Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
187.Doa Fauzan



Hilya berlari ke belakang ruang laboratorium yang tengah sepi, duduk menyandar di dinding dingin dan lembab itu, tengelam dalam tangis yang tak mampu ia tahan lagi


Beberapa menit berlalu, tiba-tiba seseorang menyodorkan beberapa helai tisu untuknya


Hilya mendongak, mata sembabnya menemukan pria yang tengah membungkuk guna memberinya tisu


" Zan??"


" Ngapain nangis disini?? ngak seru gak ada yang dengar!!"


" Apa sich Zan!!" Lagian ngapain kamu disini?? tanya Hilya ketus


" Nih Hil, lap dulu gin ingus nya, geli aku lihat!!" canda Fauzan, yang membuat Hilya segera menutup wajahnya yang telah sembab karena terus menangis


"Kalo butuh seorang pendengar aku siap Hil gini-


gini aku pendengar yang baik Lo!!" Fauzan terseyum melihat Hilya menyambut tisu yang Ia sodorkan


" Keruangan ku yuk, sekalian ada yang ingin ku sampaikan!!" usul Fauzan, yang di angguki oleh Hilya


Sampai diruangan Fauzan, Hilya hendak duduk, tapi ucapan Fauzan membuat Hilya urung untuk duduk


" Masuklah ke kamar mandi dulu, rapikan dirimu Hil, kamu seperti orang lain bukan Hilya yang ku kenal kalo lecek gitu, tu Lo kamar mandi ku nganggur" tunjuk Fauzan pada Hilya


" Aku pake kamar mandi kamu gak Papa??


" Pakai saja Hil geratis gak di pungut biaya kok!!" canda Fauzan


Setelah selesai dengan penampilannya Hilya segera menemui Fauzan yang tengah duduk di kursi kebesaran nya


" Sebenarnya ada apa Hil?? tadi sewaktu aku masuk keruangan Anton, suamimu meminta padaku untuk mencari istrinya yang hilang!!"


" Yang benar Zan??"


" Enggak sich!!" cuma Anton ngomong kalo kamu sedang marah padanya, sebenarnya ada apa Hil??"


" Aku hanya kecewa sama mas Anton Zan!! mas Anton ingin menitipkan aku pada sahabatnya!!"


" Maksudnya?? tanya Fauzan bingung


" Iya, mas Anton takut kalau akan terjadi sesuatu pada dirinya dan mencari sahabatnya yang tak lain adalah mantan suamiku untuk menitipkan aku dan putrinya pada masa laluku Zan!!"


" Yang sabar ya Hil, aku yakin Anton melakukan itu karena khawatir dengan mu dan rasa takutnya akan meninggalkan kalian, itu wajar di alami pasien kangker saat mengalami efek kemo yang membuat badanya seolah tak akan mampu menyambut hari esok!!"


" Itu semakin membuat ku takut Zan!! Khansa masih terlalu kecil, Aku masih membutuhkan sosok mas Anton Zan, aku belum siap untuk kehilangan nya!!" lagi-lagi air mata Hilya mengalir


Fauzan terenyuh melihat air mata Hilya yang menetes, entah mengapa ingin rasanya Fauzan menghentikan bulir bening itu agar tak lagi mengalir


Ini bukan pertama kalinya Fauzan melihat wanita yang menangis dihadapan nya saat dirinya memberi penjelasan tentang penyakit sanak keluarga mereka yang menjadi pasiennya, tetapi ini pertama kali Fauzan turut merasakan sesak di dadanya saat melihat Hilya menangisi kemungkinan terburuk yang akan di alami Suami nya


Andai boleh ingin Fauzan merengkuh tubuh Hilya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja


Kamu sungguh beruntung Ton mendapatkan istri sebaik Hilya, semoga setelah ini sel yang menggerogoti tubuhmu menyerah, melihat Hilya yang bersedih aku seperti bercermin dengan diriku sendiri, aku pernah merasakan sakitnya di tinggal pergi untuk selama-lamanya ku harap itu tak menimpa Hilya, semangat lah untuk sembuh Ton, semoga Allah memberi mu kesempatan panjang umur