Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
178.Kejujuran Anton



Setelah ponsel itu mengelap Hilya memeluknya erat di dadanya


" Ku tunggu niat baik mu mas!!" Hilya bergumam, air matanya mengenang di pelupuk matanya


Batin wanita mana yang tak sedih jika suaminya menyimpan rahasia


Satu Minggu berlalu, Hilya tak sekalipun mendapat kabar dari Anton


Pagi ini bel rumah berbunyi membuat Hilya bergegas kearah pintu


Seorang petugas keamanan rumahnya memberikan Hilya dokumen entah apa isinya


Setelah mengucapkan terima kasih Hilya membuaka dokumen itu


Setelah membukanya Hilya mengetahui bahwa isinya adalah sebuah surat dari pengadilan agama , surat gugatan cerai Anton yang sudah di bubuhi tanda tangan suaminya, dan yang lainya adalah foto-foto Anton dan seorang wanita yang tengah bermesraan


" Kamu hebat mas!!" gunam Hilya


Hilya menuju kamarnya meminta Baby sister menemani baby Khansa , sedang dirinya mulai bersiap.


Hilya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, mengela nafasnya yang kian sesak


" Kenapa kamu terlalu pengecut mas?? mana mas Anton yang selalu ada untuk ku?? aku sangat membencimu!!" Hilya terus berkesah sepanjang jalan


Mobilnya telah terparkir rapi, langkah kakinya mulai menyusuri lorong, kini kakinya berhenti tepat di sebuah ruangan yang bertuliskan mawar merah


Tanpa mengetuk pintu Hilya masuk dengan langkah santai, iris hitam itu bertemu dengan iris yang seminggu ini tak dilihatnya


" Yang!!" Anton sangat terkejut dengan kedatangan istri nya


Hilya melangkah tanpa kata


Diruangan itu tak hanya Anton, Umi, Abah Anton, Dini, Zahfran lengkap disana


Anton yang baru tiga hari yang lalu kemo membuatnya masih terbaring tak berdaya


Anton ingin memeluk istrinya, ingin mengungkapkan kesakitan yang dirinya rasakan tapi istrinya tak bergeming bak manekin, Hilya menatapnya tanpa ekspresi


" Nak??" Umi Anton memanggil menantu nya


Hilya menoleh dan tersenyum sekilas dan kembali menatap sosok Anton yang terlihat begitu lemas


Hilya membuka tasnya mengeluarkan amplop berwarna coklat itu kepada Anton


" Ini, aku sudah menandatangani nya, sampai jumpa di pengadilan!!"


" Yang!! kamu setuju bercerai??"


" Ya' !!! itu pilihan mu mas, aku hanya mengabulkan permintaan suamiku apa ada yang salah?? untuk apa aku memaksakan tetap bertahan jika orang yang ku pertahankan tak menginginkan ku tetap di sisinya!!"


" Ba_ bagaimana kak Hilya tau Aa di rawat di rumah sakit??" Dini mendekati Kaka iparnya


"Dari ponsel kalian, saat kamu mengangkat panggilan dari kakak, kakak mengetahui posisi ponsel suami kakak Din, dan kakak pun melacak keberadaan ponselmu dan ponsel Zahfran berada di tempat yang sama, dan itu berlangsung hingga hari ini, kakak cukup bersabar menunggu niat baik kalian tapi nihil, ternyata kalian memang tak mengharapkan kehadiran kakak disini, jadi yaaa kakak sudah mengabulkan keinginan Aa mu, tugas kakak sudah selesai, aku permisi!!"


Hilya meraih tasnya hendak pergi, tetapi tangan Anton menahan lengannya


" Kamu tau aku sakit Yang? aku aku sakit kangker Yang! kata Dokter ak.....


" Bukan urusan ku !! sampai jumpa di pengadilan!!" Hilya memotong ucapan Anton


Hilya mencoba melepaskan genggaman tangan Anton.


" Kak, kasiani AA kak, Aa membutuhkan kak Hilya!!" Dini mengiba dengan isak tangis.


" Nak, Anton melakukan semuanya karena tidak ingin membuat mu khawatir,!!" Umi Anton pun turut mengiba meminta Hilya agar tetap tinggal.


Tapi Hilya tak juga merubah ekspresi cueknya, air mata Anton luruh, Anton sadar, sangat susah untuk membodohi istrinya, sifat Hilya menunjukkan betapa kecewanya Hilya pada mereka semua.


" Yang aku ingin rujuk!!" iba Anton


" Maaf aku dan Khansa tidak membutuhkan seorang pria pengecut!!"


Hilya menghempaskan tangan Anton dan segera akan meninggalkan ruangan suaminya, namun ucapan Anton membuat langkah Hilya terhenti


"Aku mencintaimu Hilya Nafisah!! untuk saat ini Dimata hukum kamu masih tetap istri ku, bahkan secara agama pun iya , tanda tangan di surat cerai itu bukan aku yang menandatangani nya tetapi Dini, aku sengaja meminta Dini melakukan nya karena sampai matipun aku ingin tetap menjadi Suamimu!!"


"Aku frustasi mengetahui kangker bersarang di otak ku, aku takut kamu akan terluka jika terus bersamaku, tapi aku sadar bukan penyakit kangker ku yang mengancam kematian ku, tapi berjauhan dengan kamu dan putri kita yang membuat aku diambang Kematian karena merindukan kalian!!"


"Tolong kasihanilah pria pengecut ini,!!" Anton menangis, Dini menangis, Zahfran dan Umi pun menangis, begitupun Abah Anton tak terkecuali Hilya, bibir Hilya bergetar menahan Isak, dadanya sesak melihat keadaan suaminya, tapi Hilya kecewa sangat kecewa terhadap Anton.


" Tolong tinggalkan aku dan istriku sendiri!!" Anton menatap mereka semua, mereka langsung memenuhi permintaan Anton, kini tinggallah Anton dan Hilya di dalam kamar.


" Hilya Nafisah, aku menginginkan mu saat ini, layani aku layaknya seorang Suami!!


Anton mengucapkan nya dengan nada bergetar, ini satu-satunya cara agar Hilya kembali padanya


" Kamu tau kan menolak permintaan suami adalah dosa besar??"