
Pada akhirnya Hilya dan Adnan benar-benar terbang kesurabaya
Turun di bandar Juanda Sidoarjo Jawa timur, Adnan kembali melanjutkan perjalanan sekitar 1 jam baru sampai kerumah kediaman orang tuanya
Bapak dan Ibu Adnan terharu melihat kedatangan Adnan bersama Hilya, bahkan sang Ibu sampai menangis memeluk menantunya
" Ya' Allah Gusti... dongaku di ijabah Alhamdulillah!!" ( ya Allah.. doa ku dikabulkan Alhamdulillah!!)
Hilya mengelus punggung Ibu mertuanya
Bapak Adnan turut terharu, banyak mata yang turut melihat interaksi antara Hilya dan Ibu Adnan, mereka semua terharu bahkan tersentuh melihat kebaikan istri Adnan itu, Dimata keluarga Adnan Hilya kini bagaikan bidadari tak bersayap, cantik, kaya, pinter, baik luar biasa, berbeda dengan pandangan mereka dulu yang menilai Hilya tercela dan buruk
Musibah pasti ada hikmah!! bukan begitu??
" Ibu apa kabar??" tanya Hilya sopan
Ibu Adnan yang masih terisak menghapus air matanya, dibantu juga oleh Hilya
" Baik Nak!!"
Ibu Adnan memandang haru anaknya
Adnan yang mengerti tersenyum, dan mendekati sang istri dan sang Ibu
Adnan memeluk Ibunya dan juga Hilya, kedua wanita yang berarti dalam hidupnya, membuat Ibu Adnan kembali menangis tersedu-sedu
Apa yang lebih membahagiakan orang tua saat melihat anaknya kembali hidup bahagia
Ibu Adnan tau kini anaknya telah berbahagia, dari tatapan seorang Ibu, Ibu Adnan mampu membaca pancaran cahaya dari sang putra yang memperlihatkan bahwa dirinya telah menemukan kebahagiaan nya kembali.
Ibu Adnan mengiring sang putra dan juga Hilya memasuki rumah
Tatapan syukur masih terpatri di wajah kedua orang tua Adnan dan juga para Tante, paman dan sepupu- sepupu nya
Tangan sang Ibu juga terlihat enggan melepas tangan lentik menantunya
Fokus Hilya teralihkan saat melihat seorang anak kecil keluar dari ruang belakang
" Bu, Pak, putri siapa??" tanya Hilya sembari menghampiri seorang anak yang kelihatan baru bangun tidur
" Anak tetangga nak!! sering Bapak dan Ibu jaga karena Ibunya kerja di warung kelontong, bapaknya tukang becak, bayar jasa penitipan anak tidak mampu, Ibu kasian, makanya Ibu bantuin jaga, sekalian buat hiburan Ibu!!" jawab wanita paruh baya itu menatap lembut wajah menantunya
Hati Hilya terenyuh, tanpa sadar Hilya membawa telapak tangannya di atas permukaan perutnya yang tertutup gamis
Perilaku Hilya tak lepas dari perhatian suaminya, Adnan tersenyum tipis, ada sesuatu yang membuat dirinya begitu bahagia.
Apakah kamu akan menerima jika ada nyawa dari benihku di rahim mu dek?? mengapa aku begitu bahagia??
" Bu!! " Hilya meraih tangan Ibu Adnan. "Bu Doa kan kami agar dapat segera memberi Ibu cucu ya!!" bisik Hilya lembut
" Nak!!" bibir Ibu Adnan bergetar
Ada beban yang terangkat dari lubuk hati Ibu Adnan mendengar bisikan lembut menantunya, menantu yang dulu digeser sang Bapak hanya karena sebuah alasan keturunan, kini memberi secercah sinar matahari untuk menerangi hatinya yang kelam tiada sinar di usia tuanya
Sebelum menikah dengan Hilya, Adnan meminta restu kedua orang tuanya dengan bersimpuh di lantai
Adnan tidak hanya meminta restu tapi meminta ke ikhlasan Ibu dan Bapaknya, untuk tak mengharapkan kehadiran cucu dari dirinya nanti, Adnan meminta sang ibu mencintai Khansa selayaknya cucu kandung, dan itu di terima dengan ikhlas oleh bapak dan Ibu Adnan, mereka melakukan nya demi kebahagiaan sang putra dan demi menebus dosa pada sang menantu yang pernah tersakiti, meski diusia tuanya akan kesepian nantinya, tanpa diminta Adnanpun jelas Ibu dan bapaknya menyayangi Khansa, biar bagaimanapun juga Khansa putri Anton, Pria yang juga begitu di sayang oleh mereka