
"Kalian dari mana??" entah pertanyaan ini di tujukan untuk siapa, karena sejatinya semenjak bertemu, Dini tak pernah berinteraksi dengan Abah Anton dengan saling sapa, sejauh ini cium tangan hanya itu, apalagi Zahfran pemuda itu tak pernah terlibat obrolan maupun interaksi lainya, karena sejatinya Zahfran tak menyetujui pernikahan Abah Anton dan ibunya sedari awal, jadi biarpun sudah menjadi ayah angkatnya tapi Zahfran abai dengan suami Ibunya
" Dari jemput Dini dan saya baru pulang kerja Pak!!" jawab Zahfran yang cukup membuat Abah Anton terperangah, bukan soal jemput sang anak, namun soal pulang dari bekerja, benarkah??
Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba Zahfran mengambil alih mendorong kursi roda Abah Anton.
"Apa persidangan nya lancar pak??"
Sungguh seperti sebuah keajaiban Abah Anton menyaksikan sifat Zahfran yang begitu berbeda, bahkan sampai Abah Anton gugup untuk menjawab pertanyaan Zahfran.
" Zahfran aku duluan!!" Dini hendak berjalan mendahului mereka tapi dengan cepat Zahfran menarik lembut tangan Dini
" Kita bareng saja, biar bagaimanapun aku juga harus meminta restu pada ayah mu!!" Zahfran berkata dengan lirih, Dini tak mampu menolak pesona Zahfran dan akhirnya mereka masuk bersama
Umi Anton dan Zizi sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati kue yang baru saja di angkat dari oven bersama teh hangat, tiba-tiba Zahfran masuk mersama Dini dan seseorang yang mampu membuat Umi Anton tersendak teh yang tengah di minumnya
uhuk. uhuk
Zizi dengan tanggap mengelus lembut punggung Umi Anton
" Umi tidak papa??" tanya Zizi saat melihat umi sudah sedikit lega
Mata Umi Anton bertemu dengan manik mantan suaminya, saling terkunci sebelum akhirnya Dini memutus perhatian karena meraih tangan Umi nya untuk dicium takzim.
" Kalian kok bisa barengan??" tanya Umi Anton pada Dini dan Zahfran, tak berniat menyapa Pria masalalunya
" Umi ada yang ingin saya sampaikan, tapi sebelum itu saya ingin Umi, mas Anton dan .... Zahfran melirik Abah Anton sebelum melanjutkan ucapannya "dan Abah berkumpul bersama." lanjut Zahfran
Umi Anton melirik Abah Anton sekilas sebelum meminta Dini untuk memanggil Anton di kamarnya, dan Dini bergegas memanggil sang Kaka sesuai perintah umi nya
Hingga suara ketukan itu sampai di depan pintu kamar Anton dan Hilya
"CK, bibir Anton mencabik kesal. astagaaa gairah seksual sudah di ujung tanduk siapaaaa pula yang menganggu. runtuk Anton dalam hati.
Dengan langkah malas dan terpaksa Anton membuka pintu kamarnya, saat pintu telah terbuka senyum secerah mentari menyambut Anton saat melihat Dini berdiri tepat diambang pintu.
" A Umi minta A a dan kak Hilya berkumpul di ruang keluarga!! dan ada Abah di depan A!!kenapa wajah A a kusut banget hehe baru mau bobok keganggu yaa?? maaf ya A.. tu ada juga Zahfran di depan mau nemuin kita semua.." ucap Dini tidak hanya informasi tapi juga pertanyaan untuk sang Kaka yang tampak kuyu.
" Hmmmm.. A a bangunkan kak Hilya dulu!! sana kamu duluan!!" Ucap Anton pada akhirnya.
" A boleh Dini lihat Khansa bentar??" tanya Dini masih belum tau dia kalo mud Kakanya sedang hancur, sehancur-hancurnya.
" Khanza bobo Dini!! udah kamu temuin mereka dulu, biar A a dan kak Hilya siap-siap dulu okee..!!!!"setelah mengucapkan itu Anton segera menutup pintunya tanpa menghiraukan dengusan sang adek.
Setelah pintu tertutup Anton mengosok rambutnya kasar, dengan sesekali menghela nafasnya dalam seperti orang sedang frustasi