
Kebahagiaan menyelimuti hati Adnan, Single Dad itu pagi ini wajahnya begitu berseri, baru saja sahabatnya memberikan ajakan liburan ke Bogor bersama mereka, awalnya Adnan hendak menolak, namun karena mendengar pujaan hatinya turut bersama mereka, semangat mengebu, Adnan menyetujui dan segera berkemas.
Setelah pulang kerumah orang tuanya menitipkan baby Akbar, kini Adnan bergegas menuju kediaman Hilya dan Anton
Terlihat Anton, Hilya, dan Dini sedang asik menyusun barang mereka saat Adnan memarkirkan mobilnya.
Anton: Nan!! kita bawa satu mobil saja, ambil barang mu kamu jadi sopir aku , nih di temenin Dini duduk didepan, gue ama bini gue duduk di belakang
Adnan: Ooooo.. Ajakin aku cuma mau dijadikan sopir nih??"
Anton: Ha, ha, ha..!! Yo'i Bro!!"
Adnan: CK!" decak Adnan
Hilya: Okeee!! udah ready semua....
Dini: Ayo mas' buruan ambil barang mas Adnan, ntar kesorean sampai sana.
Adnan yang mendengar perintah dari pujaan hatinya hanya tersenyum sekilas, sebelum akhirnya mengambil sebuah koper miliknya
Adnan: Yuk!! Bismillah kita berangkat"
Mobil mulai bergerak, namun belum sempat keluar dari halaman rumah, terlihat Umi Anton datang membuat Adnan menghentikan mobil yang dikendarai nya.
Adnan: Ada Umi Ton!! apa umi ikut liburan??."
Dini: Iya A... ada Umi, tadi aku udah bilang ke Umi mau liburan tapi umi cuma bilang hati-hati kok, gak ada ngomong mau ikut!"
Hilya: Sudah kita turun dulu!!"
Anton bergegas menemui wanita yang begitu dicintainya dan di hormati nya itu
Umi: Ton!! malam ini adek mu akan di khitbah orang Umi lupa."
"Apa??" bukan Anton yang bersuara tapi Adnan yang ikut turun dari mobil
Umi Anton menoleh kearah Adnan
Umi: Nan?? kamu ikut ke Bogor nak?? mana cucu Umi?? aduh Umi jadi gak enak nih, jadinya merusak rencana kalian untuk liburan, yaudah Ton, kalian tetap pergi saja biar umi pulang bersama Dini"
" Tidak Umi!!". lagi bukanlah Anton yang menjawab melainkan Adnan
Adnan: Siapa yang akan meng khitbah dan yang akan di khitbah Mi??."
Umi mengelus lengan Adnan, seorang yang telah ia anggap seperti putranya sendiri
Umi: yang akan meng khitbah seorang anak dari teman Umi, kebetulan putranya baru lulus dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan katanya sejak lama menaruh hati dengan Dini, adik kecilmu yang sekarang tak kecil lagi." ucap umi lembut di akhiri kekehan kecil.
Terlihat pancaran kebanggaan di mata Umi Anton saat mengungkapkan lelaki yang akan meminang pujaan hati Adnan.
Anton tau situasi saat ini mempengaruhi perasaan Adnan, Anton mengajak mereka semua kembali memasuki rumah
Semua berjalan kedalam rumah tinggallah Adnan dan Hilya, Adnan terlihat begitu putus asa, terlihat begitu gusar, sesekali meraup wajahnya dengan telapak tangannya
Hilya: Apa Dini belum tau perasaan mu??"
Tampak Adnan mengeleng
Adnan: Aku masih memantapkan hati Hil!! aku masih belum mengungkapkan perasaan ku menunggu waktu yang tepat, kamu tau sendiri betapa kecewanya Umi saat mengetahui aku menikahi Rena saat masih berstatus suamimu, baik Dini ataupun Umi keduanya begitu kecewa dan terluka, melebihi kecewanya kedua orang tuaku sendiri"
Hilya: Belum terlambat untuk mengungkapkan nya
Adnan: Apa menurut mu aku pantas dan layak untuk Dini??"
Hilya: Tanyakan pada hati mu mas!!"
Setelah mengucapkan itu Hilya melangkah memasuki rumah meninggalkan Adnan yang hanya mampu mengacak rambutnya.