
Ketika buah kesabaran itu tak lagi mampu di jalani maka satu-satunya cara adalah menyerah
Itu juga yang tengah Hilya hadapi
Hilya menangis di depan ruang rawat Suaminya
Menekuk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di atas pangkuannya
Isak itu terus terdengar, siapapun yang melihat kondisi Hilya pasti langsung tau, bahwa wanita itu tidak dalam suasana hati yang baik
Dari dalam ruangan tiba-tiba Adnan keluar, membuat Hilya segera bangkit dari duduknya
Tak di pungkiri bahwa Adnan mengetahui apa yang Hilya lakukan sebelumnya, tetapi karena menjaga perasaan Hilya Adnan pura- pura tak mengetahui apa-apa
Hilya memaksakan senyuman
" Apa Mas Anton belum bangun??" Hilya bertanya lirih dengan menahan agar bibirnya tak ber getar
Adnan menganguk
" Kamu mau masuk??"
" IYa!!"
" Masuklah!! aku mau ke masjid dulu!!"
" Ah, IYa!!"
Setelah obrolan bosa basi itu Hilya bergegas masuk keruangan suaminya
Adnan yang akan berlalu matanya tertuju pada sebuah benda kacil yang tergeletak di lantai tempat Hilya menangis tadi
Adnan mengambil benda familiar tersebut, dan melihat satu garis merah yang begitu kentara
Wajah Adnan yang sedari tadi datar menjadi sedikit murung
" apa ini yang membuatmu begitu terpukul Hil??"
Adnan menghela nafasnya dalam, sudah satu Minggu Adnan turut menjaga sahabat nya di rumah sakit, Adnan rela meninggalkan jabatannya sementara demi menemani Anton.
Harusnya hari ini Adnan harus segera kembali ke Inggris, tapi nyata nya Adnan memilih persahabatan dari pada klien yang dapat memberinya keuntungan dalam bisnis
Keadaan Anton yang kian menghawatirkan membuat kesehatan Hilya pun menurun, itu yang membuat dua pihak keluarga memaksa Hilya untuk beristirahat di rumah saat malam hari, meski sempat mendapatkan penolakan dari Hilya tetapi pada akhirnya Hilya mengalah, dan membiarkan Adnan yang menjaga Anton saat malam hari
Adnan menggenggam testpack yang menunjukkan hasil negatif itu, ingin memberikan kepada Hilya rasanya sangat tidak sopan, maka Adnan memilih membuangnya di tempat sampah, dan berlalu menjauh dari ruang rawat sahabatnya
Di dalam kamar rawat Anton
Hilya duduk memejamkan matanya, di hantui rasa takut setiap harinya membuat wanita berparas ayu itu terlihat kian tirus dari hari ke hari, tak beda jauh dari sang Suami, bahkan Anton sekarang lebih banyak tertidur dengan lelapnya karena efek obat anti nyerinya
"Mas!!"
Anton yang merasakan elusan di punggung tangan nya, mengerjab
Senyum Anton mengembang melihat wanita yang di cintai nya berada tepat di hadapannya
Hilya membalas senyuman Anton, air mata bukan lagi sesuatu yang baru Anton lihat setiap kali membuka matanya, hampir setiap hari Anton selalu melihat sang istri menangis karena keadaan nya
" Mas capek!!" Anton mengeluh
Dalam Isak Hilya terseyum
" Istirahat lah Mas!!"
" Boleh mas minta sesuatu??"
Hilya hanya mengangguk dalam tangisnya
"Jika Allah mengambil nyawa mas', janji yaaa Sayang mau mencari Ayah penganti untuk princess kecil kita!!" Anton menatap Hilya dengan mata penuh permohonan
Hilya mengeleng gelengkan kepalanya tanda tak terima dengan permintaan Anton
" Yang!!" lirih Anton
Hilya hanya makin terisak
" Mas, gak maksa sayang untuk segera menikah, tapi mas harap sayang tidak menghabiskan waktu dengan hidup sendiri, sayang masih muda ... mau yaaaaa... ??? siapapun nantinya mas doa kan semoga bisa menerima putri mas layaknya putri nya sendiri!!"
Hilya terisak-isak, mengigit bibirnya sekuat mungkin agar suara tangisnya tak mengema, untuk menjawab permintaan suaminya pun Hilya tak mampu, hanya air mata yang terus mengalir di sertai isakan yang menyayat hati