Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
115.Mencoba berdamai



Hari ini, setelah tiga hari berlalu Hilya akhirnya dapat meluluhkan hati Anton, dengan segala penuturan lembutnya akhirnya Anton mau menemui sang ayahanda, yang selama hidupnya di sematkan pangilan Abah itu


Denyit suara pintu terbuka melihatkan sosok wanita hamil, terlihat dari perutnya sepertinya usia kandungannya lebih muda dari usia kandungan Hilya


Zizi yang mengenali sosok Anton terkejut, wanita hamil itu sampai melangkah mundur


"Assalamualaikum" salam Anton dan Hilya, dan di jawab lirih oleh Zizi


Terdengar suara seseorang yang sedang terbatuk-batuk dari arah dalam


" Siapa Zi??" tanya lemah yang samar-samar dapat tertangkap oleh telinga mereka bertiga


"Si silahkan masuk!!" ucap Zizi terbata


Anton melewati begitu saja sodari tirinya, sedangkan Hilya masih memberikan senyum manis pada sodari tiri Anton yang bernama Zizi itu, ya Hilya sempat mendengar saat paman Anton menyebutkan nama seorang wanita hamil yang sedang ditingakan suaminya itu adalah Zizi


Anton menyibak korden penghalang pintu dimana sang Abah berada


Setetes air mata Anton menitih saat melihat pemandangan yang membuatnya merasa terenyuh, saat melangkah memasuki kamar yang ditempati oleh Abah nya bau menyengat itu langsung tercium di Indra penciumannya


Belum lagi kamar yang tampak begitu memprihatinkan karena tidak adanya alas tidur yang layak


Saat mata tua itu melirik siapa yang datang, tangan itu bergetar, tidak hanya tangan seluruh tubuh ringkih itu bergetar begitu hebatnya, terdengar isakan yang menyayat hati


Percayalah, setega-teganya anak, tidak akan pernah tega melihat kondisi orang tuanya yang lebih menyedihkan dari seorang pengemis


Anton tergugu ditempatnya, bukanya mendekati tubuh sang Abah, Anton malah menilai apakah ini sebuah balasan dari sang Maha kuasa??" melihat tubuh ringkih ayahnya yang begitu mengenaskan, belum lagi sepertinya ayahnya tak mampu hanya sekedar duduk.


Anton sedikit melirik kearah sodari tiri nya, sepertinya memang benar, bahkan wanita hamil itu begitu kurus, hanya terlihat perutnya saja yang besar.


Hilya ikut masuk, namun belum begitu mendekat Anton sudah melarangnya.


" Yang! tunggu di luar saja baunya tidak baik untuk kesehatan kandungan mu!!" ucap Anton dengan suara tegas, memang benar di kamar itu begitu bau menyengat


Hilya mundur, dan mengikuti perkataan Anton, sedangkan Zizi melihat Anton dan Hilya secara bergantian, mungkin dihati Zizi terbesit rasa iri dengan Hilya karena ada sosok yang begitu menghawatirkan Hilya saat tengah mengandung, sampai dirinya ikut mengelus perutnya yang buncit dengan telapak tangannya sendiri.


Anton menatap Zizi yang tengah melihat kearah Hilya yang telah pergi menjauh


" Pergilah!! ini juga berlaku untuk mu!! biar aku bersihkan dulu Abah beserta kamarnya." ucap Anton seolah mengerti dengan pemikiran sodari tirinya


" Tapi....


" Tidak apa-apa!! kamu juga sedang mengandung, tidak baik terlalu lama berada di dalam sini!!


Tanpa diduga air mata wanita hamil itu menetes kembali, tidak pernah sekalipun suaminya perduli dengan nya, sedang kini sodara tiri yang dulu di jahatinya masih perduli dengan nya


Zizi menyusul dimana Hilya berada, lagi-lagi Hilya terseyum lembut kearah Zizi


Sedangkan didalam ruangan sempit itu, tangan kanan Anton meraih telapak tangan sang Abah dan menciumnya


Anton masih punya hati, meski bagaimana pun yang sedang sakit, yang sedang tergeletak tak berdaya adalah orang tuanya


Bahkan tanpa rasa jijik Anton memeluk tubuh ringkih itu, Abah Anton tak lagi terbendung air matanya, kedatangan Anton mengingatkan kebodohannya di masa lalu.