Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
58.Pernikahan



Anton terseyum sinis."kau tidak mau?? ckckck sudah kuduga, aku hanya sebagai tumbal untuk mu. maaf kalau aku berfikir picik begitu, karena menurutku tidak ada untungnya bagimu menikahi pria cacat seperti ku."


Bukan tanpa alasan ucapan ku karena ya tadi!! menurut ku kau terlalu cantik untuk sekedar mencari pasangan yang sempurna kau pasti mudah mendapatkan nya.


Dan di dongkrak dengan profesi sebagai Dokter tidak ada yang bisa menghindari pesona dokter secantik dirimu.


Mungkin mendengar ucapan Anton , wanita pada umumnya akan marah, Hilya hendak menikahi Anton, bukan mencari keuntungan namun justru dia ingin menolong sang sahabat, ingin mengurusnya dan membantunya berobat tapi lihatlah penilaian Anton padanya.


Namun Hilya menyadari satu hal, Anton hanya mencoba mencari kebenaran, terlebih dirinya memang tak mempu mengenali dirinya apa salahnya jika Anton ingin mengetahui dan mengenal wanita yang menawarkan sebuah pernikahan.


Hilya mendekati pria yang sedang duduk di kursi roda itu, tangan Hilya menuntun tangan Anton menuju perut ratanya.


" Anda seorang Dokter tuan Anton , anda pasti pada normalnya tau membedakan wanita yang sedang mengandung atau tidak, maka periksa lah, apa perlu saya ambilkan Stetoskop??".


Tangan Anton meraba permukaan perut Hilya, entah mengapa tiba-tiba ada gelenyer aneh merasuk di hati Hilya, terlebih saat tak terduga Anton menempelkan telinganya di permukaan perutnya, sesekali Anton mendorong pinggangnya agar lebih merapat kehadapan nya.


Beberapa saat kemudian Anton melepaskan dekapannya, tanganya pun berhenti meraba perut Hilya. " kau sungguh tidak hamil?? bagaimana mungkin??".


Hilya duduk dihadapan Anton. " jadi gimana apa kamu percaya kalau aku mengatakan aku ingin menikahimu karena itu ku lakukan untuk keperluan mu dan memudahkan aku merawat dirimu??"


"Aku hanya ingin memastikan, maafkan aku!!'.


" Tidak masalah, jadi bagaimana?? kapan kita bisa melakukan iklar pernikahan??".


" Kalau boleh tau apa kau memakai hijab??"


" Kenapa kamu tidak terlalu bisa memintaku melakukan yang kamu mau?? maksudnya apa??".


" Ya karena aku tidak bisa memantau mu dengan pandangan ku!!".


" Aku berjanji, setelah aku menjadi istri mu aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan menurut dengan mu".


" Alhamdulillah".


Hari yang di nanti oleh Hilya dan Anton akhirnya tiba, dengan khidmat Anton melakukan acara ijab Kabul dengan khusyuk dan lancar. meski Anton Buta namun Anton dapat memberikan mahar sesuai yang Hilya inginkan yaitu surah an nisa yang berjumlah 176 ayat. Anton membacanya dengan khusyuk dan lancar.


Anton memang pria yang gaul dan bergaul tak memilih teman pria wanita oke, tapi Anton tetap tau batasan, Anton tetap pria Sholeh yang menutup jati dirinya dengan tampilan trend fashion nya.


Siapa yang menyangka pria se trendy Anton adalah seorang hafidz. namun Hilya tau itu, meski Anton kehilangan sebagian besar ingatan nya namun Qodarullah Anton tak sedikitpun lupa dengan hafalan Qur'an nya.


Kini Hilya dan Anton telah sah menjadi sepasang suami istri.


Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh paman-paman Hilya dan istrinya, , perawat Anton, umi Anton dan adik Anton, dan penghulu beserta pendampingnya. cukup sedikit. yang penting pernikahan mereka sah secara hukum dan agama.


Meski ini bukan pernikahan pertama untuk mereka berdua, namun tak dipungkiri bahwa Anton dan Hilya sama-sama "nervous".


Setelah menyematkan cincin, Hilya mencium tangan suaminya dan di balas kecupan Anton di kening Hilya. meski dibibir keduanya sama-sama tampak saling tersenyum manis tapi sebenarnya hati mereka sama-sama gugup luar biasa.