
Anton dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memastikan kondisinya perlu di rawat inap atau tidak, sedangkan Adnan telah pulang bersama dengan Rena yang berkata kakinya lelah dan butuh istirahat, dasar tidak berkemanusiaan, bisa-bisanya mikirin diri sendiri, tapi sepertinya Adnan begitu menyayangi wanita itu hingga dengan mudahnya dia mengikuti kemauan sang istri.
Sedangkan Hilya langsung menemui Dokter spesialis mata dan menanyakan perihal keajaiban yang dialami Anton.
Kenapa bisa terjadi begitu cepat, bukankah seharusnya kebutaan yang dialami Anton butuh penanganan khusus, seperti operasi dan pemulihan secara bertahap.
Hilya hanya takut jika apa yang dialami Anton hanya respon refleks otak karena menerima pukulan yang cukup keras hingga memancarkan cahaya sementara, seperti semu, yang nantinya keadaan itu kembali seperti semula yaitu kegelapan.
Saat setelah melakukan serangkaian tes Anton dinyatakan pulih secara medis kejadian naas yang membawa berkah tersendiri untuk Anton.
Tapi ada pertanyaan besar di hati Anton yaitu bagaimana caranya dia pulang,? dan Dimana saat ini Istrinya? Anton samar-samar mengingat bahwa dia pergi ke pusat pembelanjaan bersama sang istri.
Ada sekilas memory yang mendengar ucapan istri nya yang hendak memesan makanan untuk mereka, atau jangan-jangan istri nya tidak tau insiden yang menimpanya??.
Anton duduk termenung di depan ruang laboratorium, Anton mendapat kebebasan biaya karena dia memiliki kartu berobat prabayar.
Sedangkan Hilya baru saja keluar dari ruang khusus dokter spesialis mata, kaki Hilya melangkah mencari keberadaan suaminya. Kata suster Anton telah selesai pemeriksaan dan diperbolehkan untuk pulang.
Hilya khawatir, karena Anton belum mengetahui alamat tempat tinggal mereka. saat hendak berbelok menuju parkiran Hilya melihat sang suami sedang duduk di depan ruang laboratorium.
Bibir wanita cantik itu melengkung, entah mengapa pertemuan nya dengan mantan tak memiliki dampak yang berarti, Hilya merasa biasa saja, bahkan tidak ada lagi rasa iri di hatinya.
Apakah Hilya mulai mencintai Anton?? apa sekarang di hati Hilya telah terhapus nama Adnan?? harusnya memang begitu karena sekarang Anton lah suaminya, jadi sudah semestinya hanya nama Anton yang bertahta di hatinya.
Hilya mendekati Anton, tidak ingin terburu-buru dalam bersikap Hilya akan mengikuti perkembangan ingatan Anton dengan mencoba bersabar.
Anton menoleh kearah Hilya, pria itu tersenyum manis, ingin rasanya Hilya menghambur kepelukan Anton mengakui bahwa dia adalah istri nya.
" Ah ya' kamu sendiri kenapa belum pulang??masih dinas??".
" Aku gak ada jadwal hari ini?? kamu kenapa gak langsung pulang?? emmm kebetulan kita searah apa gak sekalian kamu nebeng sama aku??".
Mata Anton berkedip beberapa kali. " Eh Hil sebenarnya aku sudah pindah rumah bersama istri baruku, aku sudah tidak tinggal di perumahan lagi. tapi masalahnya aku tidak tau alamatnya."
Hilya terseyum menatap wajah Anton, aku tau Ton, bahkan saat acara pernikahan kalian aku hadir.
Anton seperti berfikir, "ah apa benar?? maaf aku tidak mengingatnya, ah astagaaa aku baru menyadari bahwa istri ku juga seorang dokter, apa jangan -jangan kalian saling kenal??".
" IYa ton!! aku kenal baik sama istri mu, jadi gimana? ikut bareng gak??".
Anton terseyum antusias.. "aku ikut, Alhamdulillah... aku akan memberikan kejutan untuk istri ku, dengan aku akan pura-pura masih buta, terus dengan begitu aku bisa memandangi wajah nya dengan sepuas hatiku."
Hilya kikuk mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Anton, kenapa Anton sama sekali tidak mengenali tubuhnya..??.
Mereka pulang bersama, memang sudah semestinya mereka pulang bersama toh mereka satu rumah.
Hilya meminta izin Anton untuk mampir sebentar, dan lucunya Anton menolaknya alasannya Anton tidak mau membuat istri nya salah faham saat Anton pulang bersama wanita lain.