Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
38.Terkejut



Hilya memasuki kamarnya.


Melaksanakan shalat isya dan hendak beristirahat. ketukan pintu membuatnya mengurungkan niatnya, kaki nya melangkah membuka pintu.


" Diminum tehnya mba!!" Hilya memerhatikan wajah sembab wanita dihadapannya itu.


Kenapa Rena menangis?? batin Hilya, namun ia tak mengambil pusing . Hilya menerima teh sere itu dengan ucapan terimakasih.


Sebelum menutup pintu Hilya bertanya kembali kepada Rena, apakah ada sesuatu yang lain??. namun wanita itu menggeleng dan pergi dari kamar yang Hilya tempati.


Saat hendak mengunci pintu. sepasang tangan mendorong pintunya.


Wajah ayu itu tersenyum, menampakan kebahagiaan. entah hanya lahir atau memang wanita itu sedang bahagia.


Adnan memeluk istri yang begitu ia rindukan. Adnan memang benar-benar merindukan Hilya. semenjak izin menikah. Hilya sudah mulai menghindari nya.


Hingga sampai usai pernikahan, bahkan istri nya itu, meninggalkannya satu Minggu lamanya. tak tergambar betapa rindunya hati Adnan pada sang istri.


"Kenapa pintunya mau dikunci??..apa saya dilarang masuk kekamar ini..??" bahasa baku itu muncul kembali, rasanya mereka sama-sama merasa canggung.


Hilya terseyum lembut. membuat Adnan merasakan cubitan tak kasat mata. wanita ceria itu berubah menjadi wanita yang begitu ramah.


Kemana perginya raut jail istrinya itu??


kenapa istri yang dulu begitu keras kepala dan jail jadi wanita lemah lembut seperti ini??.


"Mas!! besok aku mau bawa kalian jalan jalan ke pusat pembelanjaan boleh? aku minta tolong rekanku untuk membawakan 1 kursi roda dan 1 perawat pria untuk membantu kakek besok.


mas, sebelum aku kembali aktif bekerja aku ingin meluangkan waktu ku untuk kalian, sekarang kakek dan Rena adalah bagian keluarga kita."


Getir hati Adnan melihat kebaikan sang istri.


Adnan memandangi wajah ayu itu, ingatan Adnan kembali dimana sang istri izin berlibur untuk menghilangkan beban fikiran nya apakah itu berhasil??


Adnan hanya mampu mengangguk, mereka tidur dengan saling berpelukan, tidak ada ritwal penyatuan, Adnan yang sungkan meminta Hilya melayani nya. sedangkan Hilya yang memang merasa kecapean membuatnya langsung terlelap.


.


.


.


Pagi harinya setelah melaksanakan shalat subuh, Hilya telah meramaikan dapur. wanita berparas cantik itu begitu lihai mengubah bahan makanan menjadi menu ala internasional.


Yang berbeda dari menu biasanya, Hilya memasakan nasi yang lunak dan pisang ijo di menu sarapan hari ini.


Entahlah beberapa hari ini Hilya inggin sekali memakan pisang ijo , dan nasi lunak itu Hilya masak khusus untuk sang kakek.


Sedangkan di ruang keluarga terdengar suara sang kakek yang menasehati sang cucu agar bisa menjadi istri yang baik. memang setelah melaksanakan shalat subuh tadi Hilya melihat sang madu yang bersantai diruang TV dan tak berniat melakukan apa-apa.


Padahal kalau difikir seharusnya Rena lah yang menyiapkan keperluan suami dan kakeknya.


Setelah semua menu terhidang, Hilya membuat ramuan teh hijau dan minuman Gingseng untuk suami dan sang kakek, sedang dirinya membuat teh madu dengan ukuran besar, siapa tau sang madu juga mau meminumnya.


Hilya memasuki kamarnya dan membersihkan diri, terlihat sang suami yang tengah menyetrika baju. "Mas !!" tegur Hilya.


Adnan menoleh dan tersenyum.


"Kenapa menyetrika baju, apa sudah tidak ada baju yang siap pake..?" tanya Hilya tampak heran.


Adnan hanya diam, Hilya yang tak sabar segera membuka lemari pakaian suaminya. dan betapa terkejutnya Hilya saat melihat pakaian suaminya hamburadul tak beraturan. astagaaaa sesibuk apa sich madunya itu sampai tak mampu mengurus kebutuhan Adnan.


Sedang dirinya yang selama ini pergi pagi pulang malam saja masih mampu mengurus segala keperluan suami nya.