
Kalau boleh jujur Adnan begitu khawatir dengan keadaan Hilya tetapi karena merasa tidak enak akhirnya Adnan hendak berlalu dari makam, sebelum sebuah tepukan di pundaknya menghentikan nya
" Bukan kah ada sebuah pesan yang kamu terima dari Anton nak??" tanya suara di balik punggung Adnan, pria yang bersamaan dengan nya menyambut jenazah Anton saat masuk ke liang lahat, beliau adalah Abah Anton. pria paruh baya itu menatap dalam kedua netra Adnan
Adnan berbalik canggung
" Ana ragu Abah!! masih pantaskah ana menjalankan permintaan terakhir Anton!! lirih Adnan
" Saat Anton mempercayakan padamu, kami juga mempercayai nya!! bukan Abah Anton yang menjawab melainkan suara ngebas Papa Hilya
" Saya merasa tak pantas Pa!!"
" Berusaha dulu nak!! kamu ingat seberapa besar manusia mencintai sesama makhluk, tetapi Allah maha membolak-balikkan hati hambanya. Umi Anton turut menimbrung. " kami iklas jika memang Anton telah memilih mu , meski Anton tak memilih mu pun kami akan tetap ikhlas jika menantu kami akan kembali melanjutkan hidupnya bersama dengan mu asalkan kamu dapat menyayangi cucu kami layaknya putri mu sendiri
Adnan tak menjawab, Kini matanya memandang kearah gundukan tanah yang masih basah, yang di atasnya ada seorang wanita yang sedang mereka bicarakan dan di sampingnya ada Mama Hilya yang masih berusaha membujuk Hilya agar ikut pulang
" Mantap kan hati mu dulu Nan, Tanyakan pada hatimu masih adakah rasa itu saat ini, kalau kata orang cinta pertama itu susah di lupakan!!"
" Rasa itu masih tetap sama, bahkan semakin dalam Pa, tapi untuk memulai atau mencoba membangun itu kembali saya belum yakin, dan lagi Hilya belum tentu mau. jawab Adnan tanpa mengalihkan pandangannya dari Hilya
" Butuh waktu Nan!! tentu Papa tidak akan meminta Hilya segera menikah, jangan lupakan Anton juga putra Papa hanya Saja kami memberitahukan bahwa seandainya kamu mau berjuang kamu sudah mengantongi restu dari kami, karena nyatanya Anton sendiri yang meminta kami agar menerima mu kembali ketika suatu hari datang meminang Hilya
Adnan menunduk, menyembunyikan air mata diyang mulai terjatuh.
Takut jika dirinya tak mampu membahagiakan Hilya
Takut jika nantinya kebodohannya kembali membuat Hilya terluka
Banyak ketakutan yang Adnan fikirkan, terlebih Adnan takut jika nyatanya Hilya tak akan pernah lagi membuka hatinya untuk satu kata yang disebut cinta, melihat keterpurukan Hilya Adnan yakin cinta Hilya telah hilang bersama dengan hilangnya sandaran hidupnya "Anton"
Rintik hujan mulai turun, membuat mereka semua mulai bergerak pergi, semua menepuk pundak Anton
" Titip putri Umi Nan!!" Umi Anton pergi meninggalkan Adnan bersama Papa Hilya dan Abah Anton sedang dari arah pandangnya Mama Hilya seolah memberi isyarat agar Adnan mau membujuk Hilya sebelum Beliau beranjak pergi
Gerimis mulai turun, semakin lama berubah menjadi hujan deras
Adnan memandang lekat Hilya, tak mendekat dan enggan membujuk, bukan karena tak khawatir tetapi Adnan tau Hilya sedang ingin sendiri
Adnan masih bergeming di tempatnya memandangi Hilya, begitupun Hilya yang masih dalam posisi jongkoknya
Menit demi menit berlalu, Adnan dapat melihat bahu Hilya bergetar, Adnan tau Hilya belum kedinginan tetapi Hilya sedang menangis di bawah guyuran hujan, akhirnya Hilya meluapkan rasa sedihnya dengan menangis di bawah guyuran hujan dan menyamarkan air matanya
lepaskan lah Hil!! menangis lah ......jika aku di beri kesempatan Allah untuk kembali menjadi bagian dari hidup mu, aku berjanji Hil aku akan menganti kesedihan mu dulu saat bersama ku dengan kebahagiaan yang membuatmu lupa pernah tersakiti oleh ku...janji Adnan