Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
160.Lamaran 2



Zahfran melirik Dini yang cemberut, Zahfran tau pasti Dini kesal dengan nya, namun Zahfran justru tersenyum melihat Dini yang merajuk begitu.


" CK, kamu ini dek !! lihatlah sampai Zahfran saja masih belum ber istirahat sepulang kerja langsung kesini, apa gak bisa besok-besok kasian Dong Zahfran nya!!" Anton menasehati adek nya.


" Ish!! apaan sich A!! tadinya itu Zahfran mau ajakin aku ngobrol masalah hubungan aku sama dia, ya wajar donk aku tanya kapan dia mau ngelamar aku secara resmi!!"


"Tadi bilang Zahfran kamu maksa!!" goda Umi Anton pada putrinya


" Enggak mi, itutu gak kayak gitu, ihhh Zahfran!!!" Dini melotot pada Zahfran, merasa sangat kesal.


Tak disangka, tiba-tiba Zahfran tertawa renyah, suara tawanya sangat enak di dengar, Dini saja sempat terpaku.


Beberapa saat Zahfran meredam tawanya, wajahnya menatap sayang wajah Dini yang tampak terpana dengan tawa Zahfran.


Senyumnya tersungging menatap mereka satu persatu.


"Bismillah, maaf Umi saya sedang menggoda calon istri saya saja," ucap Zahfran dengan tersenyum kearah Dini, membuat Dini menatap lekat wajah Zahfran


"Memang sich saya pada awalnya ingin menunda dulu melamar Dini karena tunggu usia saya genap 19th bulan depan, tidak cuma itu saja Umi, saya dengar Abah dan Ibu juga kemarin belum resmi bercerai makanya saya tunggu Ibu resmi pisah dulu dengan Abah"


Zahfran menghela nafasnya, "dan saya juga belum dinyatakan sehat sepenuhnya, itu yang membuat saya masih mempertimbangkan keputusan saya meminang putri Umi"


"Malu Umi kalau saya tiba-tiba sakau di depan istri saya, cukup Dini pernah melihat saya kambuh dari penyakit saya saja itu membuat saya malu sampai sekarang!! apalagi sampai melihat saya sakau!!." Zahfran tersenyum di akhir kalimatnya


" Jadi kamu ikut Stabilisasi?" Anton menimpali masalah Zahfran, Astaghfirullah hampir saja dia lupa bahwa adik tirinya ini masih membutuhkan perhatian khusus.


Zahfran mengeleng


" Dokter sempat heran karena meski berhenti mendadak tubuh saya tidak memberi tekanan apapun atau keresahan yang biasa di alami pecandu mas, sempat saya gelisah luar biasa tapi bukan karena sakau, tapi karena tekanan calon istri yang minta segera dilamar!!"


Umi, Anton, Hilya, bahkan Abah Anton tertawa mendengar Zahfran yang mengoda Dini. Anton sendiri merasa lega dengan ucapan Adik tirinya itu, sedangkan Dini rasa-rasanya tidak mengenal sosok Zahfran, bagaimana mungkin pria di hadapannya itu berubah menjadi pria pengoda begitu??"


"Itu mah kamu terlalu nervous Zahfran!! bukan gelisah." Hilya turut mengoda


" Iya kayaknya Kak!! habis cantik sich Dini!!, makanya Dokter tidak membatasi ruang gerak saya, karena tanpa adanya dukungan kerabat, jiwa saya sendiri begitu kuat memotivasi saya untuk menjadi lebih baik dan sembuh demi Dini"


Kali ini wajah Dini merona mendengar ucapan Zahfran, bahagia rasanya saat ada seseorang yang terang-terangan mengungkapkan perasaannya untuk pasangan nya.


" Jadi habis nikah nanti apa donk pangil istrimu?? Mbak?? Kak?? atau aunty!? secara tuaan dia Lo pada kamu??" Anton bertanya serius ke arah Zahfran


" A a........AA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Dini berlari menjekik leher Kakanya, membuat mereka semua tertawa, Bahkan Abah Anton merasa hidupnya kembali sempurna menyaksikan keharmonisan keluarga nya meski tanpa ada dirinya di sisi mereka nyatanya kebahagiaan tetap menyelimuti kehidupan mantan istrinya