
Anton segera dilarikan ke Rumah sakit, kejadian naas itu terjadi saat mahasiswa yang duduk didekat Anton sedang bermesraan dengan seorang wanita.
Tanpa kedua sejoli itu sadari, sekalinya ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, saat mereka akan berciuman, seorang pria yang mengawasi mereka berjalan cepat menuju pasangan tersebut.
Di ketahui pria itu adalah pacar seorang wanita yang sedang makan bersama gebetannya, sayang pria itu dalam kondisi mabuk.
Saat hendak memukul kepala sang mahasiswa itu dengan botol, mahasiswa itu menghindar tepat disamping tubuh Anton yang sedang asik duduk dengan handset ditelinga nya.
Pria itu mengejarnya dan menghantam kepala mahasiswa itu dengan kuat, naas mahasiswa itu menarik tubuh Anton sebagai tamengnya, hingga pada akhirnya Antonlah yang terkena hantaman botol minuman keras itu, hingga kepalanya bersimbah darah.
.
.
.
Wajah panik Hilya tak dapat ditutupi, Adnan membawa serta sang istri kerumah sakit, tatapan mata Rena begitu menyorot Hilya.
Tampak mata itu menatap Hilya dengan sorot kebencian, ah lucunya dia yang jadi pelakor dia juga yang membenci Hilya.
Hilya tidak mau ambil pusing fokus Hilya tertuju pada kondisi suaminya, sebagai seorang Dokter, Hilya memiliki akses untuk menemui dokter yang tengah menangani Anton.
Adnan terpengkur di kursi tunggu dengan Rena, Adnan tidak curiga dengan hubungan antara Anton dan Hilya , mengingat Hilya seorang Dokter jadi wajar saat terjadi kecelakaan begitu jiwa Hero Hilya tergugah, belum lagi mereka dulu adalah seorang sahabat.
Dokter memberitahukan bahwa Anton telah tenang, kepalanya telah dijahit, Adnan di izinkan masuk keruang UGD, sedangkan Hilya berdiri dibalik ruangan tempat sang suami mendapatkan penanganan.
Netra Hilya memperhatikan dua Pria yang sama-sama memiliki tempat dihatinya, Hilya belum mampu jujur mengatakan status mereka, karena keadaan Anton yang belum pulih.
Hilya melihat Anton memeluk Adnan, kenapa sepertinya Anton berinteraksi dengan baik, Anton tidak meraba-raba wajah sahabatnya ada apa ini??
Dengan langkah gontai Hilya mendekati dua pria itu, Hilya merasakan sesuatu yang berbeda, Anton menatap nya begitu lekat, ada apa??kenapa netra itu seperti sedang memandangnya dengan sesungguhnya??.
Saat Hilya mendekat, tiba-tiba senyum Anton melebar.
"Waaaahh lihatlah saat terluka pun aku dipertemukan dengan kalian berdua."
" Hilary kamu apa kabar?? apa Adnan menjagamu dengan baik?? waah kamu sekarang makin cantik ajah." ucap Anton melirik Adnan dengan senyum mengembang.
Berbeda dengan perasaan Hilya saat Anton menyebut nama lamanya, apa Anton tidak dapat mengenali nya?? apa Anton bisa melihat kembali?? fikiran Hilya berkecamuk tak karuan.
Saat Hilya hendak menjawab pertanyaan Anton tiba-tiba teriakan Rena membuat semua mengalihkan pandangannya termasuk Anton.
"Mas Adnan!!".
Wajah Adnan pucat pasi melihat istri mudanya yang sedang mendekat dengan perut yang mulai membesar.
Wajah Anton seolah menelisik bergantian antara Hilya dan Adnan, namun kemudian ucapan Hilya membuat Anton terdiam.
" Itu istri muda mas Adnan kami sudah lama bercerai." Hilya melihat ekspresi wajah Anton yang tampak begitu terkejut.
Namun kemudian terlihat tangan Anton terkepal erat. "Maaf Hilary, seandainya aku belum menikah aku dengan bahagia akan menjadikan mu milikku, sayang saat ini status ku adalah suami orang."
Adnan tidak terkejut karena Adnan mengira Anton belum bercerai dengan istrinya sebelum Hilya.
Hilya terseyum kecut, tidakkah Anton mengingat dirinya.
"Tidak apa apa Ton aku juga baru menikah dengan seseorang." yaitu kamu lanjut Hilya dalam hati