
Untuk pertama kalinya Adnan begitu menikmati keelokan wajah mantan istrinya yang penuh keceriaan setelah lama keceriaan itu surut dan redup karena ulahnya
Wajah elok yang selalu sedap di pandang mata, lucunya lebam kemerahan di pipi Hilya itu bagaikan polesan Blush On yang membuat kesan cantik yang begitu nyata, meski tak terpungkiri memar itu pasti masih terasa sakit meski lebam kebiruanya sudah memudar
" Hil kamu kenapa izinkan Anton bertemu dengan Keysa?? setau saya dulu key adalah wanita pertama yang di sukai Anton di pesantren". ucap Adnan hati-hati, tidak ada maksud apapun Adnan membuka kisah lama itu, hanya ingin sekedar tau alasan Hilya.
Hilya mengangkat bahu cuek.
" Ujian rumah tangga itu adalah uang, keturunan dan orang ketiga, saat dulu aku kalah akan keturunan saat kita membina rumah tangga, aku iklas mas, aku anggap itu sudah jalan takdir, meski kala itu aku terpuruk karena merelakan cinta pertamaku untuk wanita lain, dan itu juga akan berlaku pada mas Anton, saat ujian itu datang dan dirinya tak bisa melewatinya aku akan merelakannya". ucap Hilya enteng, namun ucapan itu cukup menohok hati Adnan, ujian cintanya dulu karena keturunan dan dia kalah akan hal itu, menuruti keinginan sang kakek dan mengorbankan wanita yang luar biasa dalam hidupnya dan itu membuat catatan sejarah yang begitu Adnan sesali.
Sedangkan Zahfran yang mendorong kursi roda Hilya terkejut, mengetahui Adnan juga mantan suami Hilya, 'pantas!!" batin Zahfran, binar cinta itu beberapa kali Ia lihat di mata Adnan untuk Hilya sekalinya ada hubungan antara mereka terdahulu, dan berpisah karena keterpaksaan itu dapat Zahfran rasakan, mengetahui fakta baru itu membuat Zahfran lebih mengagumi sosok Hilya
Merelakan itu tidak mudah, tapi mendengar kalimat yang diucapkan oleh Hilya rela mengalah sekali lagi demi orang yang di cintai nya, membuat hati Zahfran ikut tercubit, jika Anton Kaka tirinya berani meninggalkan Hilya demi wanita lain, habis kau batin Zahfran.
Setelah pembicaraan itu mereka bertiga dilanda kesunyian hingga langkah mereka berhenti di depan ruang rawat Baby Akbar.
" Apa kita bisa masuk bersama??" tanya Zahfran.
" Tentu!!" Adnan mengambil alih mendorong Hilya sedang Zahfran membukakan pintu untuk mereka
Anton dengan langkah gontai memasuki ruang rawat Keysa, rasa tidak nyaman itu memenuhi hatinya
Siapa yang dirinya kunjungi, teman kah??, sahabat kah??" hubungan mereka berdua tidak berkomitmen untuk itu, hubungan pacaran yang sudah putus disebut apakah jalinan itu sekarang.
Membiarkan sang Istri, pergi ditemani bersama pria lain sedang dirinya pergi menemui wanita lain, senyum miris terbit di bibirnya, ini tidak boleh berlarut-larut, cukup ini pertama dan terakhir kalinya dia bertindak bodoh seperti ini
Langkah Anton telah sampai di ruang yang tampak begitu sepi, terbaring miring sosok wanita yang pernah memenuhi hatinya dahulu, entahlah, masih adakah sisa cinta itu dihati Anton atau tidak, setidaknya Anton akan segera mengetahui nya sebentar lagi.
Wanita cantik itu seolah mengetahui kehadiran seseorang di ruangannya, dengan lamban tubuh itu berbalik menghadap Anton yang berdiri diam di dekat brangkar
Wanita yang masih tetap menawan dan begitu cantik itu mengembangkan senyum nya, tubuh itu segera menubruk tubuh Anton dengan begitu erat yang membuat Anton terkejut bukan main, wanita cantik itu tak menghiraukan infusnya yang terlepas karena dirinya yang berlari memeluk Anton, tak menghiraukan rasa perih yang nyatanya darah itu mengalir di celah punggung tangan nya.
"Aku merindukan mu" suara lirih itu mengalun di pendengaran Anton
Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba Wanita yang bernama Keysa itu mencium bibir Anton dengan ganas Anton yang tersadar mendorong pelan tubuh Keysa, meski Keysa mencoba menahan tengkuk Anton namun Anton tetap bisa melepaskan diri dengan cepat.
Wajah Keysa memerah, entah malu ataupun marah, Anton yang berhasil menguasai diri berjalan mundur menjauhi Keysa.