengan menekuk bibirnya kedalam, membuat fikiran Adnan tertuju pada ingatan dimana tangan Anton tadi sempat mengusap bibir itu. bibir yang begitu Adnan rindukan, tidak hanya rasa dan sensasinya saja , namun juga kata-kata yang diucapkan dari bibir cantik itu.


"Please Hilya!! hanya sebentar."


Hilya berfikir sejenak, Namun kemudian mengangguk kecil.


" Ah iya, silahkan ustadz!!."


Hilya mempersilahkan Adnan untuk duduk di teras rumah, Hilya masuk kedalam rumah untuk mengambil minuman untuk Adnan.


"Silahkan!!"


Adnan terseyum lembut "Terimakasih"


Adnan memandang wajah mantan istrinya


" Maaf, boleh aku minta air putih saja??"


Hilya dengan ragu mengangguk, dan kembali masuk kedalam rumah.


Sedangkan Anton yang hampir sampai di rumah sakit dikagetkan dengan suara dering ponsel istrinya yang ternyata terjatuh di bawah kursi kemudi. Anton tertawa bodoh, dan segera berbalik arah. senyum tak pernah luntur diwajah Dokter tampan itu.


Karna jarak yang tidak terlalu jauh maka Anton telah sampai kembali di pos penjagaan dan disapa ramah oleh mereka, karena atribut Anton masih lengkap, satpam mengira Anton adalah seorang dokter langganan pemilik salah satu perumahan ini.


Sedangkan Adnan yang menunggu Hilya tak juga keluar dari rumah mulai khawatir, Adnan berucap salam, namun tak mendapatkan jawaban dari dalam, kaki Adnan melangkah mendekati sebuah ruangan yang tampak sunyi, hanya terdapat sebuah kursi roda yang diletakkan dekat dinding.


Tapi Adnan tak menghiraukan nya kakinya melangkah semakin jauh, saat hendak memanggil Hilya ternyata Hilya muncul dari dapur dengan air mata yang mengalir di matanya.


Adnan terkejut, melihat Hilya menangis.


Begitu juga Hilya terkejut, melihat Adnan memasuki rumahnya.


"Maaf, aku hanya khawatir karena kamu terlalu lama."


" Ah maaf tapi tadi saat aku mau mengambil minum mataku kemasukan sesuatu, dan sepertinya susah sekali keluar."


Hilya masih menekan- nekan telunjuknya di pinggir matanya.


" Pedih, masih terasa ada yang masuk??"


Hilya hanya mengangguk.


Adnan mendekati tubuh Hilya


" Biar ku cek, mungkin bisa ku bantu."


Hilya tak menjawab, bibirnya diam, Hilya pikir tak ada salahnya Adnan membantunya, karena Hilya merasa matanya begitu perih.


Namun, ternyata Anton salah faham, Anton mengira Hilya dan seorang pria sedang berciuman.


Hingga teriakan Anton membuat Adnan dan Hilya terperanjat kaget, tidak hanya Adnan dan Hilya, namun Anton pun tak kalah terkejutnya melihat siapa yang sedang bersama istrinya.


Anton berlalu meninggalkan Adnan dan Hilya memasuki kamarnya, membanting pintu begitu keras membuat Hilya terkejut.