Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
80.Rencana Nayla dan rena



Adnan pulang seperti tanpa jiwa, pria itu sepanjang jalan hanya melamun, hingga beberapa kali dia hampir menabrak kendaraan di depannya.


Rena hanya terus dan terus mengomel, sepanjang jalan pulang yang keluar dari mulut istri muda Adnan adalah makian dan sumpah serapah untuk Hilya.


Tidak perduli dengan suaminya yang sedang tidak fokus mengemudi, toh mau diapain, Rena sendiri tidak bisa mengemudi mobil bahkan motor saja tidak bisa.


Sesampainya di rumah Rena masuk kedalam rumah mengadu dengan Ibunya. Ibu Rena membisikan sesuatu pada Rena membuat dua orang itu tersenyum manis.


"Apa akan berhasil ma??".


"Pasti, wanita yang sedang hamil muda itu labil dan pasti mudah emosi."


Adnan masuk rumah dengan salam yang tak mendapat jawaban dari kedua wanita yang asik mengobrol.


Adnan masuk kedalam kamar nya bersama Hilya dulu, menguncinya rapat dan membaringkan tubuhnya meringkuk di pinggir tempat tidur.


Air matanya membasahi bantal yang ia gunakan, pria itu menangis dalam diam, melihat Hilya yang tak menghiraukannya membuat hatinya sakit , di tambah lagi saat mengingat Hilya yang memeluk sayang tubuh Anton, yang seolah meminta perlindungan. benarkah Anton dan Hilya telah menikah?? dan juga apa benar mantan istrinya itu sedang hamil??


Semakin memikirkan nya semakin sakit hati Adnan, padahal jelas Adnan tau bagaimana dulu hancurnya keluarga sahabatnya karena dampak poligami, kenapa Adnan tidak bercermin dari kisah Anton??.


Memang banyak juga poligami yang bisa bertahan sampai akhir tapi tidak semua orang bisa, karena kuncinya terletak pada tiga hati yang bisa saling mengerti.


Wanita yang sanggup di poligami itu tidak mengukur dan mbandingkan besar mana cinta istri pertama atau kedua, mereka menerima dengan lapang dada. tidak saling menuntut.


Kini Adnan tidak tau harus berbuat apa, kalau memang Anton menikahi orang yang dicintainya harusnya Adnan bahagia karena Hilya bersama orang yang tepat.


Adnan pernah dengar kalimat dari Anton "lebih baik puas bermain tapi nanti setelah menikah satu selamanya"


tok. tok . tok


" Mas aku sama Ibu mau keluar sebentar yaa!!" teriak Rena dari depan pintu


Adnan memejamkan matanya rapat, Rena selalu seperti itu, semua harus dengan Ibunya, Adnan merasa Rena terlalu kekanakan.


Sekarang, hanya kata seandainya yang Adnan bisa fikirkan.


" Seandainya kakeknya tidak memaksanya....


" Seandainya dia bisa lebih tegas....


" Seandainya dia bisa lebih adil....


Bayangan Hilya mendekap tubuh Anton terus terbayang di pelupuk matanya, dada Adnan begitu sesak seperti ada beban yang menimpa dadanya. saat mata itu terbuka, saat mata itu terpejam.. hanya bayangan Hilya mendekap erat tubuh Anton yang Adnan lihat.


Hingga lelah menangis, akhirnya Adnan tertidur meringkuk dengan hati penuh luka.


Di rumah Anton dan Hilya, Anton sedang membaca Al-Qur'an surat Yusuf yang di lantunkan begitu indah di atas perut istrinya. pria yang berstatus Dokter bedah itu begitu menghayati bacaanya, membuat Hilya yang berada di pangkuannya begitu terharu, doa tak pernah putus di hati Hilya agar keluarga kecilnya selalu di jaga oleh Allah agar terus bahagia hingga Jannah.


Suara dering ponsel membuat Anton menghentikan sejenak aktivitas nya.


" Hallo ....


* ............


" Baik saya segera kesana..


*.........


" Oh baiklah, mohon bersabar, saya akan segera datang.


*..........


*Selamat malam.


Anton menutup Al-Qur'an nya.."sayang mas ke RS sebentar ada pasien yang kritis dan membutuhkan tindakan, mas cek sebentar ya..??".


Hilya terseyum. "IYa mas hati-hati.


Anton segera bersiap, Menganti pakaian nya. Hilya cekatan mengurus suaminya, sesama Dokter jelas Hilya mengetahui segala kebutuhan dan persiapan suaminya.


Tas Anton telah siap, Anton pun sudah selesai Menganti kaosnya menjadi baju kemeja, Hilya membantu suaminya mengancingkan bajunya.


"Duduklah mas!!" Anton terseyum, Hilya menunduk memakaikan kaos kaki Anton membuat Anton terkejut, karena tadi saat Hilya memintanya duduk dia sedang sibuk memasang jam tangan nya.


"JANGAN!! mas bisa sendiri, sayaang!!".


" Apa sih mas lebay banget!! cuma ini aja'.biar mas cepat brangkat, biar mas cepat pulang juga"


ucap Hilya tidak mau melepas kaos kaki yang di tarik Anton. perasaan Anton bahagia maximal, dengan segala perilaku istri nya .