
Sebulan sudah Adnan hidup bersama dua istrinya dan kakeknya. entah karena betah atau apa, nyatanya kakek Adnan belum kembali ke Kalimantan. Pria tua itu masih betah berada di antara Hilya dan Adnan
Yang lebih lucu lagi Rena juga masih tinggal dirumah yang ditempati Hilya bersama Adnan. meski tidak diminta agar pisah rumah, seharusnya Adnan bisa menjaga perasaan istri pertamanya itu.
Biarpun Hilya terlihat baik-baik saja. tapi belum tentu Hilya tidak merasa jengah, sekuat hati mencoba ikhlas pasti hati wanita ada secuil rasa sedih saat suaminya izin tidur dikamar istri mudanya.
Akan lebih baik berlain rumah dari pada berlain kamar yang masih bisa terlihat dan terdengar saat terjadi sesuatu diantara mereka.
Kakek Adnan yang dulu membenci Hilya, kini pria tua itu berubah menyayangi cucu menantu nya itu, pria tua itu terlihat makin berisi semenjak tinggal dirumah Adnan dan Hilya.
Hilya selalu menyediakan menu sehat untuk kakek Adnan, bahkan rutin membawa kakek Adnan kontrol kesehatan seminggu sekali.
Kehidupan rumah tangga Adnan terlihat begitu harmonis, hingga membuat Adnan lalai tentang janjinya yang akan membeli rumah untuk Rena agar mereka tak satu atap dengan Hilya.
Hari ini Hilya mengadakan syukuran atas penghargaan yang Hilya dapatkan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Hilya mengundang rekan kerja dan para suster untuk makan malam dirumahnya tak terkecuali Arkab.
Pria muda yang mengenal Hilya sejak wanita itu masih menyandang nama Hilary.
Rumah mulai rame, para tamu sudah memenuhi ruang makan, acara makan bersama berjalan baik tanpa hambatan. kakek Adnan juga terlihat begitu menikmati menu makan malam bersama itu.
Rena terlihat sangat minder di antara para rekan Hilya, mau bagaimana lagi. Rena hanya wanita biasa yang tidak menempuh pendidikan tinggi. namun bukan itu yang membuatnya dipandang sebelah mata oleh orang.
Rena dipandang sebelah mata karena dia mau menikahi sepupunya yang telah beristri, bahkan hampir semua rekan Hilya yang hadir ini adalah mereka-mereka yang dulu turut hadir diacara pernikahan Adnan dan Rena, jelas mereka tau penyebab suami rekannya itu menikah lagi.
Ditengah meriahnya suasana mereka yang bersendau gurau, Arkab duduk disebelah Adnan.
Pria yang beristri dua itu melihat kedatangan perawat pria yang pernah berlibur bersamanya itu.
"Terimakasih sudah hadir mas Arkab."
"Sama-sama pak Adnan, saya turut bahagia melihat Bu Hilya mendapatkan penghargaan , saya berharap dengan ini Bu Hilya bisa kembali seperti dulu."
Adnan merasa tersentuh, dengan ucapan Arkab.
" Coba Bapak perhatikan senyum Bu Hilya, apa pak Adnan tidak merasa ada yang berbeda??".
Ucapan Arkab membuat telinga Adnan panas. apa maksudnya pria ini berani-beraninya memerhatikan senyum dan wajah istrinya.
"Apa maksud mu??.nada Adnan sudah naik satu oktaf.
"Sepanjang waktu saya mengenal Bu Hilya, saya tidak pernah melihat Bu Hilya senyum semanis itu, apa Bapak pernah mendengar peribahasa? terkadang senyum manis itu hanya sebuah topeng untuk menutupi kepedihan dan tangis yang sebenarnya."
"Lihatlah pak, coba Bapak ingat-ingat kembali, pernahkah dulu Bu Hilya terseyum lembut seperti itu?? Bu Hilya wanita yang sangat ceria bahkan terkadang jahil. kalau menurut saya saat ini Bu Hilya hanya memaksakan untuk terlihat bahagia pak."
Adnan emosi , hampir saja Adnan membogem wajah Arkab, namun perkataan Arkab selanjutnya membuat Adnan terdiam.