Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
261.Bahagia



Hilya kembali masuk ke kamar rawat Adnan, terlihat Adnan sedang ditemani sang Ibu, bahkan ada Khansa di sana


" Bunda!!" Khansa menyadari terlebih dulu kehadiran Bunda nya.


" Assalamualaikum" Hilya mengucapkan salam sambil tersenyum, tak ada lagi jejak air mata di pipinya , karena Hilya telah menghapus nya sebelum masuk ke ruang suami nya di rawat.


Adnan, Khansa dan Ibu Adnan menjawab salam Hilya bersama.


" Bunda kok lama??" itu bukan suara Khansa melainkan suara Adnan yang bertanya.


Ada rasa haru yang menerpa kalbu, ada rasa hangat yang menjalar di dada Hilya, perutnya yang kini terisi janin seperti menebar kupu-kupu mendengar pangilan Adnan untuk nya, sepertinya Hilya menyukai pangilan Bunda yang di ucapkan oleh sang suami.


Senyum manis Hilya menembus hati, ini senyum tulus yang penuh makna


Tidak hanya untuk dirinya tapi bagi tiga orang sekeliling nya juga


Hilya mencium tangan Ibu Adnan


" Bapak mana Bu??"


" Ke apotik Nebus vitamin, Adnan sudah di bolehkah pulang, padahal Ibu rasa keadaan nya belum pulih , kenapa dokter sudah izinkan pulang!!" jawab Ibu Adnan seolah khawatir tentang keadaan putra nya, seandainya Hilya tak mengetahui kemungkinan Adnan terkena hamil simpatik, pastilah Hilya juga berfikiran sama seperti Ibu Adnan, karena Hilya masih melihat suaminya yang pucat


" Sudah lebih baik Bu!!" Adnan menenangkan hati Ibu nya.


" Nanti Hilya yang rawat Bu, setelah ini Hilya akan cuti gak keluar-keluar kota lagi kalo ngak kepepet, biar Hilya bekerja lewat online saja, jadi bisa jaga mas Adnan dan juga cucu Ibu". tambah Hilya dalam hati


Adnan terkejut mendengar ucapan istrinya, apa benar Hilya rela cuti demi merawat nya?? jika benar begitu betapa bahagianya Adnan.


" Kita tunggu Bapak, habis ini kita menemui teman Dokter ku yang bertugas di lantai dasar Bu, mas!!" ucap Hilya.


" Kenapa Bunda di ajak Dokter tadi keruangan nya??" tanya Adnan mengapai jari istrinya


Hilya mendekati Adnan yang masih berbaring


" Tidak kenapa-kenapa mas, apa mas Adnan masih mual??" tangan Hilya terulur mengelus Surai hitam Adnan, membuat Adnan tersenyum, Adnan merasa di sayangi oleh istrinya.


" Sedikit, mungkin akan membaik setelah beberapa saat, karena mas baru saja meminum obat anti mualnya!!" Adnan menangkap tangan Hilya yang mengelus kepalanya mengengam erat dan membawa di atas dadanya.


Beberapa saat Bapak Adnan telah kembali membawa vitamin untuk sang anak, sedang peralatan Adnan sudah selesai di rapikan.


Hilya tersenyum dan segera mencium tangan Bapak mertuanya.


Seorang suster membantu Adnan duduk di kursi roda.


" Kita keruang kebidanan dulu sus!!" ucap Hilya yang membuat semua menatapnya Bingung, begitu juga Adnan.


Hilya tersenyum


" Ada teman yang ingin aku temui mas, beberapa jam lalu aku udah janjian ketemuan di sana!!"


Adnan dan yang lainya terlihat percaya dengan ucapan Hilya


Mereka semua berjalan menuju tempat yang di tuju Hilya, di sana terlihat beberapa para Ibu hamil yang sedang mengantri


" Kita tunggu dulu mas, aku dapat nomor antrian 8. ucap Hilya, seandainya Adnan peka pasti dia mengerti mengapa Hilya Menganti jika dirinya bertujuan untuk menemui temannya


" Ibu Hilya Aisyah" panggilan untuk Hilya setelah beberapa menit mengantri


" Mas, Buk, kita masuk dulu ya.. Bapak sama Khansa biar tunggu disini dulu.


Adnan berdiri dari kursi roda nya, seperti biasanya ketika matahari sudah mulai meninggi maka keadaan Adnan membaik, tidak lagi lemas dan mual muntah.


Mereka masuk kedalam ruang kebidanan.


" Selamat siang Hil, sapa Dokter yang seperti nya memang mengenal Hilya.


" Jadi apa keluhannya??" tanya Dokter itu yang membuat Adnan dan Ibunya kebingungan.


" Suami aku mual muntah setiap pagi hari, sampai-sampai harus berakhir di sini".


Terdengar Dokter itu tergelak


" Waw, waw, waw . Suamimu terlalu berempati padamu, sangking Sayang nya sama istri, jarang Lo Hil, ini terjadi 1 dari 100 orang bisa jadi".


Wajah Hilya merona


"Ini??" tanya Dokter pada Adnan dan Ibunya yang duduk di belakang kursi Hilya.


" Suami dan Ibu Aku!!" jelas Hilya pada temannya.


" Hasil tesnya positif??"


Hilya hanya tersenyum, meng iyakan


" Ayok kamu baring ke atas dulu!!" ajak sang Dokter.


Adnan masih belum faham situasi


Hilya mulai membaringkan tubuhnya, Dokter memberinya jel di permukaan perut Hilya, transduser kemudian di tempelkan pada bagian kulit yang sudah di olesi oleh gel, sambil di gerak, gerakan.


" Ini janin nya sudah terlihat, ucap Dokter mulai membaca layar . perkiraan usianya belum genap 4 Minggu, pembuluh darahnya sudah terbentuk, tetapi kita belum bisa mendengar detak jantung nya saat ini, mungkin di USG berikutnya kita sudah bisa mendengar detak jantung si kecil" ucap Dokter menatap layar USG.


" Mas bayi kita" Hilya menatap layar sambil tanganya mengenggam tangan Adnan


Bibir Adnan bergetar, beberapa kali terlihat hendak terbuka, tapi kerap kali urung, cairan bening mengucur tanpa aba-aba.


Adnan terenyuh dengan pemikiran yang memenuhi benaknya, satu yang Ia sadari


ada benihnya yang tumbuh di rahim istrinya


Sedangkan sang Ibu sudah menangis bahagia