Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
186.Takut



Pria paruh baya dengan segala wibawanya Duduk di hadapan Pria yang tengah terbaring lemah di brangkar rumah sakit


" Cobalah membujuk Anton sayang, kondisinya tidak main-main!! Papa tidak mau kehilangan Putra papa!!" suara berat itu mengalun di pendengaran Hilya


" Sudah Hilya coba berkali-kali Pa!! tapi mas Anton tetap tidak mau berobat di luar negeri, bahkan Fauzan turut membujuk, Fauzan berjanji turut menemani kemanapun mas Anton berobat, tetapi mas Anton tetap tidak mau!! ucap Hilya menahan Tangis.


Sudah 6 jam semenjak Anton melakukan kemo ketiga keadaan nya kian drop, bahkan hari ini setelah kemo Anton tak sadarkan diri


Papa Hilya memeluk sayang Putrinya


" Kita berdoa yang terbaik saja ya Sayang!! selalu tegar di hadapan Suami mu, kamu dan Khansa sumber kekuatan nya!! nasehat Papa Hilya dengan menghapus air mata putrinya yang mengalir


" InsyaAllah Pa!!


Mama Hilya dan Umi Anton masuk kedalam ruang rawat Anton, mereka sama-sama menitihkan air matanya


Dini terisak di dalam pelukan Suaminya


Hilya berlari memeluk Mama nya


keduanya menangis pilu, Hilya kembali menangis tersendu-Sendu, mengeluarkan sesak hatinya yang selama ini di bendung nya


" yang kuat Sayang!! Mama yakin Anton pasti sembuh!!" Mama Hilya menenangkan


" Maaaa.. Khansa masih terlalu kecil untuk mas Anton tinggalkan, aku pun belum siap ditinggal mas Anton maaa... hix hix hix..


tangis Hilya membuat mereka kembali banjir air mata


Abah Anton keluar ruangan tanpa bicara, Zahfran masih setia menenangkan sang istri


" Mas, aku takut Aa tak akan bangun lagi!!" ucap Dini lirih menatap wajah suaminya


" ssstttt.. kok ngomongnya gitu??.. Mas Anton kuat, kita doakan yang terbaik ya!!" Zahfran mengelus pipi istrinya


Rumah tangga Zahfran dan Dini baik-baik saja, hanya saja sering terjadi pertengkaran kecil di antara mereka, karena Dini yang ingin segera mengandung tetapi hingga satu setengah tahun belum juga ada kabar yang ditunggunya, pertengkaran kecil itu di picu karena Dini yang dilarang Zahfran meminum berbagai macam vitamin penyubur kandungan, andai Kaka iparnya sehat ingin sekali Zahfran berkeluh kesah tentang sang istri yang seolah memaksakan ingin segera hamil, tapi keadaan kedua iparnya yang tidak memungkinkan membuat Zahfran hanya mampu memendamnya sendiri


" mas Zahfran gak ngerti gimana perasaan aku!! aku takut Aa kenapa-kenapa mas!!" rajuk Dini seperti biasanya, yang bisa Zahfran hadapi dengan menghela nafas


Dini menurut, membuat Zahfran bernafas lega, saat ini Zahfran tidak mau Dini kembali merajuk seperti biasanya, karena waktu dan tempat yang tidak pas, bahkan semua orang dalam keadaan bersedih


" Yang!!"


suara Anton membuat mereka semua menghentikan tangisnya, Hilya berlari menuju brangkar dimana Anton terbaring


" Mas??" Hilya tak mampu menghentikan jatuhnya air matanya yang mengalir, seberapa besar Hilya ingin mencegahnya, tetapi air matanya tetap terjatuh


Anton mendesah


" kok sayang malah nangis sich??"


Anton melihat sekelilingnya menemukan kedua mertuanya membuat senyum bibir nya terbit


" Pa!! Ma!!"


kedua orangtuanya Hilya mendekati menantu nya


Papa Hilya membantu Anton duduk, Mama Hilya memeluk lembut menantunya, bagi kedua orang tua Hilya Anton bukan hanya menantu tetapi sudah menjadi putranya sendiri


" Pa, Ma apa kalian datang bersama Adnan?? tanya Anton tiba-tiba yang membuat kedua orang tua Hilya saling pandang


" Ton!! Adnan sudah tak bersama kami selama 6 bulan terakhir, terakhir Papa dengar Adnan akan menikah dengan orang keturunan Belanda dan mereka ingin menetap di Swiss, tetapi karena saat itu Papa baru membuka cabang di Jerman, Papa tidak begitu fokus pada Adnan karena setelah Adnan memutuskan pindah Papa tak lagi kontak dengannya, setau papa waktu itu calon istrinya berkeyakinan lain dan Adnan ingin mengajak calon istrinya memeluk agama Islam, hanya itu yang Papa dengar, memang kenapa kamu mencari Adnan Ton??"


" Anton sudah mencoba menghubungi nomornya tapi sepertinya memang sudah tidak aktif ya Pa??" bahkan semua keluarga Adnan sudah pulang ke Jawa timur. Anton mendesah kecewa


" mamangnya ada apa nak??" Mama Hilya bertanya


" Aku ingin menitipkan Hilya dan Khansa pada Adnan Ma, andai terjadi sesuatu pada ku nanti!!"


" Apa maksudmu mas'??? kamu kira aku dan Khansa sebuah barang haaaa....??, hingga kamu bisa seenaknya menitipkan kami??" Hilya emosi mendengar penuturan Anton, apa maksudnya Anton ingin menitipkan dirinya pada Adnan, sedang disini dirinya masih berjuang untuk kesembuhan suaminya, masih mendoakan untuk kesembuhan suaminya, masih berharap menua bersama dengan anak-anak mereka kelak


Hilya menatap nyalang wajah suaminya, nafasnya memburu menahan amarah


sedetik kemudian Hilya pergi dari ruangan Anton dengan sesak di dadanya, meninggalkan Anton yang mandangnya sendu