
Besok rencananya Anton akan dibawa ke Jerman untuk dibawa berobat kesana.
Keadaan Anton makin hari makin memburuk, sedang Adnan tak pernah absen juga berkunjung ke rumah sakit.
Tidak hanya menjenguk sang sahabat, Adnan juga melihat keadaan putranya yang semakin terlihat seperti seorang bayi.
Saat melewati pintu masuk kamar Anton, Adnan dikejutkan dengan suara Hilya yang mengais histeris.
"Maaass..... jangan tinggalkan aku mas'.."
Adnan berlari kedalam, tubuhnya mendadak kaku melihat layar monitor Anton yang menampik garis lurus semuanya.
Mama Hilya mendekap erat putrinya, terlihat Hilya meronta minta dilepaskan.
"Aku mohon pergi kalian semua tinggalkan aku.." teriak Hilya kepada semua orang yang berada di ruangan Anton.
Sedih hati adnan melihat wanita yang dulu selalu tersenyum dan jahil itu kini hidupnya penuh dengan deraian air mata, Adnan keluar kamar itu bersama mama, papa dan keluarga Anton.
Adnan bersyukur keluarga Hilya dan Anton tak menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Anton. Mereka mengizinkan Adnan menjenguk kapanpun dia mau.
sedangkan didalam kamar, Hilya menatap lekat wajah suaminya yang terbaring tak berdaya.
"Apa ini yang kau sebut cinta mas??" tanya Hilya sedih.
" Kau bilang akan selalu melindungi ku mas Manaaa...??"
"Apa kau ingin pergi??".
"Kau tau aku tidak mengizinkannya..!!"
Air mata Hilya tumpah tak terbendung.
Tangan Hilya membelai pipi putih suaminya.
" Dengarkan aku mas Anton aku tidak mengizinkan mu pergi!! hix. hix.hix.."
" Kalau kamu berani pergi meninggalkan aku, aku tidak akan memaafkan mu!!".
"Haaaaaa.aaaaaaaa...haaaaaaaa...."
tangis Hilya pecah....
"Aku benci kamu mas....!"
"Aku benci kamu...."
Hilya terduduk dilantai dengan air mata tak terbendung.
Keluarga nya yang menyaksikan keadaan Hilya dari balik jendela ikut merasakan kepiluan Hilya.
Mereka masuk saat Hilya tiba-tiba terkulai lemas dilantai..
Dokter yang menangani Anton masuk kedalam .
Keluarga justru mengurus Hilya yang tak sadarkan diri.
Sedangkan saat Dokter hendak menutup wajah Anton dengan kain, Dokter itu melihat jari kelingking Anton bergerak kecil, meski gerakan kecil tapi itu jelas tidak bisa terjadi dengan seseorang yang dinyatakan meninggal bukan.
Diruangan yang sunyi hanya ada Dokter, Anton dan suster, itu Dokter kembali segera memasang semua alat bantu untuk Anton.
Dokter itu terkesiap saat melihat kelopak mata Anton terbuka.
Sedangkan diruangan yang lain kepanikan mewarnai ruangan dimana Hilya dilarikan.
Mereka panik karena Hilya tiba-tiba mengalami pendarahan, bahkan umi Anton yang telah mengiklaskan kepergian anaknya, begitu menghawatirkan keadaan sang menantu yang sedang mengandung penerus anaknya.
Umi Anton yang tidak tega melihat keadaan sang anak berusaha mengiklaskan saja anaknya berpulang, karena Anton memiliki banyak luka yang membuatnya hanya memiliki harapan kecil untuk tetap bertahan.
Tidak hanya keluarga Anton dan Hilya, keluarga Adnan pun ikut merasakan kepiluan keadaan Hilya dan Anton.
Mama Rena yang mendapat keringanan untuk sembuh sebelum dipenjara pun ikut menyesali perbuatannya, kini sepanjang harinya hanya diisi oleh tangis dan penyesalan, sedangkan sang putra sudah dinyatakan mengalami cidera otak yang membuatnya kehilangan sebagian akalnya, bisa dibilang putranya menjadi tidak waras.
Kepiluan itu harus dihadapi Mama Rena dengan iklas, sekarang pun dia telah kehilangan kedua kakinya, hidupnya sudah tidak berarti tapi saat memikirkan bunuh diri dia juga takut bahwa justru neraka lah tempatnya menjalani hidup kekalnya di akhirat.