Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
121.Tumben



Adnan berjalan dengan langkah lebar membawa baby Akbar ke rumah sakit kota Bojonegoro, karena tak tau kenapa baby Akbar demam tinggi dan kejang-kejang. Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro menjadi tujuan rujuk baby Akbar


Setelah di bawa ke klinik kota Tuban sebelumnya dan kurangnya tenaga medis di masa pandemi akhirnya Adnan membawa baby Akbar di rumah sakit yang lebih besar


Banyak santri yang turut serta membantu Adnan, para Gus juga turut menenangkan Adnan, memberi dukungan baik Dukungan moril maupun dukungan materiil


Di masa-masa seperti ini, fikiran Adnan tertuju pada sang mantan istri, seandainya saja ada Hilya disisinya pasti Adnan tak sekacau ini, Hilya adalah seorang Dokter, sedikit banyak pasti tau apa yang sedang dialami baby Akbar


Pemikiran yang selalu tertuju pada mantannya, membuat Adnan tanpa sadar menghujat ketentuan Allah


Sering terlintas dibenaknya, kenapa sosok Hilya yang begitu mirip dengan Anton justru bisa bersatu??, bukankah harusnya pasangan itu melengkapi?? lantas mengapa seseorang yang sempurna berjodoh pula dengan seseorang yang sempurna pula??


Hilya yang ceria, bertamu dengan Anton yang ceria, satu sifat yang sama, Hilya yang humoris Anton yang humoris dua sifat yang sama Hilya yang memiliki pemikiran baik dan matang begitu juga Anton, bahkan profesi mereka sama sebagai Dokter terkenal kenapa seseorang yang sudah sempurna dipertemukan dengan seseorang yang sama sempurna nya??" lantas dirinya yang tidak sempurna kenapa tidak diberikan jodoh yang sempurna seperti Hilya??"


Adnan melupakan fakta bahwa dirinya pernah diberikan satu kesempurnaan itu untuknya, namun kebodohan lah yang membuat satu kesempurnaan itu memilih pergi, dan saat kesempurnaan itu pergi darinya, Adnan baru menyadari kekurangan nya.


Adnan mengengam ponsel Android miliknya, layar itu menampakkan sebuah nama yang beberapa hari terakhir ini kembali memenuhi hatinya


Hatinya dilema harus menghubunginya atau tidak, hingga pada akhirnya jari jempolnya menekan tombol panggil, Adnan ingin egois kali ini, tanpa menyadari memang dirinya selalu egois saat hidup bersama dengan Hilya


__________


Dilain tempat , Anton dan Hilya sedang berbelanja kebutuhan alat sekolah untuk Zahra dan juga keperluan dapur.


Setelah perbincangan hangat di villa Hilya, akhirnya Anton mencoba berdamai dengan seluruh keadaan, Anton memaafkan kesalahan Abahnya, menerima Zizi sebagai Kaka tirinya dan mengakui Zahra adalah adik perempuan nya selain Dini


Kini ada kelegaan di relung hatin Anton , menyimpan dendam sesungguhnya menyiksa diri sendiri, saat Anton mencoba mengiklaskan segalanya, Anton jauh merasa lebih bahagia, kini tinggal mencari solusi bagaimana Anton bisa meluluhkan hati Umi nya agar mau memaafkan kesalahan Abahnya, setidaknya itu adalah impian terbesar yang di mohonkan oleh pria yang belasan tahun Anton benci, permintaan permohonan maaf dari sang Abah untuk Umi Anton


*********


Hilya tersenyum lembut mengelus rambut Zahra yang terkepang rapi, penampilan Zahra sudah layak dipandang, baju bagus, rambut rapi meski kulitnya masih belum berubah karena panas matahari namun penampilannya sudah seperti anak seusianya, dengan bandana dan sepatu berpita berwarna pink


" Ini namanya brokoli Zahra!!" ucap Hilya terseyum


" Bisa dimakan kak??"


Anton turut terseyum mendengar pertanyaan dari sang adik. " bisa!! mau coba?? kak Hilya pandai memasak capcay kuah dengan sayur brokoli dan wortel ditambah udang hmmmm... Ajip DECH rasanya." ucap Anton dengan bangga nya membayangkan masakan capcay Hilya yang memang rasanya juara


" Mau...!!" kata Zahra dengan mata berbinar


Hilya : " Yaudah, Zahra pilih yang mana yang mau Zahra beli yaa...


Dengan antusias Zahra mengambil dua buah brokoli dan memasukkan nya kedalam troli yang di dorong Anton


Zahra: A, kak.. boleh gak Zahra minta yang panjang-panjang itu, aku suka lihat anak anak beli begitu goreng trus dimakan pake saus sambal"


Baik Anton dan Hilya melihat kearah yang ditujuk oleh Zahra


Anton dan Hilya mengangguk secara bersamaan saat mata mereka melihat arah yang di maksud Zahra yang panjang-panjang itu adalah sosis


Zahra melompat kegirangan, berlari kearah berbagai macam sosis dihadapannya


Sedangkan Hilya menatap ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, Hilya mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang menghubungi nya


Anton melihat kearah Hilya yang sepertinya sedang merasa heran. " kenapa??"


Tanpa menjawab pertanyaan Anton Hilya menunjukan layar ponselnya, baik Anton dan Hilya merasa tumben dengan Adnan yang menghubungi Hilya, biasanya Adnan bila ada perlu menghubungi Anton selaku sahabat dan juga sesama pria tapi ini?? ada apa?? dua kata yang sama-sama terbesit di fikiran Hilya dan Anton