Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
72.Rencana Adnan



Hari ini Anton resemi bekerja kembali, mereka merayakan hari ini dengan makan siang bersama, meski awalnya Hilya menolak tapi bukan Anton namanya jika tidak bisa membuat hati Hilya luluh.


Setelah selesai makan siang mereka hendak kembali ke rumah sakit seperti biasa perjalanan mereka terasa sangat menyenangkan, Anton dan Hilya kayak remaja yang baru jadian.


Keduanya asik dengan cemilan keripik singkong yang dibumbui rasa balado itu, Hilya yang memang tidak terlalu bisa makan pedas bibirnya telah memerah, keringat mulai membasahi pelipisnya.


Saat dilampu merah, Anton membuka kaca mobil, tidak tega membiarkan istrinya kepanasan, apalagi Hilya lah yang mengemudikan mobilnya meski sebenarnya AC mobil pun menyala.


Hilya senang dengan perlakuan Anton yang begitu perhatian padanya, saat Hilya menolehkan wajahnya, mengucapkan terima kasih, Anton terkekeh melihat bibir istrinya yang memerah dan ada bumbu keripik yang belepotan.


Tangan Anton mengusap lembut bibir istri nya, menghilangkan bekas bumbu itu dengan lembut, mati-matian Anton menahan hasratnya agar tidak mencium bibir menggoda istrinya karena ingat posisi dan tempat yang tidak pas.


" Boleh aku mencium bibirmu sekarang??" ucap Anton tiba-tiba.


" Boleh!! jika tidak punya malu."


Anton menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa salah tingkah. keduanya saling tatap sebelum akhirnya tertawa bersama.


Tanpa mereka sadari perilaku mereka, diperhatikan oleh Adnan, Adnan yang merasa geram lupa akan tujuan awalnya yang akan pergi ke kota malang mencari apel.


Setelah lampu tanda jalan menyala, Adnan justru mengikuti mobil milik Hilya, namun Adnan kecewa saat mobil Hilya justru masuk ke area rumah sakit, dengan hati yang sedang bergemuruh Adnan memukul setir mobil nya berkali kali.


Adnan merencana menunggu jam kerja Hilya habis, Adnan bertekad untuk berbicara hati-kehati dengan Hilya, melihat kedekatan Hilya dan Anton hati Adnan sakit. Meski Adnan mengira bahwa hubungan mereka hanya sebagai sahabat tapi ada luka menganga saat Anton berani menyentuh bibir wanitanya.


Namun pikiran itu terpatahkan saat Adnan mengingat dua pilihan yang diberikan sang istri. pilihan antara dia memilih Rena atau Hilya, pilihan yang begitu sulit untuk Adnan.


Waktu terasa begitu lama, Adnan menunggu dengan gusar, kegelisahan begitu nampak di wajahnya, Adnan hingga rela mematikan ponselnya agar Rena tidak bisa menghubungi nya dan mengganggu rencananya.


Hampir empat jam Adnan menunggu mobil Hilya keluar dari area rumah sakit, saat mobil Hilya keluar, Adnan segera membuntuti nya.


Adnan tidak tau Hilya sedang bersama Anton didalam mobil, Adnan mengira Hilya hanya sendiri dan hendak pulang.


Mobil Hilya masuk kedalam perumahan khusus, saat Adnan hendak mengikuti mobil Hilya mobil Adnan di jegat oleh satpam kompleks.


Adnan di tanya perihal kunjungan nya , dan akan kerumah no berapa, mencari sodara siapa, Adnan yang bingung menyebut asal saja bahwa dia adalah suami dr. Hilya.


Satpam perumahan itu tampak menyergit, mungkin karena baru saja dr Hilya masuk dan tidak memberi kode apapun pada satpam kalo dibelakang ada suaminya, jelas jika seandainya Hilya memberi kode tak mungkin satpam itu menjegat mobil suaminya.


" Mohon maaf Pak, kami mengganggu waktu Anda, maaf kami turut senang karena bapak bisa melihat kembali," ucap satpam itu yang mengira Adnan adalah Anton . "Silahkan masuk," ucap satpam sambil membuka portal.


Sedangkan Adnan terhenyak mendengar penuturan satpam. apa benar mantan istrinya telah menikah??, dan apa kata nya?? selamat karena bisa melihat kembali?? apa maksudnya??" apa istrinya menikahi orang buta karena frustasi?? ribuan pertanyaan hadir di hati Adnan.


Mobilnya bergerak perlahan mengamati jajaran rumah yang begitu terlihat sederhana namun elegan.


Adnan berharap hari ini dia bisa meyakinkan Hilya agar mau kembali padanya, tapi sebelum itu, Adnan ingin melihat secara langsung pria buta yang menikah dengan istrinya itu.