Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
142.Kekacauan Mariani



Terbukti, Zahfran terseyum tipis mendengar pertanyaan Hilya.


"Kamu memang milik ku, hari ini dan seterusnya. ucap Zahfran santai tidak memperdulikan ada Anton di dekat nya.


Anton menjitak kepala Zahfran.


"Ooooo.... kamu yang berani mencium istri Kaka??ehh.. inget itu istri aku, ada anak diantara kami, jangan jadi Pebinor ya kamu!!" peringatan Anton pada Zahfran dengan menatap lekat pria muda dihadapannya.


Sedang Zahfran sama sekali tak menghiraukan, seolah melupakan rasa canggungnya Zahfran justru tersenyum defil menatap Kaka tirinya.


" Aku mengakui perasaan ku pada seseorang yang ku sukai, kenapa....... " Zahfran sedikit bingung ingin menyebut siapa Anton


"Apa hmm?? mau tidak mau kamu memang lebih muda dari ku, maka kamu harus memanggil ku Kaka." potong Anton melihat Zahfran yang sedikit bingung dengan sebutan untuknya


Zahfran mendengus sinis matanya menangkap kain yang melilit lenganya, membuat rasa malu kembali merasuk hatinya, ..tapi yang membuat Zahfran heran kenapa mereka tidak melihatnya aneh seperti pandangan orang lain padanya saat dirinya kembali kambuh, bahkan wanita yang ternyata Kaka tirinya itu tak segan mendekapnya erat.


Mata Zahfran menatap lekat wajah ayu Dini, wanita yang pertama kali mendekapnya dalam keadaan dirinya yang begitu memalukan, Dini cantik meski tak seputih Hilya Dini sedikit lebih manis jika dilihat dari sudut pandang berbeda, senyuman yang sedikit mirip Hilya menambah kesan plus pada Dini.


Zahfran membuang pandangannya ke arah pintu, yang terlihat Umi Anton sedang mendekap Mama Hilya.


" Sebagai seorang Anak saya memohon maaf atas perbuatan Ibu saya, saya tidak mampu mencegah perbuatan i6bu saya, disini saya yang lemah dan payah, saya begitu tidak berguna hingga ibu saya hampir saja membunuh putri kalian, saya akan menyerahkan Ibu saya dengan tangan terbuka, tapi perkenankan saya untuk turut menjaga putri kalian selama sakit, saya memang brandalan tapi saya bisa di percaya, saya memang sedarah dengan Ibu saya tapi saya juga memiliki sifat yang berbeda."


Baik Mama Hilya maupun Umi Anton tersentuh oleh kata-kata Zahfran, pria muda yang mampu memaknai arti keluarga, meski bukan kesalahannya Zahfran rela bersimpuh, memohon maaf atas nama Ibunya.


Umi Anton memang tidak menyukai Mariani, namun tidak dengan anak-anak nya, Umi Anton dengan penuh kasih sayang membawa Zahfran berdiri memeluk erat tubuh muda itu layaknya putranya sendiri.


"Jangan mengiba dihadapan kami, meski kami begitu tersakiti karena ulah Ibu mu, tapi kami juga berterimakasih kepada mu nak, putri dan cucu kami tertolong dengan cepat karena dirimu juga, berdirilah!!, kamu juga anak Umi, mulai sekarang anggaplah kami keluarga mu juga." ucap Umi Anton lembut.


Lagi-lagi Zahfran terdiam, memori nya mengingat kapan terakhir kali Ibunya mendekapnya??, kapan terakhir kali dirinya diberikan saran selembut ini??"


**********


Dibalik pintu Mariani dan Abah Anton sedang cek Cok, Mariani memaki maki Abah Anton dengan perkataan yang begitu tak pantas, ber menit-menit mereka berdebat tanpa ada yang menengahi, bahkan Zizi justru pergi ke taman rumah sakit meninggalkan orang tuanya dan mencari ketenangan diri, Zizi pun turut kecewa atas ke egoisan Ibunya, hingga akhirnya sebuah talak dijatuhkan oleh Abah Anton untuk Mariani.


Mariani tak menyangka, Abah Anton akan memberinya talak, hingga ucapan tak terduga itu membuatnya terdiam seribu bahasa, Mariani terkejut dan juga belum siap atas keputusan Abah Anton, alasan nya karena harta Abah Anton memang telah Ia kuasai namun kepemilikan masih tetap atas nama suaminya, dirinya belum sempat mengalihkan kepemilikan saham dan yang lainya, selama ini dirinya terlalu percaya diri Abah Anton tak kan pernah menceraikan dirinya, namun kenyataannya kini semua terjadi diluar kendalinya.