
Hilya mendekati Pria itu tanpa menimbulkan suara, dan melambai-lambai kan tanganya dihadapannya, tak ada respon sedikitpun dari pria itu.
Setetes air mata Hilya luruh, di susul air mata berikutnya hingga tak terbendung sudah air matanya. Hilya membekap mulutnya agar meredam Isak tangisnya.
"Are you alright??". tanya Elsa pada Hilya??
Hilya hanya mengangguk, Elsa pun mengenal Pria yang sedang duduk di kursi roda itu.
Hilya menaruh telunjuknya dibibir, memberi kode agar Elsa tak membuat suara, Hilya merogoh kedalam tasnya mengambil sebuah masker dan memakainya.
Hilya menarik Elsa menjauh sebentar, meminta Elsa untuk melanjutkan perjalanan nya ke pasar, Hilya ingin bicara dengan pria yang baru ditemuinya itu. Elsa menyetujui dan segera pergi meninggalkan Hilya dan sahabat masalalunya itu.
Hilya melihat Pria itu hendak memasuki rumahnya dengan kursi rodanya, Hilya segera mendekat dan menyentuh bahu pria tersebut hingga pria tersebut menjadi kaget.
"Siapa kau??"
Awalnya Hilya ingin menyamarkan suaranya untuk menutupi identitasnya agar Anton tak mengenali suaranya namun Hilya tak mampu membohongi sahabat baiknya.
"Ini gue ton, Hilya??"
"Kau tau nama ku??"
DEG.
Hilya mematung ditempatnya, apa Anton lupa padanya.
"Ah, sorry. gue mengalami amnesia ringan yang membuat gue lupa sebagian dari ingatan lama gue, apa Loe teman sekolah gue?? kalo ya!! maaf gue gak ingat masa-masa dulu. yang dapat gue ingat hanya memory setahun belakangan ini ."
Bibir Hilya bergetar . ya Allah apa yang terjadi dengan sahabatnya ini , buta, amesia.
"Maaf, aku harus istirahat. bisa kau pergi??" tanya Anton sinis.
Hilya terpaku melihat perubahan sikap Anton .
"Tidak kah gue Loe suruh masuk sebentar, gue ....
Hilya tak menghiraukan perkataan Anton kakinya melangkah memasuki rumah kontrakan Anton.
"Hei, hei gue tak izinin Loe masuk kerumah gue .. pergi Loe!!" Anton berbicara dengan nada tinggi.
Sedangkan Hilya menatap prihatin dengan kondisi rumah yang ditinggali Anton. kemana perginya istrinya Anton?? kenapa dia membiarkan Anton tinggal dirumah petak yang begitu kumuh, bahkan bau. apa yang terjadi terhadap sahabatnya hingga hidupnya menjadi menyedihkan seperti ini??.
Hilya menyapu pandangannya keseluruh ruangan. pakaian yang berhamburan, bekas makanan dimana-mana. banyak pecahan gelas diruangan tersebut , bau yang menyengat menusuk hidung. ya Allah tidak kah ada yang mengurus sahabatnya??. tapi melihat dan mendengar penolakan Anton terhadap wanita tadi, Hilya menyimpulkan Anton lah yang tak menginginkan bantuan seseorang.
Hilya menarik nafasnya dalam-dalam.
" Bisa Loe pindah dari pintu, loe menghalangi jalan gue untuk keluar." ucap Hilya berbohong, sesungguhnya wanita itu hendak menutup pintu agar memudahkan dirinya membersihkan tempat tinggal sahabatnya.
" Apa kau telah menemukan benda yang akan kau bawa pergi??"
" Tentu, bisakah Loe menyingkir lebih kedalam??gue gak tahan mencium aroma rumah Loe yang sudah seperti kandang singa."
"Loe??" Anton geram ingin memberi perhitungan dengan wanita yang berani menghina rumahnya.
" Gue gak nyangka Dokter tampan seperti anda mau tinggal ditempat jorok seperti ini."
Anton menyerengit. "Loe tau gue pernah menjadi Dokter??".
Hilya tak menjawab, begitu Anton mendekat kearahnya Hilya segera menutup pintunya.
Hilya meraih ponselnya memberitahukan kepada Elsa, agar meninggalkan dia sendiri bersama Anton, Hilya berkata dia sama Anton sedang ada urusan. setelah mengirim pesan untuk Elsa. Hilya menatap Anton lekat.
Benar, Anton memang tidak dapat melihat, Anton hanya memandang kosong pintu dihadapannya. seolah Anton mengira Hilya telah meninggalkannya .
Saat hendak memutar badan Hilya mendengar suara Isak tangis, Hilya menatap sahabatnya prihatin. Anton terisak sedih.
"Kenapa hanya penglihatan ku yang kau ambil ya Allah, kenapa tidak sekalian nyawaku?? hamba tak sanggup hidup dalam kegelapan seperti ini!!"
Hilya mundur beberapa langkah. Hilya menangis sambil terduduk di lantai. mendengar keluh kesah Anton Hilya seolah ikut merasakan apa yang Anton rasakan.