
Pokoknya author love-love banget sama pembaca yang antusias menanti lanjutan cerita marry me Ustadz dan author ucapkan beribu-ribu terimakasih buat yang udah dukung vote buat author, vote, like dan komen kalian membuat author semangat, salam sayang dari author buat pembaca semua❤️❤️❤️
🤗🦋🦋🦋😘😘
Setelah mereka semua berhenti tertawa terpingkal-pingkal dan saling masing-masing menghapus jejak air mata kini mereka harus memberi waktu luang buat Dokter yang akan mengecek kondisi Hilya
Hanya Anton dan Elsa yang menemani Hilya, Dini dan Risqi keluar ruangan.
Dokter wanita itu tersenyum ramah. " Ah malunyaaa... pasien dan keluarga pasien semua Dokter senior, jadi gerogi saya". ucap dokter cantik yang tengah mengecek luka Hilya yang paling serius yaitu di dada.
Mereka semua hanya tersenyum .
Dokter cantik itu berbalik melihat kearah Dokter Elsa. " lukanya belum boleh terkena air, takut jahitan itu nantinya akan kembali terbuka, untuk sementara mohon maaf kalo emm Dokter Hilya ingin memberikan ASI pada si kecil mengkin bisa dengan cara tiduran miring dulu"
"Dok!! saya turut prihatin, Dokter begitu dilukai oleh penculik itu, saya melihat goresan itu malah berfikir kalo penculik Dokter sepertinya mengincar jantung Dokter, mereka sepertinya memang berencana akan membunuh dokter Hilya, meski luka yang dikepala juga tak kalah parah, tapi yang menohok hati yang diarea dada itu, Saya salut sama Dokter Hilya, semoga lekas sembuh ya Dok". dokter cantik itu memeluk sayang Hilya.
Meski Hilya tak lagi berprofesi sebagai Dokter tapi banyak dari pekerja rumah sakit yang tetap memanggil nya Dokter
Sepeninggalan Dokter muda itu, Dini dan Risqi kembali nongol
" Gimana A?? apa kak Hilya baik-baik saja??" tanya dini gak sabaran pada Anton.
"Do'akan ya dek'!!" ucap Anton lembut tanpa adanya sifat jail
"Mas, Mbak sebenarnya kami berencana untuk majukan pernikahan kami, paling tidak untuk akad nikah nya dulu, tidak baik kami sering bersama saat belum ada ikatan resmi begini, takut menuai dosa." ucap Risqi dengan nada sopan santun
" RIS, Aku gak masalah kamu panggil apa saja Mas, A A atau apalah, tapi untuk Kaka iparmu ini tidak ada Teh ataupun mbak, hanya Kak saja okee...??"
Sedangkan Anton mengaduh Sok dramatis karena cubitan Hilya.
"Yang sakit tau!!"
Mendengar keluhan Anton Hilya hanya mengelengkan kepalanya.
" Panggil se nyaman nya saja RIS". ucap Hilya pada Risqi
" Enggak ya'..Aku gak mau kamu dipanggil teh atau Mba Yang.. pangilan mbak itu terlalu dilebelkan banyak orang , coba lihat DECH para wanita pekerja apapun itu mereka selalu dipanggil embak-embak. Mbak-mbak penjual ini itu, mbak-mbak penyanyi, mbak-mbak seles, semua wanita itu pasti disebut mbak Yang di khalayak ramai."
Ucapan Anton membuat mereka semua kembali tertawa.
Ada-ada saja ulah Anton, biar panggilan pun dipermasalahkan.
"Baik, A , kak Hilya, kalau kalian mengizinkan kami akan mengelar akad nikah terlebih dahulu, masalah resepsi pernikahan itu kita fikirkan nanti yang penting halal untuk selalu berdekatan".
Anton mengangguk setuju, begitu. juga Hilya.
Anton menepuk lembut pundak Risqi
" Itu lebih baik RIS, Aku bangga padamu, jadilah imam yang baik untuk Dini, bimbing dia, kalaupun ada kurangnya dan salahnya cara mendidik ku mohon di maaf kan, karena aku terlalu menyayanginya, aku tak bisa terlalu keras padanya"
"Jaga Dini, bahagiakan Dia, utamakan kepentingannya semampu yang kamu bisa, adik ku terlalu banyak di abaikan, Mohon berilah dia kebahagiaan, perhatian yang belum bisa aku berikan seutuhnya selama ini". ucap Anton menasehati Risqi.
Dini sudah menangis ditempatnya, Dini tau Anton begitu menyayangi nya, begitu banyak pengorbanan yang dilakukan Anton untuk kebahagiaan nya.