
Nyatanya Anton benar-benar meninggalkan semua kenangan manis nya
Pemakaman seorang Anton berjalan begitu khusyuk dan penuh haru
Selain seorang Dokter bedah muda terkenal Anton juga seorang CEO perusahaan Papa Hilya, pemakaman Anton di iringi sedemikian banyak rekan kerja dan juga para petinggi perusahaan dan juga rekan Dokter bahkan kepala rumah Sakit tempatnya dulu Bekerja
Setiap orang membawa doa untuk kebaikan jalan Anton menuju Jannah
Tiga Pria gagah turun kedalam liang lahat yaitu:
Papa Hilya, Abah Anton dan juga Adnan
Menyambut jenazah Anton dari atas yang di ulurkan oleh Zahfran, Fauzan dan juga Arkab dan rekan Anton lainnya
Adnan yang berada di bagian kepala Anton segera membuka tali kain kafan Anton dan dihadapkan ke arah kiblat , menyentuhkan pipi kanan Anton ke Tanah sesuai anjuran Sunnah Rasulullah
Hingga proses penutupan papan dan juga penimbunan tanah usai
Adnan begitu mendominasi pemakaman sahabat terbaiknya, rasa kehilangan jelas Adnan rasakan
Usai pemakaman Adnan kembali membacakan doa sesuai Sunnah
Allahummaghfir Lahu Warhamhu, Wa’aafihi Wa’fu ‘Anhu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’madkhalahu, Waghsilhu Bil-Ma’i Watstsalji Wal-Baradi, Wanaqqohi Minal Khotoya Kamaayunaqqottsaubu Abyadhu Minadanasi, Waabdilhu Daaron Khoiron In Daarihi, Waahlankhoiron Min Ahlihi, Wazaujan Khoiron Minzaujihi, Waqihi Fitnatal Qobri Wa’adaabinnar.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, belas kasihanilah dia, hapuskanlah dan ampunilah dosa-dosanya, muliakan tempatnya (ialah surga) dan luaskanlah kuburannya. Basuhkanlah kesalahan-kesalahannya sampai bersih sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumah lebih baik daripada rumahnya yang dulu, keluarganya lebih baik daripada keluarganya yang sulit; dan masukkanlah ia ke dalam surga dan jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa api neraka."
Tak terasa bulir bening mengalir di pipinya
Para wanita mendekati gundukan tanah yang bertuliskan nama Anton
Umi, Mama, Dini, Zizi, Zahra semua menangis sesenggukan di atas pemakaman Anton, hanya satu wanita yang diam tanpa ekspresi , diam dan memegangi batu nisan itu tanpa setetes air matapun dia adalah Hilya
Tak ada yang tau apa yang sedang Hilya fikirkan, sedari pemulangan Anton dari rumah sakit, Hilya memang tak lagi menangis'
Tepukan di bahu Hilya membuat wanita cantik itu menoleh
" Sayang kita pulang yuk!!" Ajak umi Anton pada menantunya
" Umi duluan, Hilya masih ingin disini!!" jawaban Hilya hanya mampu membuat mereka semua menahan Isak
Hilya memang tak lagi menangis, tetapi batin Hilya siapa yang tau
" Mau hujan sayang!! kita pulang ya!!" bujuk Mama Hilya
" Bahkan langit pun menangisi kepergian suami ku ma!!" lirih Hilya yang membuat semua orang menyadari kehancuran seorang istri yang ditinggal suaminya
" Sayang!!" Anton pasti sedih melihat mu begini, pulang ya nak!! Abah Anton turut membujuk menantunya
Hilya menunduk dalam
" Sayang!!" kini Papa Hilya telah berjongkok di sisi putri nya, mengelus punggung putri semata wayangnya yang tengah terpuruk karena kehilangan seseorang yang begitu di cintai nya
" Kalian pulanglah!! aku masih ingin disini!!" Hilya kembali bersuara
Papa Hilya bangkit dari duduknya, mendongak menahan laju air mata yang akan jatuh
Bagi seorang Ayah, melihat putranya tiada, dan melihat putrinya kehilangan semangat hidup itu seperti sebuah kekalahan, begitu juga yang dirasakan Papa Hilya
Dini menangis dipelukan Zahfran, mereka harus segera pulang demi si kecil Khansa, Fauzan pun undur diri bersama Zi, Hanya seorang Pria yang menatap sendu Hilya yang duduk di samping nisan suaminya dengan orang-orang yang merayunya agar segera pulang , karena sepertinya hujan akan segera turun