Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
88.POV Hilya



Mas Anton dua hari ini begitu manja , seperti saat ini, seusai sholat subuh dan ritual muntahnya, mas Anton mengajak ku melakukan olah raga pagi.


Lucunya meski tubuhnya lemas karena muntah, tapi saat kami melakukannya, tenaganya muncul kembali, bahkan setelah usai penyatuan kami mas Anton akan berhenti mual.


Tapi hari ini aku merasa mas Anton manjanya kelewat , biasanya setelah selesai ritwal penyatuan kami dia akan segera membawaku kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, mandi bersama dan memasak bersama.


Tapi kini dia masih setia tidur meringkuk menghadap perutku yang masih rata.


" Yang!! elus rambutku!!" perintah nya dengan manja, aku melakukannya dengan senang hati.


Dia mencium perutku , aku sebenarnya sedikit kegelian mengingat kami masih sama-sama tak berpakaian.


cup. cup. cup dia menciumi perutku bertubi-tubi.


" Yang!! sepertinya putri kita senang mas cium,"ucapnya mendongak menatap wajahku yang jauh diatasnya.


a5ku tersenyum, apa-apaan suami tampanku ini bahkan jenis kelamin anaknya saja belum ketahuan dia sudah menyebut anak kami putri kita.


Tanganya yang bebas mulai bergerak nakal, ditarik p*t*ng payudara ku berkali-kali, aku menegurnya, Namun dia justru mengantikan peran tanganya dengan bibirnya.


Suamiku tertawa saat aku mendengus, kini di gesekan dagunya yang berbulu tipis di atas paha ku..


Astaga..apa yang terjadi ... kenapa suamiku enggan melepaskan aku, jari-jemarinya kini mulai masuk ke sela-sela paha.


" Kita lakukan lagi" ucapnya dengan mata yang berkabut gairah. rasanya hampir aku tak percaya mengingat baru saja kami selesai melakukannya.


Aku hendak bersuara tapi bibirku sudah terlebih dulu masuk kedalam bibir seksinya akhirnya akupun hanya pasrah saja, toh aku juga menikmati segala sentuhan lembutnya.


Nafasku tersengal-sengal, begitu pula mas Anton, dia duduk memperhatikan diriku, aku mengira dia akan mengendong ku seperti byasa, dan masuk kekamar mandi, tapi dugaan ku salah.


jangan lupakan diriku yang masih polos bak seorang bayi, area sensitif ku terkena sentuhan rambut nya yang tebal.


Aku mengeluh geli, tapi tak dihiraukannya.


" Sayang tunggu sebentar, tunggu si dia siap kita lanjutkan lagi!!"


Tunggu. tunggu...apa maksudnya??


Belum sempat aku mencerna ucapanya kini suamiku telah menurunkan aku dari tempat tidur, aku dibimbing untuk menghadap ranjang kami dan selanjutnya masuklah senjata suamiku kedalam gua yang belum kering akibat aktivitas kami yang sebelum dan sebelumnya..


Aku meringis sedikit merasa perih di area pangkal pahaku, setelah selesai membersihkan diri, mas Anton membawaku lagi keatas tempat tidur.


" Aku sudah pesan sarapan untuk kita" ucapnya dengan wajah polos seperti bayi


Dia membawaku dalam dekapan hangatnya, sinar matahari pagi sudah terlihat lebih terang, tapi aku masih tetap berada dalam dekapannya, aku tidak di izinkan bergerak sedikit pun.


Hidung mancungnya terus mengendus puncak kepala ku yang masih sedikit basah. " mas akan merindukan wangi rambutmu" ucapnya lirih sambil mengelus puncak kepala ku.


Ke manjaan nya tidak cukup sampai disitu ..kini aku di minta tidur di lengan kiri nya, tangan kananya mengelus lembut permukaan perutku.


Aku merasakan perbedaan dari sikap suamiku.


dia memperlakukanku seperti akan meninggalkan ku dalam waktu lama.


Apa mas Anton ada tugas diluar kota ya??batinku. ahh mungkin Iyya tapi mas Anton belum menemukan waktu yang pas untuk mengungkapkan nya. pikirku lagi.