
Diruangan yang kurang dari 5 meter itu Hilya duduk ditemani Ibu mertuanya, sebenarnya tidak duduk, karena saat ini Hilya menjadikan pangkuan Ibu mertuanya sebagai alas kepala, tangan sang Ibu tak pernah berhenti mengelus rambutnya yang tertutup hijab
Setelah menangis, mendengar cerita dari Ibu Adnan tentang izin Adnan sebelum menikahi dirinya, Hilya tertidur di pangkuan sang Ibu, Hilya tak menyangka begitu besar cintanya untuk dia dan putri nya
Yang lainya sudah beranjak pulang, Adnan dan sang bapak sedang mencari kelapa muda di pasar, cuaca yang panas, membuat mereka ingin menikmati es kelapa muda
Ibu Adnan pun tak bisa menyusut air mata bahagianya, menatap Hilya yang terlelap dipangkuan nya, Hilya sudi mengunjunginya saja sudah sangat bahagia, apalagi mendapatkan kesempatan untuk memanjakan nya seperti sekarang ini
Di pernikahan pertama Adnan dulu, mereka memang jarang bertemu, tetapi tak menutupi kebaikan hati menantunya itu, dimanapun kesempatan saat bertemu dengan nya, menantunya selalu memperlakukan dirinya dengan hormat dan sayang, tak segan-segan Hilya memberikannya sesuatu baik barang maupun uang.
Memang saat Dengan Hilya dulu Ibu Adnan jarang berbicara panjang lebar, Ibunya yang kurang fasih berbahasa Indonesia, sedang Hilya gak ngerti bahasa jawa, tapi mereka saling menyayangi
" Assalamualaikum!!" salam Adnan dan sang Bapak bersama
" Buk!!" Adnan buru-buru mendekati sang Ibu yang memangku sang istri
" Stttt!!" Ibu Adnan menempelkan jarinya di bibir
"Nak Hilya tidur Lee.. kamu bisa bawa masuk ke kamar, biar Ibu yang bikin es nya"
Adnan menganguk
Pria yang dulunya tak lepas dari baju Koko itu, kini hanya memakai setelan kaos dan celana sirwal
Tangan kokohnya meraup tubuh sang istri dan membawanya kedalam kamar yang disediakan oleh sang Ibu
Adnan memandangi wajah lelap sang istri, mata lentik, bibir sensual, pipi yang kemerahan alami begitu indah ditambah hidung yang mancung Allah maha indah dan mencintai keindahan dan Adnan begitu mengagumi ciptaan Allah dihadapannya ini
Tangan Adnan mengelus pipi istrinya, Adnan tak menyangka tindakan nya membuat istrinya terbangun
" Mas Adnan!!"
" Dek, kok bangun, mas ngeganggu ya??" ucap Adnan merasa bersalah
Memang sejak mereka melakukan hubungan suami istri malam itu, Adnan tak lagi canggung untuk menyentuh istrinya, seperti mengelus ataupun mencium kening sang istri
Hilya tersenyum
Tiba-tiba Hilya mencium tangan Adnan
Hilya tersenyum dalam hati, Adnan dan Anton memang memiliki cinta yang sama untuk nya, Sekarang pun cara mereka memanggil dirinya hampir serupa, Anton yang memanggilnya sayang, dan panggilan manjanya Yang, sedang Adnan pun juga Sayang, tapi didepannya ada embel-embel dek, bisa jadi itu pangilan manja untuknya.
" Gak boleh aku cium tangan suamiku??" tanya Hilya cemberut
Adnan mengeleng
Hilya makin memberengut
" Eh.. maksud mas gak papa!!" Adnan mengelus pipi istrinya yang mengembung
" Mas lama!!" keluh Hilya
hati Adnan sudah tak karuan mendengar kalimat istrinya, apa Hilya tidak betah di rumah orang tua nya, atau sang Ibu membuat Hilya tersinggung atau jangan-jangan..... pikiran Adnan terpatahkan saat Hilya kembali bicara
" Aku sampai tertidur di pangkuan Ibu karena kelamaan ngobrol, aku malu!!"
Adnan bernafas lega
" Mas!!"
" IYa Sayang, tadi mas cari kelapa kopyor di jalan Raya ndarmo"
Hilya menghela napasnya
" Adek Kenapa?? Sayang kurang nyaman disini??" tanya Adnan khawatir
Hilya mendudukkan dirinya, menatap Adnan yang tengah melihatnya khawatir
Adnan merangkak kian mendekat, saat Adnan duduk bersandar bersama sang istri tiba-tiba Hilya merebahkan kepalanya di bahu kokoh sang suami
" Aku nyaman dimanapun, asal berada di sisi mas Adnan!!"
Jantung Adnan seolah berhenti berdetak sepersekian detik mendengar ucapan sang istri.
apa itu berarti Hilya merasa nyaman disisinya??