Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
231.Rasa



Hari ini Adnan sudah siap untuk segera terbang ke London Inggris


Hilya dan Khansa mengantarnya ke bandara


Khansa menangis sesenggukan di pelukan Adnan, Adnan pun tak mampu mengucapkan sepatah kata pun


Sedangkan Hilya menatap nanar putrinya dan suaminya yang sama-sama enggan berpisah


Panggilan atas nama Adnan sudah terdengar, membuat Adnan mulai melepas dekapan anak sambungnya, Khansa mengelengkan kepalanya tak rela ayahnya pergi, Adnan berjongkok dihadapan sang putri


" Sayang jaga Bunda saat ayah tidak ada!!, Ayah janji akan hubungi Khansa setiap malam. janji Adnan menatap lekat wajah putrinya, tangan Adnan terulur menghapus air mata Khansa


Khansa berjalan kearah mobil mamanya meninggalkan mama dan Ayahnya, membuat Adnan hanya mampu menatap punggung putrinya tak tega


Kini kaki Adnan mendekat kearah Hilya


Hilya meraih tangan suaminya dan membawanya kearah bibirnya


Adnan tersenyum, tanganya mengelus lembut pipi istrinya


" Jaga diri baik-baik dek'!!"


Hilya mengangguk tanpa sepatah kata pun, Hilya takut saat membuka suara air matanya terjatuh


Suara panggilan atas nama Adnan kembali terdengar, membuat Adnan menurunkan tangannya


Adnan memberanikan diri menarik Hilya dalam pelukannya, yang akhirnya membuat pertahanan Hilya jebol, Hilya menangis di pelukan Suaminya


Adnan yang mendengar Isak tangis istrinya mengurai pelukannya


" Dek' ada apa??" tanya Adnan khawatir


Hilya hanya menunduk menyembunyikan air matanya, tangannya sibuk menghalau jatuh nya air mata


" Katakan dek', kenapa menangis, biar mas tau apa yang membuatmu kurang nyaman??"


Adnan mengangkat wajah istrinya, menangkup kedua pipinya, memaksa Hilya agar mau menatapnya


Adnan sendiri sedikit ragu dengan pertanyaan nya untuk Hilya, Adnan merasa dirinya terlalu percaya diri, belum tentu Hilya menangis karena dirinya bukan.


" Apa jika aku meminta mas tetap tinggal, mas mau menuruti nya??" tanya Hilya mengengam tangan Adnan yang menangkup pipinya


" Apa jika mas bilang mau, tidak akan lagi ada air mata??"tanya Adnan menghapus lembut jejak air mata Hilya


" Aku rasa begitu!!" lirih Hilya dengan menundukkan kepalanya


" Maka jika benar begitu mas memutuskan untuk tetap tinggal!!" ucap Adnan yang mampu membuat Hilya mendongakkan kepalanya


Hilya menatap tak percaya pada Adnan


Sedang Adnan justru tersenyum


" Harta yang paling berharga adalah keluarga, untuk apa mas kaya jika istri dan putri mas tak bahagia..urusan pekerjaan nanti biar mas minta di utuskan orang, lebih baik membayar orang dari pada mas melihat orang-orang yang mas cintai menangis." Adnan mengelus puncak kepala istrinya


" Mas??" Hilya masih tak percaya jika Adnan rela membatalkan penerbangan nya


Adnan menarik segera tangan sang istri menuju mobil di mana sang putri berada


Hilya mengikuti langkah Adnan dengan hati yang campur aduk, ada bahagia, ada kelegaan, ada juga rasa malu bahkan rasa bersalah


Khansa yang melihat Ayah dan Bundanya mendekati mobil, segera turun dari mobil dan berlari keluar


" Ayah... Bunda!!"


Adnan langsung memeluk putrinya dengan satu tangan yang menarik jemari istrinya


" Ayah tidak jadi meninggalkan princess Ayah!! apa putri Ayah senang??" tanya Adnan setelah merengkuh tubuh kecil Putrinya


Khansa menangis dengan senyum mengembang


" Khansa senang Ayah, Khansa tidak mau kehilangan lagi sosok Ayah, Khansa ingin punya Ayah yang selalu menemani Khansa, di dekat Khansa dan tidak pergi jauh-jauh dari Khansa dan Bunda.. ucap Khansa menatap Ayah nya dan Bunda nya bergantian


Hati Hilya damai , hati Adnan pun lega.. harusnya kejadian begini tak ada jika mereka saling terbuka di hari sebelumnya, tetapi terkadang manusia itu, akan benar-benar merasa takut kehilangan saat seseorang itu benar-benar akan pergi, seperti kejadian saat ini, Hilya sadar mulai bisa menerima Adnan saat Adnan benar-benar akan meninggalkan nya, sedang untuk Adnan yang memang berusaha untuk membuat Hilya mau kembali menerima dirinya layaknya suami sebenarnya, menganggap kejadian ini keberuntungan untuk nya