Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
141.Setitik kenyamanan



Semua terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Umi Anton, tidak hanya suara keras nya tapi juga dengan nada tegas dan juga tamparan kerasnya terhadap Mariani


Wanita yang selalu diam dan mengalah itu berubah begitu bringas dan tegas layaknya wanita pemberani.


Abah Anton pun begitu terkejut melihat ketegasan mantan istrinya, seumur hidupnya menjadi suaminya, Abah Anton tak sekalipun melihat kilat kemarahan yang begitu nyata di raut wajah mantan istrinya itu, bahkan ketika dengan bodohnya dirinya mengugat cerai sang istri demi Mariani, tak ia dapati raut wajah kemarahan seperti saat ini, dulu istrinya hanya mampu menangis dengan berlinang air mata sembari membawa Anton dan Dini pergi dari rumah karena dirinya telah memilih Mariani, Namun kini tidak hanya amarah yang Abah Anton saksikan melainkan tanpa diduga wanita yang dulu bahkan tak sampai hati menyakiti seekor semut kini dengan keteguhan hatinya menampar wajah Mariani dengan begitu keras.


Umi Anton menatap marah mantan suaminya.


" Saya diam kamu sakiti selama ini bukan karena saya takut pada mu, saya hanya takut Allah tak meridhoi langkah saya karena berani melawan seorang suami yang masih menjadi surga bagi saya, namun saat ini, kamu bukanlah siapa-siapa untuk saya, sedikit saja anak-anak saya sakit karena ada sangkut pautnya dengan mu, saya tidak akan diam seperti dulu." ancam Umi Anton dengan penuh penekanan.


Abah Anton terdiam menatap sayu mantan istrinya, sungguh wanita yang begitu sabar itu kini tak lagi menghormati dirinya selayaknya dulu, pengakuan Umi Anton akan kehormatan terhadap suami seolah menampar keras wajahnya, dulu dirinya begitu diagungkan oleh isteri dan anak-anaknya, namun saat ini bahkan sang istri yang ia pilih justru selalu menentangnya dan menelantarkan kewajiban nya.


Zizi mendorong kursi roda Abah Anton keluar ruangan dan di ikuti oleh kedua bodyguard yang tengah menyekal Mariani, Mariani menatap sendu putranya yang berada di dekapan Zizi sebelum tubuhnya di seret keluar.


Dini masih sibuk dengan kegiatan menenangkan Zahfran.


Anton meletakkan senjata api yang berada ditangannya, segera mendekati Zahfran dan Dini.


Di elusnya punggung Zahfran, membisikan kata-kata baik di telinga sodara tirinya.


Hilya turut memberikan perkataan baik untuk Zahfran, baik Hilya maupun Anton sedikit faham akan kondisi Zahfran, mengingat mereka adalah seorang Dokter, meski tidak tau secara pasti namun mereka sedikit dapat menganalisa apa yang menimpa Zahfran.


Pelan Anton dan Dini menduduk kan Zahfran di ranjang yang Hilya tempati, perlahan tubuh Zahfran tak lagi bergetar, bisikan-bisikan yang Anton rapalkan membuahkan hasil


Mata terpejam itu mulai bergerak naik, kedua tangan yang menutup telinga itu berlahan turun.


Zahfran melerai dekapan Dini, menoleh kebelakang yang ada Anton berada di dekatnya, melihat kearah tangan yang di genggam oleh Hilya.


"Aku, aku....


" Kamu tadi kecapean, yang membuat kamu pingsan." ucap Dini cepat memotong perkataan Zahfran.


Zahfran mendongak menatap wajah Dini yang begitu asing di penglihatan nya.


" Kamu siapa??"


" A??" bukanya menjawab Dini Justru memandang sang Kaka untuk membantu menjawab.


Anton menarik lembut tangan Zahfran yang berada di genggaman Hilya.


" Dia Dini, Ade Kaka, berarti dia juga Kaka kamu." jelas Anton dengan senyum lembut, dengan menyebutkan dirinya sebagai seorang Kaka untuk Zahfran


" Aku kumat lagi yaa?? kalian tidak takut dengan ku?! kenapa kalian justru mendekati ku?? apa kalian tidak takut tertular penyakitku ini??" tanya Zahfran dengan mata menatap tangan bekas gigitannya yang masih terikat oleh benda milik Dini.


"Kenapa kamu tidak memandangku dengan pandangan jijik, seperti yang orang tunjukan padaku saat aku kumat??" tanya Zahfran menatap Hilya.


Sedangkan Hilya baru menyadari siapa sosok pria itu, seorang pria muda yang pertama kali bertemu dengan nya dan menciumi wajahnya, Zahrah yang ternyata juga merupakan adik iparnya.


Hilya terseyum lembut tanganya mengelus rambut Zahfran, "kamu selalu membuatku terkejut, pertama kita jumpa kamu mengakui aku milikmu, kedua ketemu kamu membuatku terkejut karena ternyata kamu memiliki ganguan kecemasan, kenapa kamu gak cemas saat kamu dengan santainya tadi menciumi wajah ku hmm??" ucap Hilya dengan nada menyindir, seolah ingin Menganti topik pembicaraan agar Zahfran lebih tenang